Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Timur November 2018​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Januari 2020

Perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim) triwulan III 2018 tumbuh 1,78% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Kaltim lebih rendah dibandingkan pencapaian nasional sebesar 5,17% (yoy). Dari sisi lapangan usaha, ekonomi yang tumbuh lebih rendah disebabkan oleh deselerasi industri pengolahan. Penurunan pasokan gas mentah untuk industri LNG menyebabkan kinerja lapangan usaha ini menurun. Lapangan usaha konstruksi juga mengalami perlambatan seiring dengan keterbatasan fiskal pemerintah untuk mengakselerasi proyek infrastruktur. Namun demikian, kinerja pertambangan menjadi faktor utama penahan laju perlambatan ekonomi Kaltim. Cuaca yang relatif kering pada triwulan III menjadi momentum bagi pelaku usaha tambang untuk mengoptimalkan produksi. Di sisi pengeluaran, perlambatan ekonomi bersumber dari komponen investasi. Sejalan dengan konstruksi yang melambat maka investasi untuk pembangunan mengalami perlambatan. Impor luar negeri juga mengalami akselerasi akibat harga minyak dunia yang meningkat. Kinerja ekspor luar negeri mengalami akselerasi pada triwulan III 2018. Harga batubara yang tinggi serta peningkatan permintaan dari India menyebabkan ekspor Kaltim tumbuh positif.

Sementara itu, tekanan inflasi Kaltim pada triwulan III 2018 tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, namun tetap stabil dan terkendali. Inflasi Kaltim pada triwulan III 2018 tercatat 3,61% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2018 sebesar 2,60% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi Kaltim triwulan III 2018 utamanya dipengaruhi oleh kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan.

Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Kaltim triwulan I 2019 tetap tumbuh positif namun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Deselerasi pertumbuhan ekonomi Kaltim triwulan I 2019 dipengaruhi oleh kinerja seluruh lapangan usaha utama. Di lapangan usaha pertambangan non-migas, normalisasi permintaan negara mitra dagang utama pasca berakhirnya musim dingin diperkirakan menjadi faktor utama perlambatan kinerja lapangan usaha ini. Lebih lanjut, kebijakan restriksi impor batubara di beberapa pelabuhan Tiongkok diperkirakan masih terus berlanjut di tahun 2019. Dari sisi pengeluaran, kontraksi pertumbuhan ekspor luar negeri dan deselerasi kinerja komponen lainnya menjadi penyebab perlambatan ekonomi Kaltim di triwulan I 2019.

Bank Indonesia terus mengamati berbagai indikator makroekonomi global, nasional dan regional serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi. Dengan stabilitas makroekonomi yang terjaga, perekonomian Kaltim akan dapat tumbuh pada tingkat yang lebih tinggi secara berkesinambungan.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel