KEKR Provinsi Jawa Timur Mei 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Agustus 2020

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Perekonomian Jawa Timur pada Triwulan I 2017 tumbuh 5,4% (yoy), melambat dibandingkan triwulan IV 2016 (5,5%). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan Nasional (5,0%) dan tertinggi ketiga setelah DKI Jakarta (6,5% yoy) dan Banten (5,9% yoy).

Di sisi permintaan, perlambatan ekonomi Jawa Timur disebabkan oleh pelemahan Ekspor Luar Negeri dan Konsumsi Swasta. Ekspor Luar Negeri Jawa Timur yang terkontraksi pada triwulan ini didorong melemahnya permintaan negara mitra dagang utama serta implementasi pajak ekspor untuk komoditas emas. Sementara kenaikan berbagai tarif administered prices menahan laju konsumsi swasta di triwulan ini. Perlambatan yang lebih dalam tertahan oleh kinerja Net Ekspor Dalam Negeri dan investasi yang mengalami akselerasi dibandingkan triwulan lalu. Akselerasi kinerja Net Ekspor Dalam Negeri didorong oleh peningkatan kinerja sektor pertanian dan peningkatan permintaan mitra dagang domestik. Sementara, tingginya kinerja investasi didorong oleh upaya peningkatan kapasitas utilisasi dan pembangunan infrastruktur yang masih berlangsung.

Dari sisi penawaran, perlambatan kinerja industri pengolahan sebagai dampak turunnya ekspor industri akibat permintaan mitra dagang luar negeri utama yang menurun, menjadi penyebab melambatnya ekonomi Jawa Timur. Perlambatan yang lebih dalam tertahan oleh kinerja sektor pertanian yang membaik akibat berlangsungnya panen raya padi serta akselerasi kinerja sektor perdagangan sejalan dengan peningkatan permintaan mitra dagang domestik.

Asesmen Inflasi Daerah

Pada akhir triwulan I 2017, inflasi Jawa Timur mencapai 3,85% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (2,74%, yoy), dan lebih tinggi daripada periode yang sama tahun 2016 (3,71%, yoy). Inflasi yang cukup tinggi tersebut didorong oleh meningkatnya tekanan inflasi administered prices dari -1,13% (yoy) menjadi 6,51% (yoy) pada triwulan I 2017, akibat penyesuaian tarif listrik dan BBM non subsidi, peningkatan biaya perpanjangan STNK, serta harga rokok seiring dengan peningkatan tarif cukai rokok di awal tahun.

Inflasi kelompok volatile food yang rendah didorong oleh deflasi beras, tomat sayur, serta daging ayam ras. Deflasi beras terjadi seiring dengan melimpahnya pasokan saat panen raya. Sementara itu peningkatan inflasi kelompok core inflation terutama didorong oleh kelompok core non tradable, terutama tarif pulsa ponsel, biaya akademi/perguruan tinggi, serta sewa rumah.

Dari 8 (delapan) kabupaten/kota di Jawa Timur yang dihitung inflasinya oleh BPS, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Surabaya (4,43%, yoy) dan terendah di Banyuwangi (1,90%, yoy). Tingginya inflasi di Kota Surabaya pada triwulan I 2017 ditengarai karena tingginya tingkat konsumsi makanan, minuman, dan tembakau pada wilayah tersebut.

Asesmen Stabilitas Keuangan Daerah

Stabilitas sistem keuangan Jawa Timur triwulan I 2017 cukup terjaga di tengah tekanan yang dialami sektor korporasi dan Rumah Tangga (RT). Kinerja korporasi lapangan usaha utama Jawa Timur yakni lapangan usaha industri pengolahan melambat karena stagnannya konsumsi serta turunnya kinerja ekspor komoditas unggulan Jawa Timur. Akibatnya, kredit korporasi turut melambat dari 5,95% (yoy) menjadi 3,94% (yoy), yang diikuti peningkatan NPL Korporasi dari 3,77% menjadi 4,17%.

Di sisi lain, kondisi RT cukup baik tercermin melalui peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), meskipun konsumsi masyarakat belum cukup kuat karena tekanan inflasi dan pelemahan kinerja sektor utama (lapangan usaha industri pengolahan) yang berpotensi menurunkan penghasilan. Permintaan kredit RT meningkat pada periode laporan, meskipun repayment capacity relatif turun yang tercermin pada memburuknya rasio Non Performing Loan (NPL).

Walaupun menghadapi tantangan pelemahan ekonomi, kinerja perbankan Jawa Timur triwulan I 2017 membaik tercermin pada peningkatan aset, kredit dan DPK pada periode laporan. Peningkatan pertumbuhan kredit perbankan Jawa Timur terutama terjadi pada Kredit Investasi (KI) dan Kredit Konsumsi (KK), sementara Kredit Modal Kerja (KMK) melambat. Peningkatan KI khususnya pada lapangan usaha pertanian; transportasi; pergudangan dan komunikasi; perdagangan; serta industri pengolahan. Peningkatan KK perbankan Jawa Timur didorong peningkatan kredit multiguna, KKB motor dan KPR (tipe kecil dan menengah). Sementara perlambatan KMK terutama terjadi pada lapangan usaha industri pengolahan dan perdagangan. Berdasarkan kelompok bank, peningkatan kredit terutama terjadi pada BUKU I dan IV.

Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2017

Di sepanjang tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Jawa Timur diperkirakan mencapai 5,7-6,1% (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun 2016 yang sebesar 5,55% (yoy). Perbaikan permintaan domestik, baik konsumsi maupun investasi, diperkirakan menjadi penopang utama perbaikan pertumbuhan ekonomi tersebut. Meskipun demikian, kinerja ekspor diperkirakan cenderung melambat dibandingkan tahun sebelumnya.

Dibandingkan tahun 2016, tekanan inflasi Jawa Timur di tahun 2017 diperkirakan meningkat dan mendekati batas atas sasaran inflasi nasional, yakni di kisaran 4+1% (yoy). Seluruh kelompok pembentuk IHK diperkirakan mengalami peningkatan tekanan inflasi dibandingkan tahun 2016. Peningkatan tekanan inflasi administered prices, terutama penyesuaian berbagai tarif energi, diperkirakan menjadi pendorong utama inflasi di sepanjang tahun 2017.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel