Laporan Perekonomian Provinsi Bengkulu Mei 2020​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 Oktober 2020
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH
Pandemi COVID-19 memengaruhi pertumbuhan ekonomi Bengkulu triwulan I 2020. Pertumbuhan ekonomi Bengkulu tercatat 3,82% (yoy) pada triwulan I 2020, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 4,79% (yoy). Perlambatan tersebut bersumber dari deselerasi mayoritas komponen sisi penggunaan, kecuali kinerja ekspor yang mampu tumbuh meningkat. Dari sisi lapangan usaha, deselerasi bersumber dari sebagian besar LU utama daerah, antara lain LU perdagangan besar dan eceran; LU industri pengolahan; serta LU konstruksi. Namun demikian, meningkatnya kinerja LU pertanian yang ditopang oleh kenaikan produksi tabama dan hasil perkebunan dapat menahan perlambatan perekonomian Bengkulu yang lebih dalam. Secara umum, dampak COVID-19 menyebabkan pola pertumbuhan ekonomi Bengkulu triwulan I 2020 berbeda arah dibandingkan dengan pola tahun-tahun sebelumnya.
 
Pengaruh pandemi COVID-19 terhadap pelemahan ekonomi Bengkulu diprakirakan berlanjut sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2020 tumbuh melambat. Dari sisi pengunaan, perlambatan diprakirakan bersumber dari turunnya kinerja konsumsi rumah tangga seiring prospek menurunnya pendapatan, terbatasnya kegiatan usaha, serta pembatasan mobilitas masyarakat. Kinerja ekspor juga diprakirakan tumbuh melambat sebagai imbas dari melemahnya perekonomian global dan volume perdagangan dunia. Namun demikian, perlambatan ekonomi yang lebih dalam diharapkan dapat tertahan oleh kinerja investasi dengan mulai meningkatnya progress fisik proyek Pemerintah, antara lain jalan tol Bengkulu-Lubuk Linggau serta rumah susun Kementerian PUPR. Dari sisi lapangan usaha, meluasnya pandemi COVID-19 berdampak terhadap keseluruhan LU utama daerah, terutama LU industri pengolahan serta LU perdagangan besar dan eceran.
 
Dari sisi tekanan harga, laju inflasi tahunan Provinsi Bengkulu pada triwulan I 2020 menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Menurunnya laju inflasi triwulan I 2020 terutama disebabkan oleh meredanya tekanan inflasi pada kelompok transportasi, khususnya untuk komoditas angkutan udara, sejalan dengan moderasi permintaan masyarakat pasca periode liburan akhir tahun yang biasanya digunakan untuk bepergian. Laju perlambatan inflasi tertahan oleh meningkatnya tekanan inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, khususnya pada komoditas cabai merah dan bawang putih. Seperti halnya pada komoditas cabai merah, kenaikan harga bawang putih diantaranya disebabkan hasil panen yang kurang maksimal karena faktor curah hujan yang tinggi.
 
Inflasi tahunan pada triwulan II 2020 diprakirakan lebih rendah dibandingkan dengan kondisi triwulan I 2020, dan akan mendukung sasaran inflasi nasional pada akhir tahun sebesar 3,0%±1%. Lebih rendahnya tekanan inflasi diprakirakan bersumber dari kelompok transportasi, karena permintaan jasa transportasi yang masih terbatas, sejalan dengan diberlakukannya PSBB di beberapa daerah sehingga berpengaruh terhadap kelancaran akses transportasi secara umum. Selain itu, adanya larangan untuk melakukan perjalanan dinas dan perjalanan pribadi di berbagai instansi akan menjadi faktor penahan untuk masyarakat yang akan bepergian lintas provinsi. Selain kelompok transportasi, pembatasan kegiatan juga akan berdampak terhadap inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Usaha restoran akan berjalan dengan lebih terbatas karena adanya anjuran bagi masyarakat untuk tetap di rumah, sehingga permintaan terhadap komoditas tertentu akan berkurang dan mengakibatkan harga bergerak turun. Di samping itu, adanya pandemi COVID-19 turut berdampak pada melambatnya kinerja ekonomi global dan nasional, termasuk juga ekonomi Bengkulu sehingga aktivitas usaha dan pendapatan masyarakat juga akan terganggu. Akibatnya, daya beli masyarakat juga akan relatif lebih terbatas sehingga tekanan inflasi dari sisi permintaan (demand pull) juga akan berkurang.
 
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Sejalan dengan dinamika ekonomi global dan nasional, kondisi ekonomi Bengkulu juga terdampak oleh pandemi COVID-19. Kinerja ekonomi cenderung mengarah kepada pertumbuhan yang rendah. Terganggunya rantai pasok global berdampak luas kepada dunia usaha di berbagai negara. Dengan kondisi ini, perekonomian Bengkulu triwulan III 2020 diprakirakan tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dari sisi penggunaan, seluruh komponen penggunaan diperkirakan melambat. melambatnya konsumsi dan ketidakpastian meredanya pandemi COVID-19 sangat berdampak kepada investasi swasta. Perlambatan lebih dalam tertahan oleh membaiknya ekspor.  Dari sisi lapangan usaha (LU), pertumbuhan ekonomi akan ditopang oleh LU pertanian, kehutanan, dan perikanan dan LU perdagangan besar dan eceran, dan reparasi kendaraan.
 
Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu tahun 2020 diprakirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2019, sejalan dengan prospek perekonomian global dan nasional yang juga diproyeksikan melambat. Mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi diprakirakan bersumber dari konsumsi swasta dan pemerintah serta ditopang oleh ekspor, di tengah turunnya kinerja investasi. Dari sisi lapangan usaha, dorongan pertumbuhan ekonomi akan bersumber dari lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan; dengan didukung oleh lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor.
 
Sementara itu, dari sisi tekanan harga, stabilitas harga barang dan jasa di Provinsi Bengkulu diprakirakan tetap terjaga. Pada triwulan III 2020, diprakirakan aktivitas masyarakat berangsur pulih, sehingga akan mendorong meningkatnya konsumsi. Koordinasi yang intensif antara Bank Indonesia dengan seluruh pemerintahan di lingkup Provinsi Bengkulu melalui TPID terus dilakukan untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi, meskipun perhitungan IHK hanya dilakukan di Kota Bengkulu. Pengendalian inflasi dalam kerangka 4K (Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi, Komunikasi yang efektif) perlu terus dilakukan, sesuai dengan roadmap pengendalian inflasi yang telah disusun oleh seluruh pemerintah di kabupaten dan kota.  
 
Secara keseluruhan tahun, sejalan dengan kondisi ekonomi yang melambat dampak pandemi COVID-19, tekanan inflasi di Provinsi Bengkulu pada tahun 2020 juga diprakirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun tetap akan mendukung sasaran inflasi nasional 3±1%. Adanya pandemi COVID-19 telah mengakibatkan turunnya aktivitas dunia usaha sehingga berdampak pada menurunnya konsumsi masyarakat serta menurunnya tekanan terhadap stabilitas harga dari sisi permintaan. Sumber tekanan inflasi pada tahun 2020 akan berasal dari kenaikan cukai rokok yang sudah ditransmisikan pada awal tahun, melalui kenaikan harga rokok kretek, rokok kretek filter, dan rokok putih. Sumber kenaikan inflasi lainnya diprakirakan berasal dari harga pangan yang bergejolak karena dipengaruhi oleh faktor gangguan cuaca, khususnya untuk komoditas bumbu seperti cabai merah, bawang merah, dan bawang putih. Faktor lain yang dapat mendorong inflasi adalah kenaikan harga emas internasional, yang ditransmisikan kepada harga emas perhiasan.
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel