Laporan Perekonomian Provinsi Bali Februari 2020 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
18 September 2020

PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN IV 2019
Kinerja perekonomian Bali pada triwulan IV 2019 menunjukkan akselerasi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Perekonomian Bali tumbuh sebesar 5,51% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,34% (yoy). Dari sisi permintaan, peningkatan kinerja ekonomi Bali didorong oleh meningkatnya kinerja konsumsi pemerintah. Sedangkan kinerja rumah tangga, investasi, dan ekspor luar negeri mengalami perlambatan. Kondisi ini didorong oleh peningkatan realisasi belanja pemerintah, didukung oleh meningkatnya realisasi pendapatan daerah, baik yang bersumber dari dana perimbangan maupun Pendapatan Asli Daerah. Selanjutnya dari sisi penawaran, meningkatnya kinerja ekonomi Bali bersumber dari akselerasi kinerja 2 lapangan usaha utama, yaitu akomodasi makan dan minum dan industri pengolahan. Kondisi tersebut, dipengaruhi oleh meningkatnya kunjungan wisatawan sejalan dengan masuknya periode peak season pariwisata dan adanya perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) dengan jumlah kunjungan wisatawan yang lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2018. Sementara itu, kinerja pertanian; perdagangan besar dan eceran; serta konstruksi diperiode yang sama tertahan.

PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2019
Secara keseluruhan tahun, kinerja ekonomi Bali pada tahun 2019 tercatat tumbuh 5,63% (yoy), lebih rendah (melambat) dibandingkan dengan tahun 2018 yang sebesar 6,33% (yoy). Dari sisi permintaan, perlambatan tersebut bersumber dari melambatnya kinerja ekspor luar negeri dan investasi. Sementara dari sisi penawaran, kondisi ini bersumber dari tertahannya kinerja lapangan usaha pertanian; lapangan usaha konstruksi; lapangan usaha perdagangan; dan lapangan usaha penyediaan akomodasi makan-minum. Rendahnya angka kinerja ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, meliputi base effect penyelenggaraan IMF-WB Annual Meeting 2018 termasuk masifnya pengerjaan infrastruktur dan konstruksi yang mendukung kegiatan tersebut; musim kemarau yang berlangsung lebih lama dan lebih kering menahan kinerja pertanian; peningkatan UMP tahun 2019 yang lebih rendah dibanding tahun 2018; serta semakin dalamnya perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama Bali.

PRAKIRAAN PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN I 2020
Ekonomi Bali pada triwulan I 2020 diprakirakan tumbuh dalam kisaran 3,70%–4,10% (yoy), melambat dibandingkan dengan capaian triwulan sebelumnya. Prakiraan ini didasarkan pada pertimbangan kebijakan antisipasi penyebaran COVID-19. Kebijakan ini menutup sementara penerbangan dari dan ke Tiongkok, penghentian sementara pemberian visa bagi wisman Tiongkok serta dampak spillover ke wisman lain diprakirakan akan menahan kinerja pariwisata Bali, yang pada gilirannya menahan kinerja ekonomi Bali.

PERKEMBANGAN KEUANGAN PEMERINTAH
Pagu anggaran pendapatan pemerintah perubahan (APBD-P) di Wilayah Bali pada tahun 2019 tercatat sebesar Rp27,07 triliun atau meningkat 0,51% (yoy). Pagu tersebut lebih rendah dibandingkan dengan peningkatan pagu pada tahun 2018 yang sebesar 10,64% (yoy), dengan nominal Rp26,93 triliun. Sejalan dengan kondisi tersebut, pagu anggaran perubahan untuk belanja pemerintah (APBD & APBN) pada tahun 2019 juga tercatat tumbuh terbatas, yaitu sebesar 1,70% (yoy) dengan nilai nominal sebesar Rp40,25 triliun. Lebih rendah dibanding peningkatan anggaran tahun 2018 yang sebesar 9,38% (yoy) dengan nominal Rp39,57 triliun. Dalamnya perlambatan pagu anggaran pendapatan dan belanja pemerintah tersebut, terutama disebabkan oleh penyesuaian anggaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah (APBD kabupaten/kota), mencermati melambatnya kunjungan wisatawan.

Sejalan dengan peningkatan kinerja komponen konsumsi pemerintah di Bali pada tahun 2019, serapan belanja pemerintah (APBD & APBN) juga menunjukkan peningkatan yaitu mencapai 90,76%, lebih tinggi dibandingkan dengan serapan belanja tahun 2018 sebesar 86,85%. Kondisi ini didukung oleh meningkatnya serapan belanja daerah di tingkat kabupaten/kota dan APBN, sementara untuk APBD Provinsi mengalami penurunan serapan belanja. Daerah tingkat II dengan serapan belanja tertinggi adalah Kabupaten Jembrana, sementara daerah dengan serapan belanja terendah adalah Kabupaten Badung.

Pada sisi yang lain, serapan pendapatan daerah mencapai 95,39% pada tahun 2019, lebih tinggi dibanding capaian tahun 2018 sebesar 89,86. Peningkatan serapan ini didukung oleh meningkatnya serapan pendapatan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Capaian tersebut didukung oleh berbagai program dan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mendoorng optimalisasi penerimaan pajak daerah, diantaranya mendorong kemudahan pembayaran pajak, mendorong penambahan wajib pajak baru serta mendorong peningkatan kepatuhan dalam pembayaran pajak daerah.

PERKEMBANGAN INFLASI
Realisasi inflasi Provinsi Bali pada triwulan IV 2019 tercatat sebesar 2,38% (yoy), melandai dibandingkan dengan realisasi inflasi triwulan III 2019 yang sebesar 2,54% (yoy). Realisasi inflasi tersebut juga lebih rendah dibanding dengan realisasi inflasi Nasional pada periode yang sama sebesar 2,72% (yoy). Terjaganya inflasi disebabkan oleh menurunnya harga komoditas bumbu-bumbuan dan tarif angkutan udara. Sementara itu, untuk keseluruhan tahun 2019 inflasi Bali tercatat melandai jika dibandingkan dengan inflasi 2018, yang tercatat sebesar 3,13% (yoy), didukung oleh keputusan pemerintah yang menetapkan batas atas tarif angkutan udara dan turunnya harga BBM nonsubsidi, serta tetap solidnya upaya pengendalian inflasi daerah yang dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di Wilayah Bali

PROSPEK INFLASI TRIWULAN I 2020
Inflasi Bali pada triwulan I 2020 diprakirakan meningkat dibanding dengan triwulan IV 2019, yaitu pada kisaran 3,00 – 3,405 (yoy), masih berada dalam sasaran inflasi Nasional, yaitu 3%±1%(yoy). Peningkatan ini diprakirakan didorong oleh peningkatan frekuensi HBKN sepanjang triwulan I 2020, curah hujan dan gelombang laut yang tinggi serta peningkatan cukai rokok. Namun demikian, penurunan harga BBM nonsubsidi dan rencana penurunan tarif angkutan udara sebagai antisipasi covid-19 outbreak dan rencana kebijakan impor bawang putih pada akhir triwulan I 2020 diprakirakan dapat menahan laju inflasi.

PERKEMBANGAN STABILITAS SISTEM KEUANGAN
Secara umum, kondisi stabilitas keuangan di Bali pada triwulan IV 2019 masih terjaga. Kondisi ini tercermin oleh peningkatan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan kualitas kredit yang masih solid, di tengah melambatnya pertumbuhan kredit. Penghimpunan DPK di Wilayah Bali pada triwulan IV 2019 tercatat tumbuh sebesar 8,68% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 7,89% (yoy). Sementara itu, penyaluran Kredit pada triwulan IV 2019 tercatat tumbuh 6,59% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,06% (yoy). Kualitas kredit di Wilayah Bali pada triwulan IV 2019 tercatat meningkat. Hal ini tercermin dari Non performing loan (NPL) Gross, yang menurun pada triwulan IV 2019 menjadi 3,62% dari 4,52% pada triwulan sebelumnya.

Sejalan dengan kondisi tersebut, kinerja keuangan korporasi juga cukup baik. Kondisi likuiditas dan rentabilitas korporasi meningkat di tengah melambatnya kinerja beberapa LU utama. Selain itu, meskipun kredit korporasi tumbuh melambat, namun kualitas kredit menunjukkan perbaikan sejalan dengan peningkatan kinerja ekonomi Bali pada triwulan laporan. Penyaluran kredit korporasi pada triwulan IV 2019 tumbuh 5,42%(yoy), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 7,77%(yoy). Sementara itu, NPL kredit korporasi tercatat sebesar 7,23%, lebih rendah dibandingkan dengan NPL triwulan sebelumnya (9,50%).

Kinerja sektor rumah tangga juga cukup kuat pada triwulan IV 2019. Meskipun tekanan terhadap keuangan rumah tangga sedikit meningkat, namun daya tahan keuangan rumah tangga masih cukup kuat. Hal ini tercermin oleh peningkatan jumlah rumah tangga yang memiliki dana cadangan untuk berjaga-jaga dan optimisme rumah tangga terhadap kondisi ekonomi saat ini. Selain itu, kualitas kredit rumah tangga juga menunjukkan peningkatan, ditengah kinerja konsumsi rumah tangga yang cenderung melambat. Membaiknya kualitas kredit rumah tangga tercermin dari rasio NPL pada triwulan IV 2019 yang menurun menjadi 3,88% dari sebelumnya sebesar 4,49%. Pada triwulan IV 2019, kredit rumah tangga tumbuh 6,95%, meningkat dari triwulan lalu yang sebesar 6,17% (yoy).

Sejalan dengan korporasi dan rumah tangga, penyaluran kredit UMKM juga tercatat masih baik. Kualitas kredit UMKM masih terjaga, meskipun kredit tumbuh melambat. Pada triwulan IV 2019 kredit UMKM tumbuh 6,12%(yoy), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 8,46% (yoy). Meskipun kredit UMKM tumbuh melambat, namun kualitas kredit membaik, tercermin dari penurunan rasio NPL dari 3,12% menjadi 2,75% pada triwulan IV 2019.

PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN
Perkembangan kinerja transaksi tunai pada triwulan IV 2019 di Provinsi Bali menunjukkan terjadinya net outflow (uang yang masuk ke kas Bank Indonesia melalui perbankan lebih kecil dibanding uang yang keluar kas Bank Indonesia), sebesar Rp1,25 triliun. Nilai net outflow tersebut lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat Rp 263 miliar. Terjadinya net outflow dalam jumlah yang signifikan tersebut, didorong oleh tingginya permintaan uang kartal pada periode laporan, didorong oleh adanya beberapa perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), yaitu libur natal dan tahun baru (nataru).

Perkembangan transaksi melalui SKNBI pada triwullan IV 2019 menunjukkan peningkatan dibanding triwulan sebelumnya, baik secara nominal maupun volume. Pada triwulan IV 2019, volume transaksi melalui SKNBI tercatat sebesar 446ribu lembar atau turun 12,55 (yoy), membaik dibandingkan dengan triwulan III 2019 yang turun lebih dalam sebesar 23,75% (yoy). Sejalan dengan itu, nominal transaksi SKNBI tercatat sebesar Rp14,16 triliun atau turun sebesar 3% (yoy) pada triwulan IV 2019. Capaian ini lebih baik dibandingkan dengan triwulan III 2019 yang turun lebih dalam, sebesar 14,77% (yoy).

Perkembangan nominal transaksi penyelenggara KUPVA BB di Provinsi Bali pada triwulan IV 2019 tercatat meningkat sebesar 19,09% (yoy), dengan nilai nominal sebesar Rp9,35 triliun (beli Rp4,80 triliun; jual Rp4,55 triliun). Kondisi ini meningkat dibanding capaian pada triwulan III 2019 yang tumbuh sebesar 4,72% (yoy). Kondisi ini dipengaruhi oleh akselerasi pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada triwulan IV 2019. Akselerasi wisman didorong oleh masuknya periode peak season pariwisata pada triwulan laporan dan perayaan tahun baru serta bertambahnya penerbangan direct flight internasional (termasuk pada triwulan sebelumnya).

PERKEMBANGAN KESEJAHTERAAN
Secara umum kondisi sektor ketenagakerjaan di Provinsi Bali pada Agustus 2019 menunjukkan kinerja yang menurun dibandingkan Agustus 2018. Jumlah angkatan kerja di Provinsi Bali pada Agustus 2019 mengalami penurunan sebesar 2,34% (yoy) atau menjadi 2,47 juta orang, lebih rendah dibanding Agustus 2018 yang tumbuh 3,73%. Kondisi ini juga diikuti oleh menurunnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menjadi sebesar 73,87% di Agustus 2019, lebih rendah dibanding Agustus 2018 sebesar 76,78%. Penurunan angkatan kerja dan TPAK di periode Agustus 2019 tersebut, berdampak pada meningkatnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), yaitu dari 1,37% (Agustus 2018) menjadi 1,52% (Agustus 2019). Prospek sektor ketenagakerjaan Provinsi Bali pada triwulan I 2020 dan II 2020 diprakirakan akan menunjukkan peningkatan kinerja, terkonfirmasi dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dan hasil Survei Konsumen (SK) periode triwulan IV 2019.

Angka Kemiskinan Provinsi Bali pada September 2019 tercatat sebesar 3,61%, menurun dibanding periode September 2018 yang sebesar 3,91%. Disisi yang lain, gini ratio Provinsi Bali mengalami peningkatan dari 0,364 pada September 2018 menjadi 0,370 pada September 2019. Sejalan dengan penurunan kemiskinan, indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Bali (salah satu indikator tingkat kesejahteraan petani), menunjukkan peningkatan pada triwulan IV 2019 yaitu sebesar 104,31, lebih tinggi dibanding triwulan IV 2018 yang tercatat sebesar 103,57. Kondisi ini menunjukkan menguatnya daya beli dan membaiknya kesejahteraan petani.

PROSPEK EKONOMI BALI
Seiring dengan berlanjutnya pengerjaan beberapa proyek konstruksi dan infrastruktur, masuknya periode puncak panen tanaman bahan makanan dan perayaan HBKN, diprakirakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali pada triwulan II 2020. Kinerja ekonomi Bali diprakirakan akan tumbuh dalam kisaran 4,00%-4,40% (yoy), meningkat dibanding prakiraan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2020 (3,70%-4,10%). Dari sisi permintaan, meningkatnya kinerja ekonomi Bali bersumber dari peningkatan kinerja komponen utama ekonomi Bali, yaitu konsumsi RT, konsumsi pemerintah, investasi dan membaiknya kinerja ekspor LN. Sementara itu dari sisi penawaran, akselerasi kinerja ekonomi Bali diperkirakan bersumber dari membaiknya kinerja semua lapangan usaha utama Bali, yaitu Akmamin, pertanian, transportasi, konstruksi dan perdagangan. Peningkatan kinerja ekonomi Bali juga diprakirakan didorong oleh mulai masuknya periode recovery terkait dengan COVID-19 outbreak, sehingga diprakirakan mendorong membaiknya kunjungan wisatawan, diperkuat dengan masuknya periode pariwisata dan liburan lebaran.

Dengan mencermati perkembangan ekonomi, prompt indikator, hasil survei dan liaison terkini, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali pada tahun 2020 akan tumbuh lebih lebih rendah (melambat) dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun 2019, yaitu dalam kisaran 4,60%-5,00% (yoy).

PROSPEK INFLASI BALI
Inflasi Bali pada triwulan II 2020 diperkirakan akan meningkat dibanding prakiraan triwulan sebelumnya, meskipun masih dalam sasaaran inflasi nasional, yaitu dalam kisaran 3%±1% (yoy). Peningkatan tekanan ini didorong oleh masuknya periode HBKN, yaitu bulan ramadhan dan idul fitri, sehingga akan mendorong peningkatan permintaan. Meskipun terdapat resiko kenaikan inflasi, namun melalui koordinasi dan kerjasama dengan TPID, tingkat inflasi Bali pada triwulan II 2020 diperkirakan tetap dapat terkendali.

Secara keseluruhan, inflasi Bali tahun 2020 diperkirakan akan meningkat dibanding 2019, meskipun demikian, diperkirakan masih akan berada dalam sasaran inflasi nasional 3%±1% (yoy), yaitu berada dibawah nilai tengah range tersebut. Berdasarkan disagregasinya, meningkatnya tekanan inflasi pada tahun 2020, terutama bersumber dari kenaikan tekanan inflasi pada kelompok volatile food dan administered price, sementara kelompok core inflation diperkirakan akan tetap terjaga. Sementara itu, dari sisi kelompok pengeluaran, tekanan harga terutama bersumber pada kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Kecukupan pasokan komoditas pokok dan koordinasi serta langkah-langkah strategis yang dilakukan TPID diprakirakan akan berkontribusi terhadap terkendalinya inflasi.

Tabel For Upload LPP Feb 2020.jpg

 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel