Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi DKI Jakarta November 2018​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
15 Agustus 2020
​Perekonomian DKI Jakarta kembali meningkat pada triwulan III 2018, setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh 5,94% (yoy). Ekonomi DKI Jakarta pada triwulan ini tumbuh mencapai 6,41% (yoy) dan sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia. Peningkatan pertumbuhan ekonomi ini menandai masih positifnya prospek kinerja perekonomian.

Untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi secara nasional, dan dengan tetap mengutamakan kestabilan ekonomi makro dan sistem keuangan, Bank Indonesia pada November 2018 memutuskan untuk menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 6,00%. Selain itu, suku bunga Deposit Facility meningkat sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility meningkat sebesar 25 bps menjadi 6,75%. Keputusan tersebut sebagai langkah lanjutan Bank Indonesia untuk memperkuat upaya menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam batas yang aman. Kenaikan suku bunga kebijakan tersebut juga untuk memperkuat daya tarik aset keuangan domestik dengan mengantisipasi kenaikan suku bunga global dalam beberapa bulan ke depan. Bank Indonesia juga melanjutkan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamentalnya dengan tetap mendorong bekerjanya mekanisme pasar. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat tetap menjaga kestabilan perekonomian nasional dan DKI Jakarta yang berkualitas.

Akselerasi yang tinggi pada perekonomian DKI Jakarta pada triwulan III 2018 ditopang oleh  membaiknya pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), atau investasi, yang salah satunya disumbang oleh kelanjutan pembangunan jalur MRT dan LRT di Ibu Kota. Kendati demikian, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan III tidak setinggi triwulan sebelumnya, yang disebabkan normalisasi belanja masyarakat setelah momen bulan puasa, Idul Fitri, serta masa libur tahun ajaran pada triwulan sebelumnya. Pada sisi lapangan usaha (LU), penyelenggaraan Asian Games 2018 cukup memberikan dorongan yang positif pada LU Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, yang tidak terlepas dari peran para atlet dan kontingen peserta Asian Games yang membelanjakan uangnya di Ibu Kota, serta besarnya animo masyarakat dalam membeli pernak-pernik khas Asian Games. Lebih lanjut, sejalan dengan pertumbuhan positif pada investasi bangunan dan terus berlanjutnya pembangunan infrastruktur di DKI Jakarta, LU Konstruksi mencatat pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang melambat berdampak pada tertahannya pertumbuhan LU Industri Pengolahan sehingga tidak dapat tumbuh lebih tinggi dibandingkan  dengan triwulan sebelumnya.

Pada perkembangan harga, inflasi DKI Jakarta tetap terkendali hingga triwulan III 2018. Tingkat permintaan yang terjaga, didukung oleh terjaganya harga-harga barang yang diatur oleh pemerintah serta kesinambungan pasokan pangan, berkontribusi terhadap terkendalinya inflasi ibukota secara keseluruhan. Berbagai faktor tersebut membawa inflasi DKI Jakarta pada level 2,88% (yoy) dan 2,07% (ytd), lebih rendah dibandingkan dengan perkembangan triwulan III pada beberapa tahun sebelumnya.

Dari sisi kesejahteraan, akselerasi pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta diikuti oleh membaiknya penyerapan tenaga kerja. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah penduduk yang bekerja di Provinsi DKI Jakarta dan menurunnya tingkat pengangguran terbuka (TPT). Kendati demikian, peningkatan penyerapan tenaga kerja cenderung terjadi di sektor informal. Semakin berkembangnya sektor informal perlu dicermati, mengingat pekerja di sektor ini tidak memiliki perlindungan kerja, serta kompensasi kerja atau upah yang diberikan kerap tidak mengikuti aturan yang ada atau tidak sesuai dengan UMP.

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta didukung oleh kondisi stabilitas keuangan Ibu Kota yang masih terjaga di tingkat yang aman. Aset perbankan tumbuh membaik yang didorong oleh peningkatan pertumbuhan kredit serta dana pihak ketiga (DPK). Dari sisi risiko kredit, Non-Performing Loan (NPL) perbankan sedikit meningkat namun masih dalam batas aman dengan rasio masih di bawah 5%. Optimisme pasar masih positif dengan terjaganya sektor-sektor utama pada perekonomian DKI Jakarta. Sementara itu, permintaan kredit dari sisi korporasi mengalami perlambatan, yang disebabkan oleh perilaku wait-and-see seiring dengan dengan semakin dekatnya pemilihan umum pada tahun 2019, ketidakpastian ekonomi global, serta peningkatan suku bunga acuan.

Di sisi sistem pembayaran, melambatnya konsumsi rumah tangga tercermin pada aktivitas transaksi keuangan masyarakat. Respons yang searah terhadap kondisi tersebut terlihat dari berkurangnya net outflow aliran uang tunai di triwulan III, yang menggambarkan aktivitas penarikan tunai oleh perbankan pada Bank Indonesia yang lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sementara itu, kembali normalnya kegiatan ekonomi pasca cuti bersama Idul Fitri berdampak pada meningkatnya kembali transaksi nontunai, khususnya transaksi yang menggunakan sistem kliring nasional (SKN-BI).

Dengan memerhatikan kondisi ekonomi terkini, serta prospek dan tantangan ekonomi global dan nasional, pertumbuhan ekonomi Jakarta untuk keseluruhan tahun 2018 diperkirakan relatif stabil dibandingkan dengan kinerja taun 2017, sengan level masih di atas perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional. Investasi akan menjadi salah satu sumber dorongan pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun berjalan, sejalan dengan terus berlanjutnya pembangunan infrastruktur di Ibu Kota. Lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi pada tahun mendatang juga diperkirakan tetap positif, dan berada pada kisaran 6,0% - 6,4% (yoy). Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 akan digerakkan oleh konsumsi, dan ditopang oleh investasi dan ekspor. Pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) 2019 diprakirakan dapat memberikan dorongan tambahan terdapat pertumbuhan konsumsi, baik konsumsi rumah tangga maupun konsumsi LNPRT. Sementara itu, pertumbuhan investasi (PMTB) masih akan digerakkan oleh pembangunan berbagai infrastruktur di Jakarta. Lebih lanjut, kinerja ekspor diprakirakan masih akan terjaga, karena masih kuatnya permintan eksternal terhadap kendaraan produksi Indonesia. Dari sisi stabilitas harga, inflasi sepanjang 2018diperkirakan tetap berada dalam kisaran target. Terjaganya pasokan pangan akan berkontribusi  terhadap stabilitas harga sampai dengan penghujung tahun. Inflasi Ibu Kota pada tahun mendatang diperkirakan lebih tingi dibandingkan dengan tahun 2018, namun tetap terjaga pada kisaran 3,5±1%. Prospek permintaan masyarakat pada tahun depan yang meningkat menjadi salah satu pendorong inflasi pada tahun 2019.


Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel