KEKR Provinsi Jawa Timur Februari 2018​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Agustus 2020

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di triwulan IV 2017 mencapai 5,7%, meningkat dibandingkan triwulan III 2017 yang tumbuh 5,6%. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,2% (yoy). Di kawasan Jawa, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur menduduki peringkat ketiga tertinggi setelah DKI Jakarta dan Banten. Sementara itu, perekonomian Jawa melambat, dari 5,7% (yoy) di triwulan III 2017 menjadi 5,6% (yoy) di triwulan IV 2017.

Dari sisi permintaan, perbaikan kinerja investasi dan perlambatan impor luar negeri menjadi penyebab utama peningkatan ekonomi Jawa Timur di triwulan IV 2017. Akselerasi investasi didorong oleh masih berlanjutnya pembangunan infrastruktur strategis serta peningkatan investasi non bangunan, khususnya di industri transportasi. Lebih lanjut, perlambatan kinerja impor luar negeri ditengarai disebabkan oleh tingginya impor bahan baku pada triwulan lalu, sehingga mayoritas kebutuhan impor bahan baku telah terpenuhi (indikasi front loading). Sementara itu, akselerasi yang lebih tinggi tertahan oleh kinerja konsumsi swasta yang tidak sekuat perkiraan sebelumnya. Konsumsi swasta Jawa Timur melambat terindikasi dari terbatasnya konsumsi barang tahan lama, tercermin dari penurunan penjualan kendaraan bermotor pada periode laporan. Lebih lanjut, seiring dengan penurunan indeks ekspektasi tabungan, perlambatan konsumsi swasta Jawa Timur ditengarai disebabkan oleh banyaknya penduduk Jawa Timur yang berwisata keluar daerah pada momen libur panjang, sehingga berpotensi banyaknya penduduk Jawa Timur yang membelanjakan pendapatannya di luar Jawa Timur.

Dari sisi penawaran, peningkatan kinerja lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, transportasi dan pergudangan, serta pertanian menopang perbaikan ekonomi Jawa Timur di triwulan IV 2017. Peningkatan kinerja penyediaan akomodasi dan makan minum serta transportasi dan pergudangan sejalan dengan kenaikan aktivitas konsumsi LNPRT sejalan dengan momen akhir tahun. Berlangsungnya libur panjang pada momen Natal dan Tahun Baru turut mendorong kinerja kedua lapangan tersebut. Sementara itu peningkatan kinerja pertanian pada periode ini didorong oleh panen hortikultura yang terjadi di sentra-sentra produksi di Jawa Timur. Peningkatan kinerja ekonomi Jawa Timur yang lebih tinggi tertahan oleh melambatnya kinerja lapangan usaha perdagangan, khususnya sektor luar negeri.

Asesmen Inflasi Daerah

Pada akhir triwulan IV 2017, inflasi Jawa Timur mencapai 4,04 % (yoy), naik dibandingkan triwulan sebelumnya (3,84%, yoy), dan lebih tinggi daripada inflasi nasional (3,61%, yoy). Peningkatan tertinggi terjadi di kelompok volatile food, dari -1,88% (yoy) menjadi 0,53% (yoy). Berkurangnya pasokan beras yang baru memasuki musim tanam, serta pasokan telur ayam ras dan daging ayam ras sebagai imbas faktor cuaca, kenaikan permintaan di akhir tahun, serta dampak pengurangan Day Old Chicken (DOC) menjadi pendorong utama inflasi.

Sementara itu, inflasi kelompok administered price terpantau melandai, dari 11,43% (yoy) menjadi 10,69% (yoy) seiring kembali normalnya tarif angkutan pasca momen Idul Fitri. Inflasi kelompok inti juga terpantau melambat dari 3,83% (yoy) di triwulan III menjadi 3,26% (yoy). Kembali normalnya konsumsi masyarakat pasca Ramadhan dan Idul Fitri,serta terjaganya ekspektasi masyarakat menjadi pemicu rendahnya tekanan inflasi kelompok inti.

Secara regional Jawa, inflasi Jawa Timur di triwulan IV 2017 merupakan yang tertinggi kedua setelah DIY (4,20%-yoy). Sementara berdasarkan 8 kabupaten/kota di Jawa Timur yang dihitung inflasinya, Kota Madiun mengalami inflasi tertinggi yakni 4,78% (yoy), sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Banyuwangi sebesar 3,17% (yoy).

Asesmen Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan UMKM

Stabilitas sistem keuangan Jawa Timur triwulan IV 2017 masih terjaga di tengah perlambatan kinerja Rumah Tangga (RT) dan terbatasnya kinerja sektor korporasi. Kinerja korporasi sektor utama Jawa Timur masih tumbuh positif, meskipun tidak setinggi periode sebelumnya yang disebabkan oleh perlambatan ekspor luar negeri. Kondisi ini tercermin dari kinerja lapangan usaha industri pengolahan; konstruksi; serta perdagangan besar dan eceran yang sedikit melambat dibandingkan triwulan III 2017. Meskipun kinerja korporasi tidak sekuat periode sebelumnya, namun pertumbuhan kredit korporasi masih meningkat yang disertai dengan membaiknya kualitas kredit. Rasio keuangan korporasi, khususnya produktivitas, likuiditas, dan repayment capacity masih terjaga dengan baik.

Sementara itu, perkembangan kondisi RT masih cukup baik walaupun kinerja konsumsi RT dalam PDRB Jawa Timur melambat. Terdapat peningkatan alokasi pengeluaran RT untuk konsumsi dan pinjaman, sedangkan sisi pendapatan relatif stabil. Hal ini mendorong turunnya alokasi tabungan RT yang tercermin pada perlambatan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perseorangan. Penyaluran kredit RT meningkat, khususnya untuk pemilikan rumah dan apartemen, diiringi dengan terjaganya risiko kredit di bawah batas threshold.

Lebih lanjut, kinerja perbankan yang merupakan institusi keuangan perbankan terbesar di Jawa Timur sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, namun lebih baik dari tahun 2016. Total asset, kredit dan DPK perbankan di Jawa Timur melambat, sedangkan risiko kredit membaik dan intermediasi perbankan tetap tumbuh tinggi. Secara spasial, penyaluran terbesar kredit perbankan masih terkonsentrasi di Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang dan Kabupaten Pasuruan.

Dari sisi pengembangan akses keuangan dan UMKM, proporsi kredit UMKM terhadap total kredit perbankan Jawa Timur telah mencapai 25,65%, lebih tinggi dari target yang ditetapkan di tahun 2017 (15%). Meskipun demikian, kredit UMKM sedikit melambat di triwulan ini, didorong perlambatan kredit modal kerja. Beberapa upaya telah dilakukan untuk meningkatkan akses keuangan dan daya saing UMKM, diantaranya melalui edukasi keuangan, pembentukan klaster, monitoring rasio kredit UMKM, program sertifikasi tanah, serta penyelenggaraan dialog mengenai potensi ekspor UMKM.

Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2018

Di sepanjang tahun 2018 pertumbuhan ekonomi Jawa Timur diperkirakan mencapai 5,4-5,8% (yoy), membaik dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 5,4 (yoy). Perbaikan permintaan domestik yang bersumber dari konsumsi swasta dan pemerintah, diperkirakan menjadi penopang utama perbaikan pertumbuhan ekonomi tersebut. Lebih lanjut, ekonomi dunia yang semakin kuat serta perluasan pasar ekspor yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Jawa Timur sejak 2017 diperkirakan mampu menopang perbaikan kinerja ekspor luar negeri Jawa Timur di 2018.

Dibandingkan tahun sebelumnya, tekanan inflasi Jawa Timur di tahun 2018 diperkirakan berada dalam sasaran inflasi 3,5+1% (yoy), yakni di kisaran 3,1% - 3,5%. Peningkatan terbesar diperkirakan didorong oleh kelompok volatile food, sementara inflasi kelompok administered prices dan core inflation relatif terjaga.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel