22nd BI Institute Open Lecture Series "Financial Innovation in Digital Age: Challenges for Financial System & Stability" - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 September 2020
 
Kampus Utama BINS Gedung D - Jakarta - Honorary Board of Bank Indonesia Institute, Andrew Sheng menyampaikan bahwa Bank Indonesia sebagai central bank harus mampu memberikan inovasi dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Kuncinya, Bank Indonesia harus mampu berpikir out of the box. Aktor yang berada di dalamnya harus mempunyai integritas, tanggung jawab, dan jiwa profesional. Hal tersebut diungkapkannya sebagai narasumber pada kegiatan BI Institute Open Lecture Series ke-22 yang berlangsung di Ruang Kartini, Gedung D, Kampus Utama BI Institute pada Senin 26 Agustus 2019.
Dibuka oleh Kepala Grup Pengembangan Akademi Bank Indonesia Institute (BINS), Ibu Arlyana Abubakar, Open Lecture Series ke-22 mengangkat tema "Financial Innovation in Digital Age: Challenges for Financial System & Stability.” Kegiatan ini dihadiri oleh 94 peserta, terdiri dari pegawai internal, perwakilan beberapa instansi (Mandiri Institute, LPPI, PPATK, Bappenas, Kemenkeu, Kemenko Ekonomi, IMF, PT.DAB-GoPay, Ciptadana), dan akademisi dari berbagai universitas yang ada di wilayah Jakarta.
Di awal pemaparannya, Andrew Sheng menekankan bahwa salah satu hal yang perlu digarisbawahi pada pembahasan mengenai ekonomi adalah bahwa ekonomi tidak hanya mengenai pasar namun telah mengarah kepada ekonomi politik. Paradigma lama tentang free market sudah tidak sesuai diterapkan pada masa ini karena gagal menjelaskan 6G mega-trends yang menjadi poin krusial ekonomi dunia  1) Geopolitical shift, misal AS vs Rusia , 2) Geographical shift, negara Asia mulai kembali mendominasi ekonomi dunia, 3) Gender shift, wanita semakin mendominasi perekonomian keluarga, 4) Generational shift, ketidakseimbangan antara jumlah tenaga kerja tua yang pension dengan tenaga kerja muda yang dapat bekerja, 5) Geo-climate shift, terutama masalah akibat global warming, 6) G5 tech shift, teknologi baru 5G. Selain itu, masalah inequality yang semakin besar juga masih menjadi masalah global.
Digitalisasi pada industry 4.0 bermaksud untuk menekan marginal cost pada proses produksi hingga mendekati nol. Begitu pula pada finance 4.0 yang bermuara pada tujuan untuk mencetak uang atau membuat uang dengan biaya nol. Pada perekonomian global, terdapat tiga level global network, yaitu physical melalui perdagangan, finance untuk mendukung physical trade, serta data network yang dapat menyederhanakan semuanya. Peran penting data network dalam financial technology pada global network tersebut telah mendorong data dan pengolahan informasi menjadi bagian penting dari perekonomian, atau dengan kata lain no information, no market. Untuk kawasan Asia sendiri, Asian supply chain sebenarnya dapat dimotori oleh dua negara, yaitu Jepang sebagai leader dalam manufaktur dan India sebagai ahli teknologi.
Penerapan fintech untuk mendorong efektivitas ekonomi perlu mendapat perhatian khusus karena dalam perkembangannya memunculkan problematika baru, seperti perlunya penggunaan teknologi yang canggih serta berdirinya banyak start up baru memunculkan dilemma antara terbukanya banyak inovasi baru serta pembelian oleh perusahaan besar bagi start up yang menjanjikan yang justru akan semakin menjadi ancaman bagi lembaga keuangan.
Facebook dan google sebagai dua raksasa teknologi dunia telah menguasai hampir seluruh data penduduk dunia, termasuk Indonesia. Sebagai negara yang memiliki pasar terbesar kelima di dunia, Indonesia selalu menjadi sasaran pasar banyak industri dunia, termasuk teknologi. Ironisnya, kita orang Indonesia memberikan data secara cuma-cuma kepada perusahaan teknologi tersebut tanpa mendapatkan imbal hasil apapun. Oleh karena itu, take it back the data adalah salah satu solusi terbaik untuk mengamankan data kita agar tidak disalahgunakan oleh pihak lain yang ingin menjatuhkan. Selain digital economy, Indonesia juga harus berfokus pada bonus demografi yang saat ini tengah dihadapi. Jumlah angkatan kerja muda yang terlampau banyak ini seharusnya dapat diberdayakan oleh Indonesia mengingat negara ini juga memiliki sumberdaya yang melimpah yang masih belum banyak dioptimalkan pemanfaatannya.
OLS 22 a.jpg
OLS 22 b.jpg
OLS 22 c.jpg


 
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel