​Laporan Perekonomian Provinsi Bengkulu Agustus 2020​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 Oktober 2020
​PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH
Meluasnya dampak pandemi COVID-19 memengaruhi pertumbuhan ekonomi Bengkulu. Pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada triwulan II 2020 terkontraksi sebesar -0,48% (yoy), berbeda arah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 3,80% (yoy). Dari sisi penggunaan, kontraksi tersebut bersumber dari menurunnya kinerja seluruh komponennya, dengan andil terbesar berasal dari kinerja ekspor (andil -2,40% yoy), diikuti konsumsi pemerintah (andil -1,20% yoy) dan kinerja investasi (andil -0,85% yoy). Dari sisi lapangan usaha, kontraksi bersumber dari menurunnya kinerja mayoritas LU utama daerah, dengan andil terbesar berasal dari LU transportasi dan pergudangan (andil -0,91% yoy), diikuti LU perdagangan besar dan eceran (andil -0,70% yoy). Secara umum, dampak COVID-19 menyebabkan pola pertumbuhan ekonomi Bengkulu triwulan II 2020 berbeda arah dibandingkan dengan pola tahun-tahun sebelumnya.

Ke depan, pengaruh pandemi COVID-19 terhadap pelemahan ekonomi Bengkulu diprakirakan berlanjut. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Bengkulu triwulan III 2020 masih akan mengalami kontraksi meski membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dari sisi penggunaan, kontraksi bersumber dari turunnya kinerja konsumsi rumah tangga serta investasi. Kontraksi yang lebih dalam diharapkan dapat tertahan oleh bertumbuhnya konsumsi pemerintah seiring realisasi kegiatan non-COVID-19 yang tertunda pada triwulan sebelumnya. Selain itu, meski masih dalam fase kontraksi, kinerja ekspor juga akan membaik dipengaruhi oleh prospek perbaikan pertumbuhan ekonomi global sehingga meningkatkan volume perdagangan dunia. Dari sisi lapangan usaha, mayoritas LU utama daerah diprakirakan masih dalam fase kontraksi, namun relatif membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal tersebut utamanya disebabkan oleh berangsur normalnya aktivitas ekonomi masyarakat pasca diterapkannya adaptasi kegiatan baru. Akibatnya, kinerja LU transportasi; LU perdagangan besar dan eceran; serta LU industri pengolahan diyakini dapat terdongkrak lebih tinggi.
 
Laju inflasi tahunan Provinsi Bengkulu pada triwulan II 2020 menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Menurunnya laju inflasi triwulan II 2020 terutama disebabkan oleh meredanya tekanan inflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau khususnya untuk komoditas cabai merah, beras, dan bawang putih karena terjaganya pasokan dan normalisasi kegiatan impor bawang putih. Selain itu penurunan tekanan inflasi juga disebabkan oleh deflasi kelompok transportasi, khususnya untuk komoditas angkutan udara, sejalan dengan rendahnya permintaan masyarakat untuk bepergian pasca HBKN Idul Fitri 1441 H dan penerapan new normal.

Inflasi tahunan pada triwulan III 2020 diprakirakan lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi triwulan II 2020, dan akan mendukung sasaran inflasi nasional pada akhir tahun sebesar 3,0%±1%. Meningkatnya tekanan inflasi diprakirakan bersumber dari kelompok makanan, minuman dan tembakau, karena meningkatnya permintaan beberapa komoditas seperti daging ayam dan daging sapi serta sayur mayur sejalan adanya kebijakan new normal dengan mulai beroperasinya restoran atau rumah makan, di tengah pasokan yang cenderung stabil. Selain itu tingkat inflasi kelompok transportasi juga diprakirakan akan meningkat, seiring normalisasi kegiatan ekonomi daerah dan meningkatnya mobilisasi masyarakat menggunakan angkutan udara. Permintaan mobilisasi angkutan udara diprakirakan akan meningkat sejalan dengan kemudahan yang ditawarkan oleh maskapai untuk pemenuhan persyaratan pemeriksaan kesehatan bagi calon penumpang. Kelompok lain yang diprakirakan akan meningkatkan laju inflasi adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang masih disebabkan oleh kenaikan harga emas perhiasan sejalan dengan indikator perkembangan harga emas global yang diprakirakan masih menguat.
 
PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Tertekannya perekonomian global dan nasional sebagai dampak dari pandemi COVID-19, mengakibatkan kondisi ekonomi Bengkulu juga diprakirakan tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Di tengah dinamika yang ada, perekonomian Provinsi Bengkulu pada triwulan IV 2020 diprakirakan tumbuh membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, sejalan dengan kondisi ekonomi yang berangsur membaik. Dari sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi terutama akan digerakkan oleh konsumsi pemerintah, sejalan dengan realisasi anggaran pada masa akhir tahun. Dari sisi lapangan usaha (LU), pertumbuhan ekonomi akan ditopang oleh LU pertanian, kehutanan, dan perikanan sejalan dengan membaiknya prospek CPO.

Sejalan dengan prospek perekonomian global dan nasional yang diproyeksikan melambat, kinerja pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu untuk keseluruhan tahun 2020 juga diprakirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2019. Dampak dari terjadinya pandemi COVID-19 telah meluas ke berbagai aspek ekonomi, sehingga mengakibatkan kinerja perekonomian terganggu. Mengamati berbagai indikator yang ada, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada tahun 2020 terutama akan digerakkan oleh konsumsi swasta dan pemerintah, di tengah tertekannya kinerja investasi dan ekspor. Dari sisi lapangan usaha, dorongan pertumbuhan ekonomi terutama akan bersumber dari lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan.

Sementara itu, dari sisi tekanan harga, stabilitas harga barang dan jasa di Provinsi Bengkulu diprakirakan tetap terjaga. Pada triwulan IV 2020, diprakirakan aktivitas masyarakat berangsur pulih, sehingga akan mendorong tumbuhnya konsumsi masyarakat. Namun demikain, tetap terjaganya pasokan pangan di tengah meningkatnya konsumsi masyarakat, diprakirakan tidak akan menimbulkan tekanan yang berlebih terhadap kestabilan harga. Selain itu, koordinasi yang intensif antara Bank Indonesia dengan seluruh pemerintahan di lingkup Provinsi Bengkulu melalui TPID terus dilakukan untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi.

Secara keseluruhan tahun, tekanan inflasi di Provinsi Bengkulu pada tahun 2020 diprakirakan lebih rendah dibandingkan dengan prakiraan sebelumnya, namun tetap akan mendukung sasaran inflasi nasional 3±1%. Belum solidnya kinerja ekonomi karena adanya pandemi COVID-19 telah mengakibatkan turunnya aktivitas dunia usaha. Hal tersebut kemudian berdampak pada tingkat pendapatan dan menurunnya konsumsi masyarakat, sehingga mengurangi tekanan terhadap stabilitas harga dari sisi permintaan. Selain itu masih dibatasinya aktivitas masyarakat yang bersifat keramaian, turut berkontribusi dalam menahan laju permintaan masyarakat.
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel