Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Bali Agustus 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020
Perkembangan Ekonomi Makro Daerah
 
           Perekonomian Bali pada triwulan II 2018 menunjukkan akselerasi kinerja dibanding triwulan I-2018. Ekonomi Bali tercatat tumbuh sebesar 6,09% (yoy) diperiode triwulan laporan, lebih tinggi dibanding triwulan I 2018 yang sebesar 5,62% (yoy) dan lebih tinggi dibanding pertumbuhan triwulan II 2017 yang sebesar 5,97% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II 2018, juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama sebesar 5,27% (yoy). Dari sisi permintaan, akselerasi kinerja ekonomi Bali pada triwulan laporan didorong oleh peningkatan kinerja seluruh komponen utama permintaan, yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah serta ekspor luar negeri. Di sisi penawaran, akselerasi kinerja ekonomi Bali pada triwulan laporan didorong oleh meningkatnya kinerja 2 lapangan usaha utama Bali, yaitu lapangan usaha perdagangan dan konstruksi sejalan dengan adanya perayaan hari besar keagamaan (HBKN), pembayaran THR, pelaksanaan pemilukada, libur lebaran yang lebih panjang serta persiapan IMF-World Bank Annual Meeting (IMF-WB AM) 2018 terutama dari sisi penyelesaian proyek konstruksi.

 
           Dari berbagai prompt indikator yang ada, kinerja ekonomi Bali pada triwulan III 2018 diprakirakan akan melanjutkan akselerasi dalam kisaran 6,10%-6,50% (yoy). Pada sisi permintaan, peningkatan kinerja ekonomi Bali diprakirakan akan didorong oleh akselerasi kinerja 2 komponen utama permintaan, yaitu konsumsi rumah tangga dan ekspor luar negeri, sementara kinerja investasi diprakirakan tetap tumbuh tinggi, meskipun sedikit melambat. Sejalan dengan itu, lapangan usaha yang menjadi pendorong utama ekonomi Bali diprakirakan akan bersumber dari lapangan usaha akomodasi makan dan minum, perdagangan besar dan eceran serta transportasi dan pergudangan sejalan dengan masuknya periode peak season pariwisata, masuknya tahun ajaran baru dan stimulus fiskal berupa pembayaran gaji ke 13 serta prakiraan meningkatnya aktivitas MICE menjelang pelaksanaan kegiatan IMF-WB AM 2018.

 
Keuangan Pemerintah
 
           Realisasi nominal belanja pemerintah (APBN, APBD Provinsi Bali dan APBD 9 kabupaten/kota) pada triwulan II 2018 tercatat sebesar Rp 13,36 triliun atau meningkat sebesar 19,13% (yoy), lebih tinggi dibanding peningkatan triwulan II 2017 yang sebesar 4,92% (yoy). Peningkatan ini terutama didorong oleh akselerasi realisasi belanja pada komponen APBD Provinsi Bali dan APBD 9 kabupaten/kota, sementara komponen APBN cenderung melambat, meskipun tetap tumbuh positif. Dengan capaian tersebut, persentase realisasi belanja pemerintah di Bali pada triwulan II 2018 mencapai 34,25%, lebih tinggi dibanding triwulan II 2017 yang sebesar 30,74%. Pada sisi yang lain, realisasi nominal pendapatan pemerintah (APBD Provinsi Bali dan APBD 9 kabupaten/kota) pada triwulan II 2018 tercatat sebesar Rp11,31 triliun atau meningkat sebesar 8,05% (yoy), mengalami akselerasi dibanding triwulan II 2017 yang sebesar 2,97% (yoy). Akselerasi realisasi pendapatan ini, terutama didorong oleh meningkatnya realisasi pendapatan APBD 9 kabupaten/kota pada triwulan laporan, sementara untuk APBD Provinsi Bali cenderung melambat. Dengan kondisi tersebut, persentase realisasi pendapatan pemerintah pada triwulan II 2018 telah mencapai 44,46%, lebih tinggi dibanding capaian triwulan II 2017 yang tercatat 43,79%.

 
Perkembangan Inflasi Daerah
 
           Realisasi inflasi Provinsi Bali pada triwulan II-2018 tercatat sebesar 3,47% (yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 3,10% (yoy). Capaian inflasi Bali pada periode laporan juga lebih tinggi dibanding inflasi nasional pada periode yang sama sebesar 3,12% (yoy). Peningkatan inflasi Bali tersebut terjadi pada sebagian kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan, kelompok sandang, kelompok kesehatan serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sejalan dengan adanya perayaan HBKN pada triwulan laporan. Meskipun demikian, inflasi IHK Bali pada triwulan laporan masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional Bank Indonesia 3,50%±1% (yoy).

 
           Terjaganya inflasi di Provinsi Bali pada triwulan laporan didukung oleh semakin solidnya upaya pengendalian inflasi yang dilakukan Bank Indonesia dan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Namun demikian, masih terdapat beberapa potensi risiko yang perlu diperhatikan seperti masuknya periode  peak season  pariwisata (libur musim panas Eropa dan libur musim dingin Australia), potensi gelombang tinggi yang berisiko menghambat kinerja produksi komoditas perikanan laut dan potensi kenaikan BBM non subsidi seiring dengan terus berlanjutnya peningkatan harga minyak dunia. Risiko-risiko tersebut berpotensi memberikan tekanan inflasi pada kelompok pengeluaran yaitu bahan makanan. Selain itu, masih terdapat risiko peningkatan tekanan inflasi akibat penyelenggaraan IMF-WB AM 2018. Inflasi Bali pada triwulan III 2018 diprakirakan lebih tinggi dibanding triwulan II 2018, yaitu pada kisaran 3,95% - 4,35% (yoy). Menyikapi adanya risiko dan tantangan tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) provinsi Bali akan terus berupaya melakukan pengendalian harga baik melalui forum koordinasi dan langkah tindak lanjut dengan OPD terkait. Program kerja TPID akan difokuskan pada aspek produksi, distribusi, serta menjaga ekspektasi masyarakat melalui sosialisasi dan publikasi serta memberikan himbauan kepada masyarakat mengenai hal-hal yang diperlukan dalam upaya menjaga stabilitas harga. Meskipun diprakirakan menunjukkan peningkatan, inflasi Bali pada triwulan III 2018 masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sesuai PMK No.93/PMK.011/2014, yaitu sebesar 3,5%±1% (yoy).

 
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
 
           Kredit korporasi pada triwulan II 2018 mengalami kontraksi sebesar 2,91%(yoy), lebih rendah dibanding triwulan I 2018 yang terkontraksi sebesar 1,15% (yoy). Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya pertumbuhan kredit modal kerja dan melambatnya pertumbuhan kredit investasi pada periode yang sama. Meskipun mengalami penurunan pertumbuhan, kualitas kredit korporasi justru menunjukkan peningkatan kualitas kredit yang tercermin oleh penurunan NPL dari 6,33% pada triwulan I 2018 menjadi 5,22% pada triwulan II 2018. Sementara itu,  kinerja kredit perseorangan (rumah tangga) menunjukkan perlambatan dengan hanya tumbuh sebesar 5,42% (yoy) pada triwulan II 2018, lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 6,58% (yoy). Melambatnya pertumbuhan kredit rumah tangga tersebut, justru diikuti oleh peningkatan kualitas kredit yang tecermin dari penurunan NPL dari 3,08% di triwulan sebelumnya menjadi 2,78%. Sementara itu, perkembangan kredit UMKM pada triwulan II 2018 tercatat tumbuh sebesar 6,96% (yoy), tumbuh melambat dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat 8,66% (yoy). Melambatnya kinerja kredit UMKM, terutama disebabkan oleh perlambatan kredit pada sektor PHR yang mendominasi kredit UMKM Bali selama ini. Meskipun tumbuh melambat, namun kualitas kredit UMKM masih terjaga pada level NPL sebesar 3,56%.

 
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
 
           Perkembangan kinerja transaksi tunai pada triwulan II 2018 di Provinsi Bali menunjukkan terjadinya net outflow (uang yang keluar dari Bank Indonesia melalui perbankan lebih besar dibanding uang yang masuk) sebesar Rp1,35 triliun, didorong oleh adanya perayaan HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional) yaitu Idul Fitri, Pagerwesi dan Waisak serta adanya pembayaran THR (Tunjangan Hari Raya). Sementara itu, transaksi melalui SKNBI menunjukkan peningkatan dibanding triwulan sebelumnya, baik secara nominal maupun volume. Nominal perputaran kliring pada triwulan II 2018 tercatat sebesar Rp13,84 triliun atau terakselerasi menjadi tumbuh sebesar 3,5% (yoy) dibanding triwulan sebelumnya yang terkontraksi -16,2% (yoy). Sejalan dengan itu, volume transaksi kliring juga menunjukkan perbaikan menjadi 533.718 lembar atau terkontraksi sebesar 1,2% (yoy) dibanding triwulan I 2018 yang terkontraksi sebesar 13,4% (yoy). Pada sisi yang lain, transaksi penyelenggara KUPVA BB di Provinsi Bali pada triwulan II 2018 tercatat tumbuh sebesar 15,82% (yoy), menunjukkan akselerasi dibanding triwulan sebelumnya 12,36% (yoy) pada triwulan I 2018. Nominal transaksi jual beli valas pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp9,93 triliun, terdiri dari transaksi pembelian sebesar Rp4,92 triliun dan transaksi penjualan sebesar Rp5,01 triliun. Peningkatan transaksi KUPVA pada triwulan II 2018 sejalan dengan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada triwulan laporan seiring pulihnya pariwisata Bali pasca peningkatan aktivitas Gunung Agung.

 
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
 
           Secara umum kondisi ketenagakerjaan Provinsi Bali pada Februari 2018 menunjukkan kinerja yang semakin baik. Jumlah angkatan kerja tercatat sebesar 2,6 juta orang atau meningkat 5,60% (yoy) dibanding periode Februari 2017. Kondisi ini juga diikuti oleh peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Februari 2018 sebesar 79,83%, lebih tinggi dibanding Februari 2017 sebesar 76,87%. Peningkatan angkatan kerja dan TPAK Februari 2018, berdampak pada penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), yaitu dari 1,28% pada Februari 2017 menjadi 0,86% pada Februari 2018. Prospek ketenagakerjaan pada triwulan II 2018 diprakirakan akan semakin baik dan berlanjut pada triwulan III 2018 didorong oleh penyelenggaraan acara IMF World Bank Annual Meeting tahun 2018 dan periode peak season pariwisata pada triwulan III 2018. Sementara itu, tingkat kemiskinan pada Maret 2018 tercatat sebesar 4,01%, menurun dibanding September 2017 (4,14%) dan Maret 2017 (4,25%).

 
Prospek Perekonomian Daerah
 
           Dengan mencermati perkembangan ekonomi, prompt indikator dan hasil suvei serta liaison terakhir, perekonomian Provinsi Bali untuk keseluruhan 2018 diprakirakan akan mengalami akselerasi dan tumbuh dalam kisaran 5,90%-6,30% (yoy). Dari sisi permintaan, akselerasi tersebut didorong oleh meningkatnya 3 komponen permintaan yaitu konsumsi pemerintah, investasi dan LNPRT. Sementara itu dari sisi lapangan usaha, akselerasi kinerja ekonomi Bali 2018 diprakirakan didorong oleh meningkatnya kinerja 4 lapangan usaha utama ekonomi Bali, yaitu lapangan usaha pertanian, industri pengolahan, konstruksi serta transportasi dan pergudangan. Sementara itu, lapangan usaha akomodasi makan dan minum serta pedagangan besar dan eceran tetap dapat tumbuh tinggi, meskipun diprakirakan menunjukkan tendensi yang melambat.

 
           Inflasi Bali pada triwulan IV 2018 diprakirakan melandai dibanding triwulan sebelumnya dalam kisaran 3,75%-4,15% (yoy). Tingkat inflasi yang lebih rendah tersebut disebabkan oleh masuknya periode panen, khususnya untuk komoditas pangan dan telah berlalunya periode peak season pariwisata di Bali, sehingga tingkat harga-harga secara umum relatif lebih terkendali. Meskipun terdapat resiko kenaikan inflasi, namun melalui koordinasi dan kerjasama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah, tingkat inflasi Bali pada triwulan IV 2018 diprakirakan dapat terjaga, sejalan dengan upaya TPID se-Provinsi Bali dalam pengendalian inflasi dan beberapa langkah-langkah strategis yang akan dilakukan untuk melakukan pengendalian inflasi.

 
           Secara keseluruhan, inflasi Bali 2018 diprakirakan akan mengalami peningkatan dan berada dalam kisaran 3,75%-4,15% (yoy), lebih tinggi dibanding realisasi inflasi 2017 yang sebesar 3,32% (yoy). Meskipun demikian, prakiraan inflasi tersebut masih masuk dalam rentang sasaran inflasi Nasional yang sebesar 3,5%±1% (yoy), sebagaimana tercantum dalam PMK No.93/PMK.011/2014 tentang Sasaran Inflasi. Berdasarkan kelompok pengeluarannya, peningkatan tekanan inflasi pada 2018 terutama bersumber dari hampir semua kelompok pengeluaran.

 
Indikator KEKR Agustus 2018.jpg


Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel