Cerita BI

BI Icon

​Departemen Komunikasi​​​​

8/9/2025 8:00 PM
Hits: 285

Kopi Wanoja dan Jejak Perempuan Tani Inklusif

Di antara suara tawa ringan dan aroma kopi yang mulai menguar, ada kisah panjang yang mengalir dari lereng Gunung Kamojang. Kisah ini tentang keberanian, ketekunan, dan harapan yang ditanam bersama biji-biji kopi. Kisah ini bernama Kopi Wanoja, sebuah gerakan pertanian yang tidak hanya membangun ekonomi desa, tetapi juga merajut keberdayaan perempuan dalam ruang yang inklusif.

Awal yang Sederhana, Visi yang Besar

Tahun 2012, di Kampung Sangkan, Desa Laksana, Kabupaten Bandung, Eti Sumiati memutuskan untuk menanam kopi. Ia baru saja purna tugas sebagai Aparatur Sipil Negara, dan melihat peluang untuk menghidupkan kembali tanah kampungnya. Bersama beberapa perempuan tetangga, ia mendirikan kelompok tani yang diberi nama “Wanoja”, yang berarti perempuan dalam bahasa Sunda.

Visi Eti sederhana namun tegas: perempuan harus punya ruang yang setara untuk berkarya, mandiri, dan ikut menentukan arah ekonomi kampung. Di awal, lahan yang mereka kelola hanya beberapa hektar dengan satu pekerja tetap. Namun, modal utama mereka adalah tekad, kebersamaan, dan keyakinan bahwa kopi dari tanah Kamojang punya masa depan.

Menumbuhkan Kebun, Menumbuhkan Kepercayaan

Kata ‘instan’ bisa kita kesampingkan dari perjalanan Wanoja. Tahun demi tahun, mereka menambah lahan, memperbaiki proses panen, dan mempelajari cara mengolah biji kopi agar memenuhi standar pasar. Kelompok ini berhasil menjelma menjadi pionir dalam gerakan tani perempuan yang tak hanya sukses menembus pasar ekspor, tetapi juga konsisten menerapkan prinsip-prinsip ekonomi hijau.

Saat Wanoja mulai membuka lahan di lereng Kamojang, mereka tak sekadar menanam kopi, tapi membangun rasa percaya, sebuah pondasi kuat bagi komunitas perempuan yang tumbuh bersama. Awalnya, hanya beberapa perempuan, kini mereka telah berkembang menjadi lebih dari 100 anggota yang mayoritas adalah perempuan. Lebih jauh, bagi banyak perempuan desa, penghasilan dari Wanoja adalah sumber kebebasan finansial.

Menggandeng Sejak Awal, Menguatkan Hingga Kini

Dukungan Bank Indonesia menjadi salah satu tonggak penting perjalanan Kopi Wanoja. Sebelum mendapatkan eksposur pasar dan pembiayaan, Bank Indonesia mendorong peningkatan kualitas produk Wanoja melalui pelatihan good agricultural practices, pengelolaan pasca panen, dan branding produk. Selain itu, Bank Indonesia juga mendorong peningkatan kapasitas kelompok perempuan tersebut melalui program kurasi dan pembinaan UMKM, Wanoja mendapatkan pendampingan manajemen usaha, sertifikasi kualitas, dan jejaring kemitraan. Langkah ini membuat Kopi Wanoja lebih siap mengajukan pembiayaan ke perbankan, karena sudah memenuhi syarat administratif, finansial, dan teknis yang dibutuhkan.

Menguatkan Ekosistem, Bukan Mendominasi

Salah satu lompatan besar yang didorong Bank Indonesia adalah penerapan teknologi pencatatan digital dan traceability system dalam pengelolaan kopi. Dengan sistem ini, setiap proses mulai dari penanaman, panen, pengolahan, hingga pengiriman terdata secara transparan. Data ini tidak hanya membantu menjaga kualitas produk, tetapi juga menjadi bukti kredibilitas usaha di mata lembaga keuangan.

Bagi perbankan, keberadaan catatan digital dan laporan keuangan sederhana membuat proses credit scoring lebih mudah dan cepat. Wanoja kini bisa mengakses pembiayaan berbunga rendah, karena dinilai memiliki manajemen usaha yang rapi dan potensi pasar yang jelas. Dengan ekosistem yang inklusif, srikandi Wanoja tidak hanya menjadi bagian dari cerita kopi, tetapi juga menjadi penulis lembar baru tentang kemandirian dan kepemimpinan di sektor agribisnis.

Menariknya, para srikandi Wanoja memutuskan fokus menjadi agregator green bean, bukan produsen kopi siap seduh. Alasannya, mereka ingin menjaga ekosistem usaha kopi lokal tetap sehat. Dengan hanya menjual biji kopi mentah berkualitas, mereka memberi ruang bagi pelaku usaha lain untuk berkembang tanpa merasa tersaingi. Prinsip inklusif ternyata punya dampak strategis karena petani kecil di sekitar merasa dilibatkan dan diuntungkan. 

Menembus Pasar Dunia dari Lereng Kamojang

Puncak pencapaian Wanoja mungkin terjadi pada 6 September 2024 lalu. Kala itu, mereka melepas ekspor perdana ke Belanda sebanyak 18 ton kopi senilai hampir Rp 2,5 miliar. Tidak hanya itu, mereka juga rutin mengekspor kopi ke Arab Saudi, yang awalnya hanya 2 ton per tahun, kini meningkat menjadi 20 ton atau setara satu kontainer penuh. Hal tersebut membawa Wanoja dinobatkan sebagai Juara Nasional UMKM Ekspor Mandiri, membuktikan kemampuan mereka menembus pasar global tanpa perantara.

Keberhasilan ini bukan hanya soal angka penjualan. Ini menjadi pembuktian bahwa produk dari desa dan dikelola oleh kelompok perempuan dengan prinsip inklusif dan didukung teknologi, bisa menembus panggung dunia.

Bagi Wanoja, setiap penghargaan adalah tanda kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun, kepercayaan yang berakar pada kebun, bertumbuh dalam komunitas, dan berbuah pada pengakuan publik.

Dampak Nyata Seiring Harapan yang Terus Mengalir

Kopi Wanoja telah menciptakan lapangan kerja langsung bagi sekitar 75 perempuan warga lokal. Saat musim panen, jumlah ini bisa meningkat signifikan. Bagi para pekerja, Wanoja adalah tempat belajar keterampilan baru, mulai dari teknik panen selektif, grading biji, hingga pemahaman standar ekspor.

Kopi Negeri, Perempuan, dan Masa Depan Inklusif

Kisah Kopi Wanoja mengajarkan bahwa pertanian bukan hanya soal menanam dan memanen. Ini adalah proses menumbuhkan manusia, memberi ruang bagi perempuan untuk memimpin, membangun sistem yang saling menguatkan, dan membuka jalan ke pasar dunia.

Di tengah tantangan ekonomi global, Wanoja adalah bukti bahwa inklusivitas bukan sekadar jargon, melainkan kekuatan nyata untuk menggerakkan perubahan. Dari lereng Kamojang, mereka mengirim pesan ke seluruh dunia: bahwa desa-desa Indonesia punya potensi besar jika diberi akses, dukungan, dan kesempatan yang setara.

Mau merasakan langsung inspirasi serupa? 

Sobat Rupiah bisa datang ke Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 pada 7–10 Agustus di Jakarta International Convention Center (JICC). 

Di sana, Sobat akan bertemu dengan para pelaku UMKM seperti Kopi Wanoja, yang bukan hanya menyeduh rasa, tetapi juga harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih inklusif.




Lampiran
Kontak

Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131

e-mail : bicara@bi.go.id
​Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Halaman ini terakhir diperbarui 8/9/2025 8:12 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?
Tag :

Baca Juga