Kajian Ekonomi Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Utara November 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
24 November 2020

Perkembangan Ekonomi Makro Daerah
Perekonomian Kaltara pada triwulan III 2017 kembali mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Ekonomi Kaltara pada triwulan III 2017 tumbuh 6,6% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan II 2017 yang tercatat 6,5% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Kaltara tersebut sesuai dengan proyeksi sebelumnya. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi Kaltara merupakan yang tertinggi di Kalimantan dan secara berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh 5,1% (yoy).

Dari sisi pengeluaran, meningkatnya kinerja ekspor luar negeri dan konsumsi pemerintah memberikan sumbangan positif terhadap peningkatan ekonomi Kaltara pada triwulan III 2017. Ekspor luar negeri Kaltara triwulan III 2017 tumbuh positif seiring dengan masih tingginya harga komoditas batubara internasional dan didukung oleh meningkatnya nilai ekspor produk perkebunan dan kehutanan.

Berdasarkan lapangan usaha, peningkatan ekonomi Kaltara pada triwulan III 2017 didorong oleh lapangan usaha pertambangan dan pertanian. Lapangan usaha pertambangan tumbuh stabil pada triwulan III 2017 dampak dari masih tingginya harga internasional komoditas mineral non migas. Sementara itu, lapangan usaha pertanian tumbuh lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya didorong oleh peningkatan kinerja sub sektor kehutanan dan perkebunan.

Perekonomian Kaltara triwulan IV 2017 diperkirakan tumbuh terbatas pada level 6,30-6,70% (yoy), sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Berdasarkan asesmen dan evaluasi terhadap kondisi perekonomian triwulan I sampai dengan III 2017, ekonomi Kaltara tahun 2017 diperkirakan tumbuh pada level 6,20-6,60% (yoy) lebih baik dibandingkan tahun 2016.

Keuangan Pemerintah Daerah
Realisasi pendapatan fiskal Pemprov Kaltara pada triwulan III 2017 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan data Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemprov Kaltara, Realisasi pendapatan Pemprov Kaltara triwulan III 2017 mencapai Rp1,57 triliun atau 67,06% dari total APBD TA 2017. Secara nominal, realisasi pendapatan Pemprov Kaltara triwulan III 2017 mengalami peningkatan sebesar Rp44,88 miliar dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp1,52 triliun.

Sementara itu, realisasi belanja Pemprov Kaltara triwulan III 2017 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi belanja Pemprov Kaltara triwulan III 2017 mencapai Rp1,23 triliun atau 41,40% dari APBD TA 2017. Realisasi tersebut mengalami penurunan sebesar Rp92,74 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp1,33 triliun. Penurunan realisasi belanja APBD disebabkan penurunan realisasi pada belanja modal, terutama pada pos belanja jalan, irigasi dan jaringan. Sementara itu, realisasi belanja operasional mengalami peningkatan disumbang oleh pos belanja pegawai dan belanja hibah.

Perkembangan Inflasi Daerah
Inflasi Kaltara triwulan III 2017 tercatat 3,61% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,39% (yoy). Penurunan inflasi Kaltara tersebut sejalan dengan inflasi nasional yang turut mengalami penurunan dari 4,37% (yoy) pada triwulan II 2017 menjadi 3,72% (yoy) di triwulan III 2017. Secara historis inflasi Kaltara triwulan III 2017 masih lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi Kaltara 3 tahun terakhir. Secara spasial di wilayah Kalimantan, Inflasi Kaltara triwulan III lebih rendah dibandingkan dengan dengan inflasi Kalimantan dan merupakan provinsi dengan angka inflasi paling rendah di wilayah Kalimantan.

Berdasarkan disagregasinya, meredanya tekanan inflasi pada kelompok volatile food dan administered prices menjadi penyebab menurunnya inflasi Kaltara triwulan III 2017. Inflasi kelompok volatile food pada triwulan III 2017 tercatat 5,37% (yoy), lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya sebesar 7,55% (yoy). Meredanya tekanan inflasi pada kelompok volatile food didorong oleh kenaikan pasokan di beberapa komoditas pangan strategis. Selain itu, inflasi kelompok administered prices tercatat 3,45% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,50% (yoy). Penurunan angka inflasi pada kelompok ini terutama disebabkan penurunan tarif angkutan udara dampak dari normalisasi permintaan masyarakat terhadap transportasi udara pasca hari raya Idul Fitri dan mudik Lebaran. Lebih lanjut, inflasi kelompok inti turut mengalami sedikit penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya yang sejalan dengan pertumbuhan konsumsi RT pada PDRB yang juga tercatat sedikit melambat pertumbuhannya.

Di triwulan IV 2017, inflasi Kaltara diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya berada pada rentang 2,90 - 3,30% (yoy). Beberapa risiko yang dapat menjadi faktor pendorong inflasi di akhir tahun 2017 antara lain, lain (a) risiko cuaca dan gelombang tinggi di wilayah perairan Kalimantan Utara yang akan berdampak pada hasil tangkapan ikan, (b) kenaikan harga BBM sejalan dengan mulai naiknya harga minyak dunia, (c) risiko lonjakan harga bahan pangan dan kenaikan permintaan tiket pesawat dalam rangka persiapan datangnya hari Natal dan Tahun Baru dan (d) risiko berkurangnya pasokan pada komoditas pangan strategis pasca berakhirnya musim panen.​

Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
Indikator stabilitas keuangan daerah Kaltara tumbuh lebih baik pada triwulan III 2017 menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan DPK perbankan Kaltara semakin membaik yang tercatat tumbuh 6,63% (yoy), meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya sebesar 0,45% (yoy). Peningkatan pertumbuhan DPK tersebut terjadi di seluruh komponen DPK yaitu Giro, Tabungan dan Deposito. Sementara itu, fungsi intermediasi perbankan di Kaltara menunjukan perbaikan, ditunjukkan dari penyaluran kredit oleh perbankan Kaltara yang tumbuh 14,3% (yoy) lebih baik dari triwulan sebelumnya sebesar 12,8% (yoy). Penyaluran kredit di wilayah Kaltara memiliki risiko kredit yang rendah, tercermin dari rasio NPL yang terjaga pada level 1,33% lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya.

Pangsa kredit UMKM di wilayah Kaltara memberikan kontribusi sebesar 30,81% terhadap total kredit di Kaltara pada triwulan III 2017. Rasio tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 32,09%. Capaian tersebut melampaui kewajiban pemenuhan rasio kredit atau pembiayaan UMKM terhadap total portofolio kredit perbankan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/12/PBI/2015 yakni sebesar 15%. Sedangkan risiko kredit UMKM di Kaltara masih pada batas wajar, tetapi lebih besar dibandingkan risiko kredit secara umum yaitu sebesar 3,09%. Risiko kredit UMKM di Kaltara tersebut sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang masih tercatat sebesar 3,07%.

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Pada triwulan III 2017, transaksi yang menggunakan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) di wilayah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mengalami peningkatan dibandingkan triwulan II 2017. Nominal transaksi SKNBI triwulan III 2017 tercatat Rp 1,030 triliun atau meningkat sebesar 2,22% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2017 yang mengalami kontraksi sebesar -32,42% (yoy). Peningkatan ini juga diiringi secara volume transaksi, dimana transaksi via SKNBI di Kaltara tercatat sejumlah 37.227 transaksi, meningkat 9,07% (yoy) dibandingkan periode sebelumnya sejumlah 35.884 transaksi.

Jumlah uang kartal yang beredar di Provinsi Kaltara selama triwulan III 2017 mengalami net outflow sebesar Rp 105,684 miliar. Secara nominal, nilai transaksi outflow di Kaltara pada triwulan III 2017 mencapai Rp 288,262 miliar. Sementara itu, nilai transaksi inflow tercatat Rp 182,579 miliar. Aliran outflow yang signifikan pada triwulan III didorong oleh peningkatan aliran uang keluar dari Bank Indonesia ke perbankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Jumlah angkatan kerja di wilayah Kaltara mengalami peningkatan pada Agustus 2017. Meningkatnya jumlah angkatan kerja juga didukung oleh kenaikan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. TPAK Kaltara meningkat dari 62,40% pada Agustus 2016 menjadi 68,24% pada Agustus 2017. Meningkatnya TPAK disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk usia 15 tahun keatas lebih besar dibandingkan dengan peningkatan jumlah angkatan kerja.

Sementara itu, tingkat pengangguran Kaltara Agustus 2017 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat dari 5,23% pada tahun Agustus 2016 menjadi 5,54% pada Agustus 2017. Meningkatnya TPT Kaltara disebabkan karena pertumbuhan jumlah penganggur periode Agustus 2017 lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah angkatan kerja yang mendapatkan pekerjaan pada periode survei tersebut. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi belum ditopang oleh sektor usaha yang menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Prospek Perekonomian Daerah
Perekonomian Kaltara pada triwulan I 2018 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,40% - 5,80% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dari sisi lapangan usaha, melambatnya ekonomi Kaltara bersumber dari perlambatan kinerja lapangan usaha pertambangan, konstruksi dan perdagangan. Sementara di sisi penawaran, perlambatan terutama berasal dari kinerja ekspor luar negeri dan investasi yang melambat pada awal tahun.

Secara kumulatif tahunan, ekonomi Kaltara tahun 2018 diperkirakan akan tumbuh sedikit lebih baik dibandingkan dengan range sebesar 6,30% - 6,70% (yoy). Peningkatan diperkirakan berasal dari sektor konstruksi bangunan sejalan dengan maraknya proyek strategis dan infrastruktur di sepanjang tahun 2018. Selain itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan akan tumbuh meningkat yang didorong oleh perbaikan ekonomi dan tersedianya lapangan kerja seiring dengan pembangunan proyek strategis di berbagai wilayah di Kaltara. Di sisi lain, ekspor luar negeri diperkirakan tumbuh terbatas yang diproyeksikan terjadi pada komoditas batubara yang menguasai pangsa ekspor Kaltara sebagai dampak dari tren perlambatan harga batubara internasional.

Risiko tekanan inflasi Kaltara sepanjang tahun 2018 diperkirakan mengalami peningkatan terutama pada kelompok administered prices. Meningkatnya tren harga minyak mentah dunia diperkirakan akan mendorong tekanan harga energi nasional dan dapat berdampak terhadap penyesuaian harga BBM. Selain itu, tarif angkutan udara diperkirakan akan kembali menjadi penyumbang inflasi Kaltara sejalan dengan meningkatnya daya beli masyarakat yang berpengaruh terhadap permintaan moda transportasi udara serta banyaknya event tingkat nasional yang diadakan di Kota Tarakan.

Tekanan inflasi pada 2018 juga diperkirakan didorong oleh kelompok volatile foods. Faktor historis dan musiman di Kaltara yang selalu mengalami kenaikan harga pangan pada setiap akhir tahun akan menjadi salah satu penyebab utama kenaikan harga kelompok volatile foods. Selain itu, faktor cuaca, konektivitas dan pasokan komoditas pangan yang mayoritas didatangkan dari luar Kaltara diperkirakan juga menjadi sumber pendorong kenaikan harga pangan.

Berdasarkan asesmen terhadap risiko selama tahun 2017, inflasi Kaltara pada triwulan I 2018 diperkirakan dalam kisaran 2,90% – 3,30% (yoy). Sedangkan inflasi Kaltara keseluruhan tahun 2018 diperkirakan mencapai 3,80-4,20% (yoy) atau masih berada dalam sasaran target inflasi nasional tahun 2018, yaitu pada kisaran 3,5+1% (yoy).

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel