KEKR Provinsi Jawa Timur Februari 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Agustus 2020

​​Ekonomi Jawa Timur pada triwulan IV 2018 tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya maupun kinerja perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan IV 2018 mencapai 5,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan capaian triwulan III 2018 (5,4% yoy) maupun kinerja pertumbuhan nasional (5,2% yoy). Dibandingkan dengan provinsi di Pulau Jawa, kinerja perekonomian Jawa Timur pada periode ini hanya lebih baik dibandingkan Jawa Barat maupun Jawa Tengah. Secara kumulatif, kinerja ekonomi Jawa Timur tahun 2018 tumbuh meningkat sebesar 5,50% (yoy) dibandingkan 5,46% (yoy) pada tahun 2017.

Akselerasi kinerja ekonomi Jawa Timur pada triwulan IV 2018 didorong oleh peningkatan kinerja konsumsi swasta, konsumsi pemerintah, serta perlambatan pertumbuhan impor luar negeri. Sementara itu peningkatan kinerja pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang lebih tinggi tertahan oleh perlambatan investasi, perlambatan kinerja ekspor serta perdagangan antardaerah. Dari sisi penawaran, peningkatan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur didorong oleh peningkatan pertumbuhan sektor Pertanian dan sektor Konstruksi. Namun demikian, laju pertumbuhan yang lebih tinggi tertahan oleh deselerasi sektor Industri Pengolahan serta sektor Perdagangan.

Inflasi Jawa Timur pada akhir triwulan IV 2018 mencapai 2,86% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan triwulan III 2018 yang tercatat sebesar 2,75% (yoy), namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi Nasional (3,13%-yoy). Peningkatan inflasi Jawa Timur didorong oleh peningkatan tekanan inflasi inti maupun administered prices seiring pola musiman konsumsi yang meningkat di akhir tahun. Sementara itu berdasarkan kelompok barang dan jasa, peningkatan inflasi kelompok transportasi dan bahan makanan mendorong peningkatan inflasi Jawa Timur. Dibandingkan provinsi lain di kawasan Jawa, inflasi Jawa Timur merupakan yang terendah ketiga setelah DIY dan Jawa Tengah. Lebih lanjut, dari 8 (delapan) kota di Jawa Timur yang dihitung inflasinya, Surabaya mencatat inflasi tertinggi, yakni 3,03% (yoy), sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Kediri (1,97%, yoy).

Stabilitas sistem keuangan Jawa Timur triwulan IV 2018 masih terjaga. Kinerja sektor korporasi membaik, sementara kinerja sektor rumah tangga masih kuat. Terjaganya kinerja korporasi tercermin dari masih positifnya pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan dan kinerja ekspor luar negeri yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2017, serta meningkatnya kinerja keuangan khususnya pada aspek produktivitas, profitabilitas, solvabilitas maupun likuiditas. Dari sisi eksposur korporasi pada perbankan, terdapat perlambatan penyaluran kredit maupun penghimpunan DPK korporasi, namun diiringi dengan menurunnya risiko kredit (NPL korporasi turun dari 4,36% menjadi 3,63%).

Kinerja sektor rumah tangga (RT) juga masih baik, seiring dengan meningkatnya pertumbuhan konsumsi RT dalam PDRB Jawa Timur. Masih kuatnya kinerja sektor RT tercermin diantaranya dari masih tingginya komposisi konsumsi dalam pengeluaran RT (67,86%) serta penurunan jumlah RT yang tidak memiliki pinjaman (dari 45,12% menjadi 44,27%). Jumlah simpanan RT pada perbankan juga meningkat seiring dengan kenaikan suku bunga DPK, sedangkan risiko kredit RT membaik (NPL RT turun dari 1,54% menjadi 1,35%). Hal ini menunjukkan ketahanan sektor RT yang masih baik.

Fungsi intermediasi perbankan yang tercermin dari ​loan to deposit ratio (LDR) di Jawa Timur pada triwulan IV 2018 membaik, didorong peningkatan kredit investasi. Penghimpunan DPK perbankan juga meningkat khususnya pada komponen giro dan deposito seiring dengan kenaikan suku bunga DPK. Dari sisi risiko, risiko kredit turun tercermin dari membaiknya NPL. Sementara itu, risiko likuiditas juga relatif terjaga. Peningkatan LDR perbankan dimitigasi dengan kecukupan likuiditas dalam bentuk penempatan pada Bank Indonesia maupun penyediaan kas yang cukup.

Pergerakan inflow (uang masuk) dan outflow (uang keluar) di Jawa Timur dalam posisi net inflow sebesar Rp7,72 triliun, turun 18,53% dibanding triwulan IV 2018. Hal tersebut sejalan dengan penurunan inflow menjadi Rp21,66 triliun (dari Rp28,93 triliun) dan penurunan outflow menjadi Rp13,94 triliun (dari Rp19,46 triliun). Sementara itu, transaksi non tunai melalui SKNBI mengalami peningkatan secara nominal menjadi Rp27,96 triliun (naik 6,86%-qtq) dan secara volume naik menjadi 694 ribu lembar (naik 5,01%-qtq). Apabila dibandingkan dengan triwulan IV 2017, transaksi melalui kliring mengalami penurunan secara nominal sebesar Rp0,64 triliun (2,25%-yoy) dan penurunan volume sebesar 0,07 juta lembar (8,66%-yoy).

Kondisi ketenagakerjaan pada Agustus 2018 lebih baik dibandingkan Agustus 2017, ditunjukkan oleh turunnya jumlah pengangguran di tengah meningkatnya jumlah Angkatan Kerja, sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 4,00% menjadi 3,99%. Peningkatan jumlah Angkatan Kerja diikuti dengan dengan peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dari semula 68,78% pada Agustus 2017 menjadi 69,37% pada Agustus 2018. Indikator kesejahteraan lainnya, yaitu jumlah penduduk miskin tercatat semakin berkurang. Pada September 2018 jumlah penduduk miskin di Jawa Timur sebanyak 4,29 juta jiwa, turun 2,57% dibandingkan September 2017 (4,41 juta jiwa). Secara persentase, pada September 2018 jumlah penduduk miskin di Jawa Timur sebesar 10,85%. Angka tersebut menurun dibandingkan September 2017 yang mencapai 11,20%. Persentase penduduk miskin di Jawa Timur tersebut lebih rendah dibandingkan beberapa provinsi di Pulau Jawa, seperti D.I Yogyakarta (11,81%) dan Jawa Tengah (11,19%).

Di sepanjang tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Jawa Timur diperkirakan mencapai 5,3-5,7% (yoy), stabil dibandingkan tahun 2018. Peningkatan perekonomian Jawa Timur diperkirakan bersumber dari peningkatan konsumsi swasta dan pemerintah seiring pelaksanaan Pemilihan Umum serentak tahun 2019, namun tertahan oleh perlambatan ekspor dan investasi. Tekanan inflasi Jawa Timur di tahun 2019 diperkirakan berada dalam sasaran inflasi 3,5+1% (yoy) dan sedikit meningkat dibandingkan capaian tahun 2018. Peningkatan terbesar inflasi didorong oleh inflasi inti seiring peningkatan konsumsi, sementara laju inflasi lebih tinggi tertahan oleh perlambatan inflasi volatile food maupun administered prices.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel