Kajian Ekonomi Keuangan Regional Provinsi Kepulauan Riau - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Januari 2020
​​

Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan III 2018 tercatat tumbuh sebesar 3,74% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 4,51% (yoy). Perlambatan ekonomi pada triwulan ini disebabkan oleh perlambatan kinerja konsumsi rumah tangga dan ekspor luar negeri. Sementara dari sisi lapangan usaha, perlambatan pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh perlambatan kinerja sektor industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan besar. Memasuki triwulan IV 2018, perekonomian Kepri diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 3,6% - 4,1% (yoy). ​​

Konsumsi RT pada triwulan-III tumbuh 3,77% (yoy) lebih rendah dibanding triwulan lalu sebesar 5,68%(yoy). Pelemahan konsumsi rumah tangga tercermin dari impor barang konsumsi yang melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Ekspor luar negeri tumbuh sebesar 5,36% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan lalu yang tumbuh 16,97% (yoy). Perlambatan ekspor terjadi pada komoditas migas dan non migas. Dari sektor non migas, perlambatan ekspor terutama disumbang oleh pelemahan ekspor produk besi dan baja serta kontraksi ekspor CPO. ​​

Sektor industri mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,53% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 3,77% (yoy) disebabkan oleh pelemahan kinerja industri CPO serta Produk Besi dan Baja. Perlambatan kinerja sektor ini terkonfirmasi dari hasil SKDU (Survei Kegiatan Dunia Usaha) dengan hasil menurun di triwulan III 2018. Sektor konstruksi tumbuh melambat sebesar 9,19% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan lalu sebesar 9,43% (yoy). Perlambatan sektor konstruksi terkonfirmasi dari hasil SKDU sektor bangunan. Sektor perdagangan tumbuh sebesar 5,28% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan lalu yang tumbuh sebesar 6,56% (yoy). Perlambatan sektor perdagangan sejalan dengan penurunan kinerja konsumsi rumah tangga. ​​

Pendapatan dan belanja Pemda hingga triwulan III 2018 telah terealisasi masing-masing sebesar 66,69% dan 55,06% dari total anggaran. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dimana pendapatan dan belanja Pemda pada periode tersebut hanya terealisasi masing-masing sebesar 64,76% dan 53,62% dari total anggaran. Dari sisi pendapatan, peningkatan realisasi pendapatan Pemda didorong oleh peningkatan realisasi pada pos pendapatan asli daerah, dana perimbangan, serta lain-lain pendapatan daerah yang sah. Adapun dari sisi belanja, peningkatan penyerapan anggaran belanja utamanya disebabkan oleh peningkatan realisasi serapan pada pos belanja operasi, belanja modal, serta belanja tak terduga. ​​

Capaian inflasi Kepri triwulan III 2018 sebesar 3,18% (yoy) tercatat lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya 4,06% (yoy). Meredanya tekanan inflasi tersebut dipengaruhi turunnya tingkat inflasi kelompok bahan makanan, perumahan, sandang, pendidikan dan transportasi yang lebih rendah dibandingkan triwulan lalu sehingga capaian inflasi Kepri masih berada dalam sasaran inflasi Nasional 3,5 ± 1% (yoy). Kelompok bahan makanan memdiliki andil terbesar pada inflasi Kepri yaitu 1,09% dengan tingkat inflasi sebesar 5,02% (yoy). Komoditas beras dan daging ayam ras memberikan andil tertinggi inflasi kelompok bahan makanan. ​​

Kinerja perbankan Kepri pada triwulan III 2018 tumbuh menguat dibandingkan triwulan sebelumnya, tercermin dari peningkatan pertumbuhan kredit serta Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh masing-masing sebesar 8,74% (yoy) dan 8,13% (yoy), sedangkan aset tercatat mengalami perlambatan sebesar 3,50% (yoy). Stabilitas keuangan daerah relatif tetap terjaga walaupun pertumbuhan ekonomi melambat. Tingkat kredit bermasalah di Kepri tercatat membaik pada triwulan III 2018 yaitu sebesar 3,38% dan merupakan tingkat NPL terendah dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir. Sementara itu, dari sisi aktivitas penyaluran kredit kepada sektor UMKM pada triwulan laporan tercatat mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan II 2018. ​​

Pasca berlalunya perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yaitu bulan Ramadhan dan Lebaran yang jatuh pada triwulan II 2018, aktivitas transaksi pembayaran tunai pada triwulan III 2018 kembali normal. Net outflow uang kartal sebesar Rp 1,8 Triliun, tumbuh cukup signifikan yaitu sebesar 194,07% (yoy) dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang terkontraksi sebesar 20,12% (yoy). Sementara itu, transaksi SKNBI (kliring) pada triwulan III 2018 tercatat mengalami perlambatan, dimana nominal transaksi dan jumlah warkat terkontraksi masing-masing sebesar 6,27% (yoy) dan 7,32% (yoy), melambat dibandingkan triwulan II 2018 yang juga mengalami kontraksi masing-masing sebesar 2,42% (yoy) dan 1,82% (yoy). ​​

Capaian indikator ketenagakerjaan pada Agustus 2018 tercatat melambat dibandingkan capaian pada posisi Februari 2018. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan jumlah pengangguran yang memicu peningkatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2018 dari 6,43% menjadi 7,12% pada Agustus 2018. Adapun jumlah angkatan kerja pada Agustus 2018 adalah sebesar 970,132 orang, tumbuh melambat sebesar 0,42% (yoy) dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah angkatan kerja pada Agustus tahun lalu sebesar 3,72% (yoy) dengan jumlah angkatan kerja sebesar 966,091 orang. ​​

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan disumbang oleh penguatan konsumsi rumah tangga menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Investasi akan tetap tumbuh walaupun tidak sekuat pada triwulan-III. Sementara dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan didorong oleh membaiknya kinerja sektor konstruksi dan perdagangan besar dan eceran. Kinerja sektor konstruksi akan didukung oleh pembangunan hotel dan apartemen di Batam, resort di Bintan serta proyek strategis pemerintah yang saat ini masih dalam proses pembangunan. Sementara perbaikan kinerja sektor perdagangan besar dan kecil disebabkan oleh peningkatan konsumsi menjelang Hari Natal dan Tahun Baru. ​​

Kepri mencatatkan inflasi pada Oktober 2018 sebesar 0,16% (mtm) atau 2,70% (yoy). Tekanan inflasi pada triwulan-IV 2018 diperkirakan akan lebih kuat dibandingkan realisasi triwulan-III. Berdasarkan pola historikal, permintaan akan meningkat menjelang Hari Natal dan Tahun Baru dan akan mendorong peningkatan harga beberapa komoditas bahan makanan dan tarif angkutan udara. Selain itu, angin musim utara akan menyebabkan kelangkaaln ikan laut dan akan berdampak pada peningkatan infalsi pada triwulan-IV 2018.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel