Kajian Ekonomi Keuangan Regional Provinsi Kepulauan Riau Februari 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
06 Juni 2020

Perekonomian Kepri triwulan IV 2018 kembali tumbuh menguat setelah sebelumnya mengalami perlambatan pada triwulan III 2018. Ekonomi Kepri triwulan IV 2018 tercatat tumbuh sebesar 5,48% (yoy), menguat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 3,74% (yoy). Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2018 didorong oleh perbaikan kinerja konsumsi rumah tangga dan ekspor luar negeri. Sementara dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi didorong oleh perbaikan kinerja industri pengolahan, pertambangan dan perdagangan.

Konsumsi RT pada triwulan IV 2018 tumbuh 4,57% (yoy) lebih baik dibanding triwulan lalu sebesar 3,77%(yoy). Pertumbuhan konsumsi merupakan pola historis menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru dan terkonfirmasi dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Net ekspor tumbuh sebesar 0,69% (yoy) lebih baik dibandingkan triwulan lalu yang terkontraksi 14,60% (yoy). Pertumbuhan net ekspor didorong oleh kinerja ekspor migas yang tumbuh 43,71% (yoy) lebih baik dibandingkan triwulan lalu yang terkontraksi 12,65% (yoy).

Lapangan usaha (LU) industri pengolahan tumbuh menguat pada triwulan IV 2018 terutama dipengaruhi oleh peningkatan ekspor produk dari besi dan baja dan produk perahu, kapal dan struktur terapung lainnya. Pertumbuhan LU perdagangan tercatat mengalami peningkatan pada triwulan IV 2018. Peningkatan kinerja LU perdagangan tercermin dari peningkatan permintaan terjadi seiring dengan pola konsumsi masyarakat yang meningkat disepanjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. Kinerja LU pertambangan dan penggalian pada triwulan IV 2018 mencatatkan pertumbuhan tertinggi sepanjang tahun 2018. Perbaikan kinerja LU pertambangan dan penggalian tercermin dari kinerja ekspor migas luar negeri Kepri yang tercatat tumbuh menguat sebesar 43,71% (yoy), membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 12,65% (yoy)

Pendapatan dan belanja Pemda hingga triwulan IV 2018 telah terealisasi masing-masing sebesar 96,71% dan 91,98% dari total anggaran. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dimana pendapatan dan belanja Pemda pada periode tersebut hanya terealisasi masing-masing sebesar 95,22% dan 90,69% dari total anggaran. Dari sisi pendapatan, Peningkatan realisasi pendapatan daerah tersebut disebabkan oleh peningkatan transfer pemerintah pusat. Adapun dari sisi belanja, peningkatan penyerapan anggaran belanja utamanya disebabkan oleh peningkatan serapan belanja operasi dan modal.

Inflasi Kepri triwulan IV 2018 sebesar 3,47% (yoy) tercatat lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya 3,18% (yoy). Tekanan inflasi tersebut terutama didorong oleh inflasi dari kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan memberikan andil terbesar pada inflasi Kepri yaitu 0,84% dengan tingkat inflasi sebesar 4,10% (yoy). Komoditas utama kelompok ini yang menyumbang inflasi adalah tarif angkutan udara yang terinflasi sebesar 15,34% (yoy) dan andil 0,62%.

Kinerja perbankan Kepri pada triwulan IV 2018 tetap tumbuh walaupun tidak sekuat capaian pada triwulan III 2018. Total aset, total dana dan total kredit perbankan masing-masing tumbuh 3,44% (yoy), 3,97% (yoy) dan 6,33% (yoy). Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang masing-masing tumbuh sebesar 3,49% (yoy), 8,13% (yoy) dan 8,74% (yoy). Tingkat kredit bermasalah di Kepri relatif terjasa sebesar 3,56%. Sementara itu, dari sisi aktivitas penyaluran kredit kepada sektor UMKM untuk triwulan IV 2018 tercatat mengalami pertumbuhan dibandingkan dengan triwulan III 2018.

Menjelang perayaan Hari Raya Natal dan tahun baru, aktivitas pemnbayaran tunai mengikuti pola siklikal tahunan yang mencatatkan net outflow sementara pembayaran non tunai mengalami perbaikan sejalan dengan penguatan pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan IV 2018. Net outflow uang kartal sebesar Rp2,38 Triliun, tumbuh melambat sebesar 6,49% (yoy) dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 20,31% (yoy). Sementara itu, transaksi SKNBI (kliring) pada triwulan IV 2018 tercatat mengalami perbaikan, dimana nominal transaksi dan jumlah warkat terkontraksi masing-masing sebesar 2,68% (yoy) dan 6,04% (yoy), lebih baik dibandingkan triwulan III 2018 yang juga mengalami kontraksi masing-masing sebesar 6,27% (yoy) dan 7,32% (yoy).

Seiring dengan perbaikan pertumbuhan ekonomi Kepri sepanjang tahun 2018, persentase penduduk miskin di Kepri mengalami penurunan. Pada September 2018, jumlah penduduk miskin di Kepri tercatat sebanyak 125.362 orang atau 5,83%. Capaian ini lebih baik dibandingkan periode Maret dimana jumlah penduduk miskin sebanyak 131.676 orang atau 6,20%.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan disumbang oleh penguatan ekspor luar negeri baik itu ekspor migas dan non migas. Investasi akan tetap tumbuh, namun tidak sekuat capaian triwulan IV 2018. Dari sisi lapangan usaha, sektor-sektor utama Kepri yaitu sektor industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, konstruksi maupun perdagangan diperkirakan akan tetap tumbuh namun melambat.

Kepri mencatatkan inflasi pada Januari 2019 sebesar 0,13% (mtm) atau 2,71% (yoy). Tekanan inflasi pada triwulan I 2019 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan realisasi triwulan IV. Seiring dengan berlalunya Hari Natal dan Tahun Baru, konsumsi masyarakat akan melemah sehingga tekanan inflasi pada triwulan I juga melambat. Namun terdapat potensi peningkatan inflasi terutama disumbang oleh komoditas cabai merah

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel