Laporan

BI Icon
​​​​​​​​Departemen Manajemen Strategis dan Tata Kelola​​​​​​
9/14/2026 8:00 PM
Hits: 19

Laporan Kelembagaan Bank Indonesia Triwulan II - 2026

Triwulan
Laporan Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Bank Indonesia

LKBI-Tw.II-2026.pngLingkungan Strategis Kebijakan dan Kelembagaan Bank Indonesia

Perekonomian global pada triwulan II 2026 menghadapi tekanan yang semakin berat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengganggu produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan dunia. Meskipun ketidakpastian global sempat mereda setelah tercapainya interim deal antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada pertengahan Juni 2026, reeskalasi konflik pada awal Juli 2026 kembali meningkatkan risiko global. Perkembangan tersebut semakin menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi, sehingga mendorong kebijakan moneter global yang cenderung lebih ketat.

Di pasar keuangan global, prospek suku bunga kebijakan AS yang tetap tinggi seiring tekanan inflasi, tingginya imbal hasil aset keuangan AS, serta berlanjutnya ketidakpastian geopolitik memperkuat preferensi investor terhadap aset aman (safe-haven assets). Dinamika tersebut membatasi aliran modal ke negara berkembang, mendorong penguatan indeks dolar AS terhadap negara maju dan negara berkembang, serta menyebabkan tekanan di pasar keuangan global tetap tinggi. Pandangan berbagai lembaga internasional dan otoritas global seperti International Monetary Fund (IMF), World Bank, Bank of England (BOE), European Central Bank (ECB), Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), serta JP Morgan mengonfirmasi bahwa kondisi perekonomian global pada triwulan II 2026 semakin berat akibat meningkatnya ketidakpastian yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan tekanan inflasi, serta memperbesar volatilitas pasar keuangan dan risiko stabilitas keuangan.

Di tengah kondisi global yang semakin berat, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tetap baik, meski turut menghadapi tekanan eksternal yang meningkat. Kondisi tersebut menuntut penguatan respons bauran kebijakan serta sinergi Bank Indonesia dengan Pemerintah dan otoritas terkait lainnya untuk menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi. Lembaga nasional dan internasional turut mengakui ketahanan perekonomian Indonesia, meskipun tekanan terhadap prospek pertumbuhan, nilai tukar, inflasi, serta ruang kebijakan dalam menjaga stabilitas makroekonomi diperkirakan tetap tinggi seiring pelemahan ekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Di tengah beratnya tantangan perekonomian tersebut, perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026 tetap tumbuh baik. Ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,29% (yoy), melanjutkan pertumbuhan sebesar 5,61% (yoy) pada triwulan sebelumnya. Pertumbuhan didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat seiring momentum libur sekolah dan berbagai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), meningkatnya konsumsi Pemerintah, termasuk realisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), investasi yang meningkat sejalan dengan realisasi penanaman modal, serta ekspor yang tetap tumbuh didukung oleh permintaan mitra dagang utama. Ketahanan eksternal perekonomian tetap terjaga, tecermin dari cadangan devisa yang tetap kuat sebesar 145,3 miliar dolar AS, meskipun kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat di tengah defisit neraca perdagangan migas dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, seiring upaya Bank Indonesia untuk terus memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah. Inflasi IHK tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah, didukung oleh konsistensi kebijakan Bank Indonesia dan sinergi pengendalian inflasi bersama Pemerintah. Intermediasi perbankan dan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, tecermin dari pertumbuhan kredit yang meningkat, permodalan dan likuiditas perbankan yang tetap kuat, serta risiko kredit yang rendah. Di sisi lain, transaksi ekonomi dan keuangan digital terus tumbuh didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal untuk menopang aktivitas ekonomi.

Selain dinamika perekonomian global dan domestik, pada triwulan II 2026 Bank Indonesia juga mencermati perubahan lingkungan strategis yang semakin kompleks yang memerlukan penguatan kerangka kebijakan dan kelembagaan. Perubahan tersebut terutama bersumber dari penguatan mandat Bank Indonesia pasca berlakunya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026, pergeseran lanskap ekonomi dan keuangan global, akselerasi inovasi keuangan digital, serta pesatnya perkembangan teknologi. Pada saat yang sama, kebutuhan sumber daya manusia dengan keahlian yang semakin spesifik dan tuntutan efisiensi anggaran juga meningkat. Berbagai perkembangan tersebut menghadirkan peluang untuk memperkuat peran Bank Indonesia, sekaligus menuntut respons kebijakan dan transformasi kelembagaan yang semakin terintegrasi, adaptif, dan akuntabel. Berbagai lembaga, termasuk pengamat ekonomi, mengonfirmasi bahwa meningkatnya ketidakpastian global tidak hanya memperberat tantangan perekonomian, tetapi juga meningkatkan kompleksitas kebijakan dan kelembagaan Bank Indonesia, terutama dalam implementasi amandemen UU P2SK, penguatan efektivitas transmisi kebijakan, serta respons terhadap perkembangan teknologi. 

Respons Kebijakan Bank Indonesia

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang menghadirkan tantangan perekonomian domestik yang berat pada triwulan II 2026, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, serta bersinergi erat dengan bauran kebijakan ekonomi nasional dan program Asta Cita Pemerintah. Kebijakan moneter difokuskan pada penguatan stabilitas nilai tukar Rupiah dan ketahanan eksternal (“pro-stability") melalui kenaikan BI-Rate sebesar 100 bps menjadi 5,75%, penguatan intensitas intervensi di pasar valuta asing, penyesuaian tingkat struktur suku bunga instrumen moneter, peningkatan daya tarik instrumen keuangan domestik bagi investasi portofolio asing, serta percepatan pendalaman PUVA untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan dan menjaga kecukupan likuiditas.

Kebijakan makroprudensial akomodatif terus ditempuh untuk memperkuat fungsi intermediasi perbankan, meningkatkan pembiayaan kepada sektor-sektor produktif, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Kebijakan sistem pembayaran diarahkan untuk memperkuat dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi melalui percepatan digitalisasi sistem pembayaran, peningkatan efisiensi transaksi ekonomi dan keuangan, serta penguatan integrasi ekosistem ekonomi dan keuangan digital nasional. Keseluruhan bauran kebijakan tersebut didukung oleh sinergi yang erat dengan Pemerintah, KSSK, dan mitra kerja lainnya, serta diperkuat melalui kerja sama internasional di bidang kebanksentralan, konektivitas sistem pembayaran, penggunaan mata uang lokal, dan fasilitasi investasi serta perdagangan untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. 

Transformasi Bank Indonesia

Bank Indonesia terus memperkuat transformasi kebijakan dan kelembagaan untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas dan pencapaian tujuan di tengah dinamika lingkungan strategis yang semakin kompleks. Di area kebijakan, Bank Indonesia melanjutkan pengembangan kerangka kerja macrofinancial linkages yang mengintegrasikan kebijakan moneter dan makroprudensial dalam pengelolaan likuiditas guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan. Bank Indonesia juga mengembangkan kerangka transmisi kebijakan melalui sektor perbankan dan lembaga keuangan nonbank (IKNB), termasuk pemetaan kanal transmisi dan penguatan peran sektor keuangan dalam mendukung intermediasi serta penyaluran kredit dan pembiayaan kepada sektor riil. Berbagai upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan, memperkuat intermediasi, serta mendukung stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Selain itu, Bank Indonesia memperkuat fungsi koordinasi dan komunikasi kebijakan melalui Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) guna mempercepat transmisi kebijakan di sisi demand, termasuk membangun optimisme pelaku usaha dan investor. Program tersebut juga diarahkan untuk menyelaraskan berbagai program dan sinergi antarpemangku kepentingan, di antaranya Kementerian/Lembaga, Otoritas, dan Industri (KLOI) untuk mengidentifikasi serta memfasilitasi penyelesaian berbagai hambatan intermediasi.

Transformasi sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan terus dilanjutkan. Transformasi sistem pembayaran dilanjutkan melalui pengembangan New BI-FAST, modernisasi BI-RTGS dan BI-SSSS, penguatan konektivitas pembayaran lintas negara, serta pendalaman Wholesale Securities Ledger sebagai bagian dari pengembangan Rupiah Digital. Transformasi juga dilakukan untuk memperkuat proses bisnis dan proses kerja perumusan dan pelaksanaan baruan kebijakan melalui integrasi data dan pengembangan AI dalam proses analisis dan perumusan kebijakan, antara lain nowcasting, sentiment analysis, dan pengembangan berbagai use case berbasis data untuk menghasilkan asesmen yang lebih cepat, granular, dan forward-looking. Transformasi juga dilakukan untuk memperkuat infrastruktur PUVA melalui pengembangan BI-ETP untuk mendukung penerbitan SVBI/SUVBI dan transaksi repo valas, serta pengembangan infrastruktur data untuk meningkatkan transparansi harga dan price discovery. Berbagai inisiatif tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi transaksi, memperdalam pasar keuangan, dan meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan.

Di area kelembagaan, transformasi difokuskan pada penguatan tata kelola, penyederhanaan proses kerja, kualitas SDM, dan digitalisasi kelembagaan. Implementasi Bauran Kebijakan Kelembagaan (BKK) diperkuat melalui penyederhanaan, standardisasi, dan digitalisasi proses bisnis, termasuk pengembangan platform kerja digital untuk mendukung evaluasi dan pengendalian kinerja, serta pengambilan keputusan secara end-to-end, yang didukung oleh integrasi data dan pemanfaatan AI. Penguatan SDM difokuskan pada pengembangan  kompetensi pegawai officer maupun non-officer, antara lain melalui penataan dan penyesuaian struktur program pengembangan kepemimpinan kebanksentralan bagi pegawai potensial agar selaras dengan kebutuhan organisasi, serta pengembangan kurikulum pelatihan untuk meningkatkan kapabilitas digital dan AI. Transformasi digital juga dilakukan di area kelembagaan  melalui pengembangan infrastruktur teknologi digital, antara lain untuk mendukung pemanfaatan AI, cloud computing, serta peningkatan keamanan informasi dan manajemen risiko. 

Capaian Kinerja Bank Indonesia

Di tengah semakin beratnya tantangan lingkungan strategis global, nasional, dan kelembagaan, Bank Indonesia berhasil mencapai target Indikator Kinerja Utama (IKU) triwulan II 2026 sesuai tahapan yang sudah direncanakan. Capaian ini menegaskan efektivitas kebijakan Bank Indonesia dalam merespons dinamika ekonomi dan lingkungan strategis terkini, didukung oleh inovasi dan transformasi berkelanjutan, baik di area kebijakan maupun kelembagaan, termasuk penguatan kerangka dan implementasi sistem tata kelola yang baik dan profesional. Sinergi erat yang terus dilakukan oleh Bank Indonesia sepanjang triwulan II 2026, baik dengan Pemerintah maupun mitra kerja strategis lainnya, turut memperkuat persepsi positif terhadap kebijakan Bank Indonesia dan perekonomian Indonesia, termasuk pengakuan dari lembaga internasional.

Lampiran
Kontak

Contact Center BICARA : (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Halaman ini terakhir diperbarui 9/14/2026 8:49 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga