Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Barat Februari 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020

Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tahun 2017 melambat sebesar 5,29% (yoy) dibanding tahun 2016 (5,66%, yoy). Namun, dibandingkan nasional (5,07%, yoy), pertumbuhan ekonomi Jawa Barat masih tetap lebih tinggi. Dari sisi pengeluaran, melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan konsumsi rumah pemerintah. Namun, meningkatnya pertumbuhan investasi menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Dari sisi lapangan usaha, melambatnya pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan lapangan usaha pertanian. Namun, meningkatnya pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan, perdagangan dan konstruksi menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat diperkirakan akan melambat pada triwulan I 2018. Melambatnya pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2018 didorong oleh konsumsi rumah tangga yang melambat akibat telah selesainya momen hari natal dan liburan akhir tahun, sehingga konsumi masyarakat cenderung kembali normal.

Inflasi IHK Jawa Barat pada triwulan IV 2017 tercatat sebesar 3,63% (yoy), menurun dibandingkan triwulan III 2017 sebesar 3,87% (yoy). Berdasarkan disagregasi kelompok, penurunan inflasi tahunan pada triwulan IV 2017 didorong oleh penurunan pada seluruh kelompok bahkan kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar -0,27% (yoy). Inflasi IHK tahunan Jawa Barat pada triwulan I 2018 diperkirakan berada pada rentang 3,5% - 4,0% (yoy), menurun dibanding realisasi inflasi triwulan IV 2017 sebesar 3,63% (yoy). Selain karena pemerintah telah menetapkan tidak ada kenaikan BBM bersubsidi dan listrik hingga akhir triwulan I 2018, faktor cuaca yang kondusif untuk mendukung masa tanam dan terjaganya pasokan pangan serta kebijakan pemerintah untuk melakukan impor beras diharapkan dapat menjaga level inflasi Jawa Barat di triwulan I 2018.

Intermediasi perbankan terpantau dalam kondisi yang cukup baik yang tercermin dari peningkatan penghimpunan DPK dan risiko kredit yang menurun, meskipun penyaluran kredit melambat.Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat meningkat sebesar 12,27% (yoy) dan risiko kredit yang dicerminkan oleh Non Performing Loan (NPL) menurun baik untuk kredit yang disalurkan perbankan di seluruh wilayah untuk Jawa Barat (lokasi proyek) sebesar 3,19%, maupun dari bank-bank yang berkantor di Jawa Barat (lokasi bank) sebesar 3,69%. Namun, terlihat adanya perlambatan kredit baik lokasi proyek (7,81%, yoy) maupun lokasi bank (8,49%, yoy) pada periode tersebut yang mendorong penurunan angka Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 88,25% pada triwulan IV 2017.

Pada aspek sistem pembayaran terjadi peningkatan transaksi non tunai melalui RTGS, namun tercatat perlambatan pada penggunaan kliring. Sementara itu pada sistem pembayaran tunai, Jawa Barat masih mengalami net inflow meskipun dengan besaran yang menurun sesuai dengan karakteristiknya menjelang dan saat hari raya keagamaan.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel