Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Gorontalo Agustus 2017​​​​​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020
​​

Perekonomian Gorontalo pada triwulan II 2017 tumbuh sebesar 6,64% (yoy) tercatat mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,34% (yoy). Dari sisi penggunaan, perlambatan pertumbuhan terutama didorong oleh konsumsi pemerintah dan investasi dengan pangsa masing-masing sebesar 21,83% dan 33.17%. Jika dilihat dari sisi penawaran, melambatnya kinerja lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan seiring masuknya musim tanam di triwulan II 2017 dan melambatnya kinerja lapangan usaha administrasi pemerintah turut mendorong perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2017. ​​

Melihat perkembangan terkini, pertumbuhan ekonomi Gorontalo triwulan III 2017 diperkirakan mengalami akselerasi yang didorong oleh meningkatnya konsumsi pemerintah dan investasi terkait dengan percepatan pembangunan infrastruktur di Gorontalo. Dari sisi penawaran, terjaganya pertumbuhan ekonomi didorong oleh akselerasi kinerja lapangan usaha konstruksi dan administrasi pemerintahan serta terjaganya kinerja lapangan usaha pertanian seiring masuknya musim panen raya di triwulan III 2017. Namun disisi lain terdapat potensi perlambatan kinerja lapangan usaha perdagangan seiring kembali normalnya permintaan masyarakat di triwulan III 2017. ​​

Tekanan inflasi Provinsi Gorontalo pada triwulan II 2017 kembali mengalami peningkatan dari 2,73% (yoy) pada triwulan I 2017 menjadi sebesar 3,69% (yoy). Realisasi inflasi tersebut masih lebih rendah dibandingkan tingkat nasional yang tercatat sebesar 4,37% (yoy). Namun demikian jika diperhatikan perkembangan inflasi tahun kalender, pada triwulan II 2017 tercatat sebesar 3,58% (ytd), lebih tinggi dari tingkat inflasi nasional yang sebesar 2,38% (ytd) dan periode yang sama dalam 3 tahun terakhir. ​​

Tingginya tekanan inflasi pada triwulan II 2017 terutama didorong oleh meningkatnya inflasi kelompok administred prices. Peningkatan tersebut seiring adanya penyesuaian tarif listrik untuk sebagian pelenggan daya 900 VA yang tidak layak subsidi, serta adanya peningkatan tarif angkutan luar kota dan tarif angkutan udara menjelang perayaan Idul Fitri. Sedangkan untuk inflasi kelompok barang yang harganya bergejolak (volatile food) dan kelompok inflasi inti (core) tercatat cenderung mengalami penurunan dibanding triwulan sebelumnya. Penurunan tekanan inflasi kelompok volatile food terjadi pada awal periode triwulan II 2017 seiring terjaganya pasokan komoditas bumbu-bumbuan (cabai rawit, bawang merah dan tomat sayur) dan ikan segar. Namun pada akhir periode triwulan II 2017 mengalami peningkatan yang signifikan akibat adanya peningkatan permintaan masyarakat seiring datangnya bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri serta kondisi cuaca yang tidak kondusif sehingga mengakibatkan terganggunya pasokan. Disisi lain, untuk inflasi kelompok inti cenderung mengalami penurunan seiring adanya kebijakan pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertentu (HET) pada komoditas gula pasir dan minyak goreng, serta upaya memenuhi pasokan masyarakat dengan jumlah yang cukup. ​​

Memasuki triwulan III 2017, tekanan inflasi Gorontalo mengalami peningkatan di awal triwulan, namun diperkirakan akan mengalami penurunan di akhir periode. Tingginya inflasi di bulan Juli 2017 tercatat merupakan inflasi pasca Lebaran yang tertinggi selama 5 tahun terakhir. Adanya gangguan pasokan seiring tingginya curah hujan dan gelombang laut menjadi faktor utama peningkatan tekanan inflasi komoditas tomat sayur dan beberapa komoditas ikan segar. Melihat perkembangan harga terakhir sampai dengan pertengahan Agustus 2017, serta berbagai upaya yang telah dan akan dilakukan dalam pengendalian inflasi, diharapkan dapat menjaga tingkat inflasi Gorontalo sesuai dengan target inflasi Nasional 4% ± 1% pada akhir tahun 2017. ​​

Terkait risiko kerentanan sektor korporasi, pada triwulan II 2017 mengalami penurunan sebagaimana tercermin dari rasio non performing loans (NPLs) kredit korporasi yang mengalami perbaikan seiring terakselerasinya pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja korporasi di sektor pertanian. Sementara itu, di sektor rumah tangga risiko kerentanan masih menunjukkan peningkatan sebagaimana terlihat pada meningkatnya rasio non performing loan (NPLs). Adanya perbaikan pendapatan dari penerimaan gaji keempat belas, tunjangan kinerja daerah kepada ASN dan simpanan hasil panen sebelumnya yang memberikan peluang meningkatnya kemampuan debitur (repayment capacity) untuk mengembalikan pinjamannya serta meningkatnya portofolio kredit yang disalurkan ke sektor rumah tangga, belum mampu menekan penurunan NPLs. ​​

Sedangkan terkait sistem pembayaran, sejalan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat pada triwulan II 2017, transaksi pembayaran tunai mengalami peningkatan, sedangkan pada transaksi non tunai mengalami penurunan dibandingkan triwulan I 2017. Pada transaksi pembayaran tunai, peningkatan terjadi pada transaksi outflow didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2017. Disisi lain, transaksi pembayaran non tunai yang melalui kliring untuk wilayah Provinsi Gorontalo pada triwulan II 2017 mengalami penurunan.​​

Ekonomi Gorontalo pada triwulan IV 2017 diperkirakan masih tumbuh positif dan lebih tinggi dari triwulan sebelumnya dengan tingkat pertumbuhan berada pada kisaran 6,90%-7,30% (yoy). Sumber utama peningkatan ekonomi diperkirakan berasal dari meningkatnya konsumsi rumah tangga seiring adanya perayaan HBKN dan upaya optimalisasi penyelesaian berbagai proyek strategis di Gorontalo. Sedangkan dari sisi penawaran, lapangan usaha utama Gorontalo seperti lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, lapangan usaha konstruksi dan lapangan usaha administrasi pemerintahan akan menjadi pendorong utama peningkatan kinerja ekonomi Gorontalo. Sedangkan untuk lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan diperkirakan akan tumbuh positif walapun lebih rendah dari triwulan sebelumnya. ​​

Tekanan Inflasi Gorontalo pada triwulan IV 2017 diperkirakan kembali mengalami peningkatan dan masih dalam kisaran target inflasi nasional sebesar 4% ± 1% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi pada akhir tahun diperkirakan akan didorong oleh kelompok volatile food dan administered prices, seiring terbatasnya pasokan akibat musim hujan dan tingginya gelombang laut, serta adanya perayaan HBKN yang akan meningkatkan permintaan masyarakat. Berdasarkan perkembangan indikator ekonomi terkini dan prospek ke depan, perekonomian Gorontalo untuk keseluruhan tahun 2017 diperkirakan tumbuh lebih baik dari tahun 2016 dengan tingkat pertumbuhan berada pada kisaran 6,80%-7,20% (yoy). Sumber utama peningkatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 berasal dari masih kuatnya permintaan domestik dan perbaikan ekspor. Walaupun adanya risiko terkait keterbatasan anggaran pemerintah serta terbatasnya proyek infrastruktur baru di tahun 2017. Sementara itu, tingkat inflasi pada1 tahun 2017 diperkirakan cenderung meningkat dibandingkan tahun 2016 namun masih rentang dalam kisaran target inflasi nasional sebesar 4% ± 1% (yoy). Berbagai risiko peningkatan tekanan inflasi yang bersumber pada kebijakan pemerintah, harus diredam dengan pengendalian inflasi pada kelompok volatile food melalui kegiatan peningkatan produksi dan pengendalian harga melalui TPID.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel