Laporan

BI Icon
​​​​​​​​Departemen Manajemen Strategis dan Tata Kelola​​​​​ ​
6/12/2026 5:00 PM
Hits: 401

Laporan Kelembagaan Bank Indonesia Triwulan I - 2026

Triwulan
Laporan Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Bank Indonesia

LKBI-Tw.I-2026.JPGPerang di Timur Tengah memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global. Serangan Israel dan AS ke Iran yang diikuti dengan serangan pembalasan Iran sejak akhir Februari 2026 makin menekan prospek pertumbuhan global. Melonjaknya harga minyak dan komoditas dunia berdampak negatif terhadap rantai pasok perdagangan antarnegara sehingga menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diprakirakan lebih lambat menjadi 3,1% dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,2%, meskipun terjadi penurunan tarif resiprokal AS. Tekanan inflasi global meningkat dari 3,8% menjadi 4,1%, sehingga mempersempit ruang penurunan kebijakan moneter global, termasuk  makin tertundanya penurunan Fed Funds Rate (FFR). Yield US Treasury terus meningkat akibat membengkaknya defisit fiskal AS.

Pasar keuangan global juga memburuk dengan kenaikan premi risiko investasi global yang mengakibatkan aliran modal bergeser ke safe-haven assets, terutama ke pasar uang AS. Indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) menguat, sedangkan mata uang emerging markets makin tertekan. Berbagai lembaga internasional dan tokoh global seperti International Monetary Fund (IMF), European Central Bank (ECB), Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), World Bank, serta UN Trade and Development menegaskan bahwa lingkungan strategis global pada triwulan I 2026 semakin berat dan diliputi ketidakpastian tinggi akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Perekonomian global dihadapkan pada risiko perlambatan pertumbuhan, meningkatnya tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi dan terganggunya rantai pasok global, serta meningkatnya volatilitas pasar keuangan dan premi risiko investasi global. Berbagai lembaga tersebut juga menekankan bahwa konflik geopolitik dan fragmentasi ekonomi global berpotensi memperlemah perdagangan dunia, memperketat kondisi keuangan global, dan meningkatkan tekanan terhadap negara berkembang serta emerging markets.

Pada triwulan I 2026, tantangan perekonomian domestik yang dihadapi semakin berat di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi memicu penguatan dolar AS, meningkatnya premi risiko investasi global, serta keluarnya aliran modal asing dari emerging markets, termasuk Indonesia, sehingga memberikan tekanan besar terhadap nilai tukar Rupiah dan ketahanan eksternal perekonomian. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada triwulan I 2026 diwarnai dengan defisit neraca perdagangan migas dan net outflow aliran modal asing akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Berbagai lembaga internasional seperti OECD, IMF, dan World Bank menilai bahwa perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan dari meningkatnya tekanan inflasi, perlambatan perdagangan dan investasi global, volatilitas pasar keuangan, serta tingginya ketidakpastian kebijakan global akibat konflik geopolitik dan kenaikan harga energi. Sementara itu, S&P Global Indonesia Manufacturing PMI mencatat perlambatan aktivitas manufaktur sejalan dengan kelangkaan pasokan bahan baku, kenaikan harga material, dan melambatnya permintaan baru akibat gejolak global. Dalam kaitan itu, transmisi pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia masih perlu terus diperkuat melalui percepatan penurunan suku bunga perbankan guna mendorong pertumbuhan kredit, antara lain dengan mengurangi pemberian special rate kepada deposan besar.

Di tengah tingginya ketidakpastian global dan beratnya tantangan perekonomian domestik akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, perekonomian Indonesia pada triwulan I 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang baik dan perlu terus diperkuat agar mampu tumbuh lebih tinggi secara berkelanjutan. Ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,61% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,39% (yoy), ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, termasuk konsumsi rumah tangga pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H, stimulus Pemerintah, dan peningkatan investasi. Kinerja eksternal tetap terjaga dengan surplus neraca perdagangan barang pada triwulan I 2026 sebesar 5,5 miliar dolar AS ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas di tengah defisit neraca perdagangan migas, sementara aliran modal asing tercatat net outflow sebesar 0,8 miliar dolar AS akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 tetap tinggi sebesar 148,2 miliar dolar AS. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada akhir Maret 2026 melemah 1,88% (ptp) dibandingkan level akhir Desember 2025 dipengaruhi penguatan dolar AS dan keluarnya aliran modal asing dari emerging markets. Guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi melalui intervensi di pasar NDF, baik off-shore maupun DNDF dan pasar spot, serta optimalisasi instrumen moneter pro-market. Inflasi IHK pada Maret 2026 tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1%, didukung oleh inflasi inti yang tetap rendah dan sinergi pengendalian inflasi bersama Pemerintah. Intermediasi perbankan dan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga baik, tecermin dari pertumbuhan kredit perbankan sebesar 9,49% (yoy), likuiditas dan permodalan perbankan yang memadai, serta risiko kredit yang tetap rendah. Transaksi ekonomi dan keuangan digital pada triwulan I 2026 juga tetap tumbuh tinggi didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal.

Selain dinamika perekonomian global dan nasional, Bank Indonesia juga mencermati perubahan lingkungan strategis yang memerlukan penguatan kerangka kerja kebijakan dan kelembagaan. Sinergi bauran kebijakan bank sentral dengan kebijakan fiskal dan sektor riil, serta kebijakan stabilitas sistem keuangan sangat dibutuhkan di tengah meningkatnya dampak ketidakpastian global. Selain itu, diperlukan penguatan respons dan transformasi kebijakan dan kelembagaan untuk mengawal penyelesaian pengaturan lanjutan atas implementasi UU P2SK, menjaga kecermatan, kepatuhan hukum, dan kepentingan Bank Indonesia dalam berbagai rancangan peraturan perundang-undangan yang diinisiasi oleh K/L lain, serta mengelola perubahan demografi pegawai melalui digitalisasi dan otomasi dengan sejumlah manfaat dan risikonya. Tantangan lingkungan strategis global, domestik, dan kelembagaan yang berat tersebut memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik terhadap rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.

 

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan beratnya tantangan perekonomian domestik pada triwulan I 2026, bauran kebijakan Bank Indonesia terus diperkuat dan diarahkan untuk menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, bersinergi erat dengan bauran kebijakan ekonomi nasional dan program Asta Cita Pemerintah. Kebijakan moneter difokuskan pada stabilisasi nilai tukar Rupiah dan pengendalian inflasi dengan mempertahankan BI-Rate sepanjang triwulan I 2026 sebesar 4,75%, disertai penguatan intervensi di pasar NDF off-shore, DNDF, dan pasar spot, serta pembelian SBN di pasar sekunder secara terukur. Strategi operasi moneter pro-market dan pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA) juga terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas, mendukung aliran masuk modal asing, dan meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter. Selanjutnya, kebijakan makroprudensial akomodatif terus dioptimalkan, termasuk melalui penguatan efektivitas Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Kebijakan ini ditujukan guna mempercepat penurunan suku bunga perbankan dan mendorong kredit/pembiayaan ke sektor-sektor prioritas dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran difokuskan pada penguatan keandalan infrastruktur, struktur industri, dan perluasan akseptasi digitalisasi sistem pembayaran sesuai Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030, termasuk melalui penguatan inovasi digital dan kerja sama pembayaran lintas negara. Untuk mendukung efektivitas seluruh kebijakan tersebut, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), termasuk penguatan kerja sama internasional, konektivitas sistem pembayaran, dan penggunaan mata uang lokal guna menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Di tengah tantangan dinamika lingkungan strategis yang semakin kompleks pada triwulan I 2026, transformasi kebijakan dan kelembagaan terus diperkuat untuk mendukung pencapaian tujuan Bank Indonesia. Di area kebijakan, Bank Indonesia mengembangkan kerangka kerja macrofinancial linkage yang mengintegrasikan kebijakan moneter dan makroprudensial dalam pengelolaan likuiditas guna memperkuat efektivitas transmisi suku bunga dan kredit serta menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan secara lebih terintegrasi. Bank Indonesia juga merumuskan konsep transmisi kebijakan yang lebih komprehensif melalui sektor perbankan dan lembaga keuangan nonbank (IKNB) melalui penyusunan kerangka kajian, pemetaan kanal transmisi, serta identifikasi peran sektor perbankan dan IKNB dalam mendukung transmisi kebijakan ke sektor riil guna meningkatkan efektivitas intermediasi, mendukung penyaluran pembiayaan, serta memperkuat stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Selain itu, Bank Indonesia memperkuat koordinasi dan komunikasi kebijakan melalui Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) guna mempercepat transmisi kebijakan dan memperkuat sinergi antarlembaga. Dalam mendukung pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA), Bank Indonesia mengembangkan infrastruktur data dan BI-ETP untuk mendukung transaksi operasi moneter dan repo valas, termasuk pengembangan kurva imbal hasil transaksi pasar uang guna meningkatkan transparansi dan efektivitas transmisi kebijakan moneter. Di bidang sistem pembayaran, transformasi diarahkan pada penguatan digitalisasi sistem pembayaran sesuai Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030 melalui penguatan infrastruktur, inovasi digital, dan konektivitas pembayaran. Sementara itu, di area kelembagaan, transformasi difokuskan pada penguatan tata kelola, proses kerja, dan kualitas sumber daya manusia, termasuk pengembangan pemanfaatan artificial intelligence (AI), penguatan integrasi data dan metadata kebijakan, transformasi program pengembangan kompetensi, serta penguatan sertifikasi profesi kebanksentralan guna memastikan Bank Indonesia tetap adaptif, tangguh, dan relevan menghadapi tantangan strategis yang terus berkembang.

Pada triwulan I 2026, Bank Indonesia dapat mencapai berbagai target Indikator Kinerja Utama (IKU) sesuai tahapan yang sudah direncanakan, didukung berbagai inisiatif transformasi dan respons kebijakan di tengah semakin beratnya tantangan lingkungan strategis global, nasional, dan kelembagaan. Capaian ini menunjukkan efektivitas respons kebijakan Bank Indonesia terhadap perkembangan ekonomi dan lingkungan strategis terkini, didukung oleh penajaman sejumlah agenda transformasi, baik di area kebijakan maupun kelembagaan. Selain itu, berbagai upaya penguatan kerangka dan implementasi sistem tata kelola yang baik dan profesional juga turut mendukung pencapaian kinerja Bank Indonesia. Penerapan kebijakan yang konsisten dan bertata kelola, inovasi yang berkelanjutan, serta eratnya sinergi yang dilakukan oleh Bank Indonesia sepanjang triwulan I 2026 telah menghasilkan persepsi yang positif dari mitra kerja, termasuk pengakuan secara internasional.


Lampiran
Kontak

Contact Center BICARA : (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB

Halaman ini terakhir diperbarui 6/18/2026 5:20 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga