Kajian Ekonomi Keuangan Regional Provinsi Jambi November 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada Triwulan III-2018 tercatat 4,77% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 4,70% (yoy) dan sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Triwulan III-2017 sebesar 4,76% (yoy). ​

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada Triwulan III-2018 terutama bersumber dari perbaikan kinerja sektor pertambangan dan penggalian sejalan dengan naiknya permintaan migas dan batu bara yang merupakan komoditas unggulan daerah. Menguatnya permintaan komoditas energi primer terutama didorong oleh tingginya kebutuhan bahan bakar untuk sektor industri Amerika Serikat dan meningkatnya konsumsi listrik untuk pendingin udara akibat gelombang panas ekstrim yang melanda kawasan Eropa dan Asia selama triwulan ketiga 2018. ​

Selain itu, kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan juga tercatat mengalami peningkatan disebabkan oleh tingginya permintaan CPO oleh India dan Tiongkok menyusul kebijakan negara tersebut yang menaikkan tarif impor minyak kedelai Amerika Serikat. Perkembangan faktor eksternal tersebut, selanjutnya mendorong perbaikan kinerja sektor industri pengolahan di Provinsi Jambi yang sebagian besar merupakan industri makanan berbasis kelapa sawit. Di level domestik, kenaikan belanja iklan dalam rangka persiapan penyelenggaraan Pemilu tahun 2019 dan peningkatan trafik data selama periode hari besar keagamaan pada Triwulan III-2018 menyokong pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi. ​

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didorong oleh peningkatan inventori dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Tingkat persediaan pada Triwulan III-2018 menunjukkan lonjakan yang signifikan, dan mencerminkan terjadinya kenaikan volume produksi di sektor pertambangan dan sektor perkebunan yang telah siap didistribusikan. Sementara, pertumbuhan konsumsi rumah tangga sejalan dengan peningkatan aktivitas perdagangan terkait perayaan Idul Adha 1439 H dan periode tahun ajaran baru, meskipun laju pertumbuhan Triwulan III-2018 melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan tersebut disebabkan faktor siklikal karena puncak konsumsi rumah tangga terjadi pada Triwulan II-2018 yang bertepatan dengan puasa dan lebaran. Konsumsi pemerintah juga tercatat tumbuh melambat dibandingakan triwulan sebelumnya, disebabkan beberapa masih dalam proses pelelangan tahap akhir. Perlambatan tersebut sejalan dengan realisasi belanja pemerintah Provinsi Jambi hinggaTriwulan III-2018 yang baru terserap 52,59% dari APBD 2018 atau terkontraksi 1,12% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. ​

Perlambatan konsumsi rumah tangga dan pemerintahtercermin pada laju inflasi Provinsi Jambi yang turun menjadi 3,34% (yoy) pada Triwulan III-2018. Sementara, perkembangan aliran uang tunai menunjukkan penurunan netoutflow menjadi sebesar Rp44,08 miliar disebabkan kembali normalnya kebutuhan uang tunai setelah periode Ramadhan dan Idul Fitri. ​

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Triwulan III-2018, penyaluran kredit di Provinsi Jambi menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 11,06% (yoy). Namun, peningkatan risiko kredit menjadi 3,02% (gross) pada Triwulan III-2018 perlu menjadi perhatian. ​

Perkembangan ekonomi Provinsi Jambi yang tumbuh positif mendorong perbaikan lapangan pekerjaan yang ditunjukkan oleh kenaikan jumlah penduduk yang bekerja sebesar 3,82% (yoy) dari 1,65 juta orang menjadi 1,72 juta orang pada Agustus 2018. Peningkatan sektor tenaga kerja sejalan dengan perbaikan aspek kemiskinan pada Maret 2018.Secara persentase, tingkat kemiskinan di Provinsi Jambi tercatat sebesar 7,92% Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada Triwulan I-2019 diperkirakan berada pada kisaran 4,64 – 5,04% (yoy). ​

Pertumbuhan ekonomi akan bersumber dari perbaikan kinerja sektor pertambangan dan penggalian seiring masih kuatnya permintaan eksternal terhadap komoditas migas dan batu bara. Selain itu, kebijakan domestik terkait penggunaan biodiesel diestimasi akan berdampak positif terhadap kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Sementara, inflasi Triwulan I-2019 diperkirakan pada kisaran 3,45 – 3,85% (yoy) atau masih dalam target sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 ± 1%. Tekanan inflasi terutama akan bersumber dari kelompok bahan pangan seiring naiknya permintaan dan terbatasnya pasokan pada musim tanam.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel