Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jambi Februari 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
02 Oktober 2020
​Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada Triwulan IV-2018 tercatat 4,77% (yoy), relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya yang juga tumbuh sebesar 4,77% (yoy) namun melambat dibandingkan pertumbuhan Triwulan IV-2017 sebesar 5,20% (yoy).
 
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada Triwulan IV-2018 terutama bersumber dari perbaikan kinerja komoditas minyak dan batu bara sejalan dengan naiknya permintaan eksternal terhadap energi primer yang merupakan komoditas unggulan daerah. Menguatnya permintaan terutama didorong oleh pulihnya sektor industri manufaktur di Amerika Serikat serta pertumbuhan sektor transportasi udara di Tiongkok dan India. Periode musim dingin di belahan bumi utara yang mulai berlangsung pada Triwulan IV-2018 juga menjadi faktor penggerak konsumsi energi primer.
 
Sementara, pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan tercatat positif meskipun mengalami sedikit perlambatan disebabkan permintaan dan harga komoditas karet yang belum menunjukkan perbaikan hingga Triwulan IV-2018. Di sisi lain, permintaan terhadap komoditas minyak kelapa sawit menunjukkan peningkatan. Namun harga komoditas kelapa sawit di pasar internasional yang masih rendah menahan laju pertumbuhan sektor pertanian. Naiknya permintaan terhadap minyak kelapa sawit sejalan dengan kinerja sektor industri pengolahan di Provinsi Jambi, yang terutama ditopang oleh pertumbuhan produksi industri minyak makanan (edible oil). Di level domestik, kinerja komoditas kelapa sawit didorong oleh implementasi program mandatory biodiesel B20.
 
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi terutama bersumber dari peningkatan ekspor yang didorong oleh komoditas pertambangan, serta komoditas minyak dan lemak nabati untuk kelompok non migas. Sementara, pertumbuhan konsumsi rumah tangga sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya seiring berlangsungnya perayaan hari besar keagamaan dan libur akhir tahun. Sebaliknya, konsumsi pemerintah tercatat tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya disebabkan belum optimalnya realisasi belanja modal. Hal tersebut tercermin dari realisasi belanja pemerintah Provinsi Jambi hingga Triwulan IV-2018 yang terserap 89,52% dari APBD 2018 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 93,51% dari APBD 2017.
 
Selanjutnya, perkembangan inflasi Provinsi Jambi tercatat menurun dari 3,34% (yoy) pada Triwulan III-2018 menjadi 2,97% (yoy) di triwulan empat 2018 didukung oleh terkendalinya harga bahan pangan.
 
Sementara, perkembangan aliran uang tunai menunjukkan peningkatan net outflow menjadi sebesar Rp1,64 triliun disebabkan meningkatnya kebutuhan uang tunai dalam rangka Natal dan Tahun Baru sesuai pola historisnya.
 
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Triwulan IV-2018, penyaluran kredit di Provinsi Jambi tumbuh 10,67% (yoy). Pertumbuhan tersebut disertai dengan perbaikan risiko kredit yang tercermin dari turunnya rasio NPL menjadi 2,63% (gross) pada Triwulan IV-2018.
 
Perkembangan ekonomi Provinsi Jambi yang tumbuh positif mendorong perbaikan lapangan pekerjaan yang ditunjukkan oleh kenaikan jumlah penduduk yang bekerja sebesar 3,83% (yoy) dari 1,65 juta orang menjadi 1,72 juta orang pada Agustus 2018. Peningkatan sektor tenaga kerja sejalan dengan perbaikan aspek kemiskinan pada September 2018. Secara persentase, tingkat kemiskinan di Provinsi Jambi tercatat mengalami penurunan menjadi 7,85%.
 
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada Triwulan II-2019 diperkirakan berada pada kisaran 4,58-4,98% (yoy). Pertumbuhan ekonomi akan bersumber dari perbaikan kinerja sektor pertanian didorong oleh turunnya bea impor minyak kelapa sawit oleh India di sisi eksternal serta penerapan kewajiban biodiesel B20 di sisi domestik. Sektor pertambangan juga akan memiliki andil yang cukup besar terhadap pertumbuhan triwulan dua 2019 sejalan dengan outlook permintaan minyak dunai yang masih tinggi pada tahun 2019. Sementara, inflasi Triwulan II-2019 diperkirakan berada pada kisaran 2,64-3,04% (yoy) atau masih dalam sasaran inflasi nasional sebesar 3,5+/-1%. Tekanan inflasi terutama akan bersumber dari kelompok bahan pangan  seiring naiknya konsumsi selama puasa dan lebaran sesuai pola siklikalnya. Selain itu, tarif angkutan udara juga diperkirakan meningkat menyusul tingginya permintaan pada periode libur nasional.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel