<p>Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Selatan Mei 2017</p> - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 September 2020

Perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan I-2017 tumbuh sebesar 5,33% (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya (5,28%, yoy). Peningkatan pertumbuhan utamanya bersumber dari meningkatnya konsumsi RT dan investasi. Sementara itu ekspor tumbuh melambat, sejalan dengan koreksi harga batubara.

Dari sisi penawaran, peningkatan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan I-2017 utamanya didorong oleh meningkatnya kinerja sektor industri pengolahan serta sektor transportasi dan komunikasi. Sektor pertambangan turut tumbuh meningkat, namun lebih bersifat base effect terhadap tekanan ekspor pada triwulan yang sama tahun lalu. Sementara itu sektor lainnya secara umum tumbuh melambat

Realisasi serapan pendapatan Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan I-2017 tercatat 23,28% dari target APBD 2017, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 26,23%. Lebih rendahnya serapan pendapatan terkait masih terbatasnya kapasitas fiskal yang mempengaruhi besaran dana transfer dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah. Sejalan dengan realisasi serapan pendapatan, realisasi serapan belanja daerah APBD Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan I-2017 tercatat sebesar 13,50% dari target APBD 2017, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I-2016 yang tercatat sebesar 14,70%. Lebih rendahnya serapan belanja ditengarai karena masih berlangsungnya konsolidasi terkait reorganisasi Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD)

Laju inflasi tahunan pada triwulan I-2017 tercatat sebesar 4,02%(yoy), meningkat dibandingkan triwulan IV-2016 yang sebesar 3,57% (yoy). Peningkatan inflasi tahunan utamanya bersumber dari meningkatnya komponen administered prices, khususnya dari angkutan udara, komoditas tarif listrik, dan perpanjangan STNK, seiring dengan kebijakan Pemerintah mengenai penghapusan subsidi listrik 900VA dan kenaikan biaya perpanjangan STNK yang terjadi pada Januari 2017. Laju inflasi ditahan oleh meredanya tekanan inflasi komponen volatile foods pada triwulan-I 2017 didukung produksi yang meningkat dan pasokan yang terjaga dengan baik.

Pertumbuhan kredit perbankan berdasarkan lokasi proyek pada triwulan I-2017 tercatat sebesar Rp52,08 triliun atau tumbuh 1,98% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 0,91% (yoy). Membaiknya pertumbuhan kredit sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, utamanya bersumber dari peningkatan kredit modal kerja. Membaiknya pertumbuhan kredit diikuti juga dengan perbaikan kualitas kredit yang tercermin pada penurunan NPL.

Nilai transaksi kliring pada triwulan I-2017 tercatat sebesar Rp3,50 triliun atau terkontraksi 4,71% (yoy), membaik dari triwulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 13,73%(yoy). Dalam pengelolaan uang rupiah, aliran transaksi perkasan Bank Indonesia Kalimantan Selatan pada triwulan I-2017 mengalami aliran bersih masuk (net inflow) sebesar Rp1,77 triliun sesuai dengan pola musiman awal tahun seiring konsumsi masyarakat yang berangsur normal setelah libur tahun baru yang juga berbarengan dengan libur sekolah.

Senada dengan kinerja perekonomian yang meningkat, kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan I-2017 menunjukkan perbaikan. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kalimantan Selatan bulan Februari 2017 tercatat sebesar 3,53%, lebih rendah dari bulan yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 3,63%. Daya beli masyarakat terindikasi masih tertahan sebagaimana terindikasi pada hasil survei konsumen mengenai tekanan inflasi dan indeks penghasilan konsumen.

Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan III-2017 diprakirakan tumbuh tertahan seiring dengan berlanjutnya penyesuaian permintaan ekspor batubara dari Tiongkok. Hal tersebut juga tercermin dari proyeksi harga batubara yang trennya akan kembali menurun pada triwulan III-2017. Inflasi IHK Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan III-2017 diprakirakan lebih tinggi namun masih terkendali, seiring dengan adanya tahapan penyesuaian tarif listrik serta kemungkinan pemberlakuan kenaikan harga BMM dan elpiji 3 kg. Adanya Hari Raya Iedul Adha pada bulan September juga kembali berpotensi meningkatkan tekanan permintaan.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel