<div style="margin:0cm 0cm 8pt;text-align:left"><b><span lang="EN-US" style="font-family:"frutiger 45 light"">Tan Sri Dr. Zeti Akhtar Aziz: <b><span lang="EN-US" style="font-family:"frutiger 45 light"">Rasa Peduli, Keyakinan yang Kuat, dan Tidak Kompromi Merupakan Karakter Pemimpin yang Ideal</span></b></span></b></div> - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
24 November 2020
JAKARTA - Era digital membawa banyak perubahan kepada kehidupan ekonomi, khususnya di negara-negara ASEAN. Hal tersebut disampaikan oleh mantan Gubernur Bank Negara Malaysia (BNM) dan anggota Dewan Kehormatan Bank Indonesia Institute, Tan Sri Dr. Zeti Ahtar Aziz dalam seminar yang diadakan oleh Bank Indonesia Institute di function room lantai empat Gedung Thamrin, Bank Indonesia pada Senin 6 Mei 2019.
Bertajuk “Bank Indonesia Leadership Forum, Leader’s Transformation in The Digital Era: ASEAN Strategic Perspective”, acara ini dibuka oleh anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia Bapak Sugeng, dimana dalam sambutannya beliau menggarisbawahi bahwa transformasi digital menjadi kunci penting asimilasi antara inovasi dan teknologi. “Hal-hal yang datang bersama digitalisasi ialah informasi yang berlimpah, komunikasi yang terhubung tanpa batas, segalanya menjadi lebih transparan dan akuntabel, laju perubahan yang sekarang menjadi lebih cepat”, tukas Bapak Sugeng dalam sambutannya. Lebih lanjut disampaikan bahwa  mempersiapkan SDM yang berkualitas sangat krusial perannya dalam menghadapi transformasi digital.
Sementara itu Tan Sri Dr. Zeti Akhtar Aziz, yang pernah menjabat sebagi Gubernur BNM periode 2000-2016, menyatakan bahwa arus perubahan ini membuat lebih banyak orang empowered. Kemudian terjadi pergesaran kekuatan dari dunia barat ke timur.
Dalam konteks digitalisasi hal tersebut memiliki hubungan yang erat dengan dinamika kebanksentralan. Dimana pemimpin harus menghasilkan masa depan yang lebih baik atau dalam kata lain bagaimana mereka mampu mencapai hasil yang lebih baik dilandasi dengan semangat untuk membangun bangsa.
“Kita tidak akan membicarakan strategi teknis atau model bisnis yang muncul akibat digitalisasi, tetapi lebih fokus kepada aspek kepemimpinan, dimana kita butuh untuk menemukan kembali bentuk kepemimpinan yang dalam banyak kesempatan mampu untuk bertindak cekatan sepanjang masa”, imbuh Dr. Zeti.
Aspek kolaborasi merupakan hal penting. Sebagai contoh dalam menjaga stabilitas harga, banyak pihak yang terlibat, bukan hanya bank sentral. Masing-masing memiliki peran tersendiri dan fungsi pemimpin adalah untuk mengoptimalkan apa yang bisa dihasilkan organisasi tersebut.
Pemimpin harus siap untuk menghadapi segala tantangan. Kemudian juga memahami resiko dan konsekuensi yang ditimbulkan pilihannya. Kemudian pemimpin selanjutnya harus teguh dengan arah tindakan yang telah diambil.
 
Demokratis vs Otokratis Ala Dr Zeti
Mengutip dari buku berjudul Open Source Leadership yang diterbitkan Iclif, Dr. Zeti menjelaskan bahwa penting bagi kita untuk bergantung pada sensus tetapi ini tidak hanya tentang membangun konsensus dan harmoni. Kasus yang muncul di era digital menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan otokratis positif memberi hasil lebih terutama di masa yang bergulir cepat seperti era digital.
Dr. Zeti menjelaskan bahwa level kerjasama di dunia kini bisa dilakukan dengan lebih mudah di era digital. Hal ini memperbesar konektivitas, memfasilitasi kolaborasi, dan meningkatkan efisiensi. Menurut beliau, kejelasan dari apa yang dihasilkan, maksud dan tujuan, instrumen untuk mencapainya, dan ketekunan adalah hal-hal penting yang harus dimilki seorang pemimpin.
“Saat ini kita memasuki era dimana ekonomi ASEAN menjadi pemimpin permainan. Kita memiliki keuntungan yang besar dibandingkan kawasan lainnya dan paling beragam kegiatan ekonomimnya”’, jelas beliau.
Sementara terjadi kemajuan yang besar di ASEAN, kawasan ini masih memiliki tantangan seperti pendidikan dan fasilitas. Tren positif yang sudah dapat dilihat ialah ASEAN lebih memilih integrasi daripada penyatuan melalui penguatan kolaborasi dan koordinasi.
“Ada harapan yang besar untuk masyarakat ASEAN. Untuk mengedepankan kepentingan yang lebih besar. Kita harus menggunakan digital sebgai alat untuk lebih banyak berkoordinasi”, himbau Dr.Zeti. 
 
BINS Leadership Forum a.JPG

BINSLEADERSHIPFORUMZETIAKHTAR.JPG

BINS Leadership Forum b.JPG





 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel