Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Prov. DKI Jakarta Agustus 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 September 2020

Memasuki pertengahan tahun 2017, perkembangan ekonomi DKI Jakarta mengindikasikan berlanjutnya fase peningkatan pertumbuhan ekonomi ke depan. Indikasi berlanjutnya fase peningkatan pertumbuhan ekonomi terlihat pada terus meningkatnya pertumbuhan investasi dan tetap tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yang didukung dengan tetap terjaganya tingkat keyakinan masyarakat. Perkembangan ekonomi yang juga diiringi dengan terkendalinya inflasi di ibukota diharapkan dapat terus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta. ​

Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan II 2017 tetap tumbuh positif, sebesar 5,96% (yoy). Realisasi pertumbuhan tersebut relatif melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 6,45% (yoy), yang lebih disebabkan oleh adanya pergeseran belanja pemerintah dan berkurangnya aktivitas ekspor impor barang terkait libur panjang, di samping masih terbatasnya dampak peningkatan perdagangan dunia pada ekspor Indonesia. Pergeseran belanja pemerintah, terutama Kementerian/Lembaga yang berkantor di ibukota, pada pembayaran gaji dan tunjangan ke-13 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari sebelumnya pada bulan Juni menjadi bulan Juli 2017 merupakan faktor utama turunnya kinerja belanja pemerintah pada triwulan II 2017. Sementara pada sisi perdagangan luar negeri, pelarangan kendaraan angkutan barang untuk melintas selama masa libur Lebaran 2017 berkontribusi pada rendahnya aktivitas ekspor dan impor Jakarta. Namun demikian, investasi tetap tumbuh solid, yang didorong oleh berbagai pembangunan konstruksi di DKI Jakarta. ​

Pada perkembangan harga, tekanan inflasi di ibukota pada triwulan II 2017 tetap terkendali, di tengah siklus musiman bulan Ramadhan dan hari Idul Fitri. Hal tersebut ditunjukkan dengan capaian inflasi sebesar 3,94% (yoy), yang lebih rendah dibandingkan inflasi rata-rata tiga tahun sebelumnya di kisaran 6,11% (yoy). Terjaganya inflasi di DKI Jakarta dipengaruhi oleh harga pangan yang secara umum terkendali, di tengah meningkatnya permintaan pada masa Ramadhan dan hari Idul Fitri. Semakin efektifnya program pengendalian harga oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta, berbagai kebijakan pemerintah yang tidak mendorong inflasi, serta komunikasi yang baik dan masif kepada masyarakat untuk menjaga ekspektasi inflasi menjadi faktor utama yang mendukung terkendalinya tingkat harga di DKI Jakarta pada triwulan II 2017. ​

Dari sisi kesejahteraan, pertumbuhan positif ekonomi DKI Jakarta belum berdampak pada tingkat kemiskinan, yang tercatat kembali meningkat pada Maret 2017. Hal tersebut karena pertumbuhan ekonomi Jakarta lebih didorong oleh golongan menengah atas, sehingga kemiskinan tetap meningkat di tengah tren perbaikan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini tercermin pula pada semakin melebarnya ketimpangan pendapatan, melalui rasio gini yang meningkat, setelah beberapa periode menunjukkan tren yang menurun. Lebih lanjut, meningkatnya kemiskinan juga disebabkan oleh terbatasnya kemampuan sektor formal dalam menyerap tenaga kerja, yang tercermin pada penyerapan tenaga kerja sektor informal yang lebih tinggi dibandingkan penyerapan pada sektor formal. Namun, kompensasi yang diberikan oleh sektor informal tidak sebanding dengan meningkatnya harga-harga komoditas pokok yang dikonsumsi masyarakat kelas bawah, sehingga berdampak pada bertambahnya tingkat kemiskinan. ​

Mengiringi perkembangan perekonomian Jakarta tersebut, kondisi stabilitas sistem keuangan DKI Jakarta pada triwulan II 2017 masih terjaga, yang didukung oleh kinerja positif pada sektor perbankan. Kinerja sektor korporasi dan sektor rumah tangga juga relatif cukup baik. Kinerja korporasi menunjukkan peningkatan yang didukung oleh pertumbuhan sektor-sektor utama Jakarta, dan terindikasi dari membaiknya indikator rasio keuangan utama. Di sisi lain, resiliensi sektor rumah tangga juga masih relatif cukup baik yang tercermin melalui membaiknya tingkat ekspektasi dan keyakinan rumah tangga terhadap kondisi perekonomian. ​

Pada sisi sistem pembayaran, efek musiman bulan puasa dan Idul Fitri pada triwulan II 2017 berdampak pada aktivitas transaksi keuangan masyarakat, terutama transaksi secara tunai. Respons yang searah dari transaksi tunai terhadap kondisi tersebut tercermin pada net outflow aliran uang tunai pada triwulan laporan yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, melambatnya konsumsi rumah tangga secara keseluruhan terindikasi pada perkembangan transaksi nontunai, melalui perlambatan pada transaksi yang menggunakan sistem kliring nasional (SKN-BI). ​

Untuk prospek ekonomi, pantauan terhadap berbagai faktor baik kondisi ekonomi global maupun nasional mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada tahun 2017 akan meningkat dibandingkan dengan tahun 2016, meskipun sedikit lebih rendah dari proyeksi pada triwulan sebelumnya. Faktor pendorong pertumbuhan masih akan bersumber dari konsumsi masyarakat, seiring dengan membaiknya investasi, khususnya melalui pembangunan infrastruktur oleh pemerintah. Harga komoditas global yang diperkirakan tetap stabil akan turut memberikan kontribusi positif melalui peningkatan perdagangan antardaerah neto dari Jakarta kepada daerah-daerah penghasil komoditas. ​

Di sisi harga, tekanan inflasi pada tahun 2017 diperkirakan tetap terkendali dan mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional tahun 2017. Dampak kebijakan penyesuaian subsidi listrik untuk golongan 900 VA tidak setinggi perkiraan semula, karena jumlah kelompok pelanggan tersebut tidak terlalu banyak di Jakarta. Kendati demikian, penguatan koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI dalam menentukan langkah-langkah strategis pengendalian inflasi, antara lain melalui pengendalian harga pangan di Ibukota akan terus ditingkatkan, sehingga sasaran inflasi nasional tahun 2017 sebesar 4% ± 1% akan dapat dicapai.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel