Hubungan
dengan
Pemangku
Kepentingan​
Hubungan dengan Lembaga Lain
Dilihat dari sistem ketatanegaraan Republik
Indonesia, kedudukan BI sebagai lembaga negara yang independen, tidak
sejajar dengan lembaga tinggi negara seperti Dewan Perwakilan Rakyat, Badan
Pemeriksa Keuangan, dan Mahkamah Agung. Kedudukan BI juga tidak sama dengan
Departemen karena kedudukan BI berada di luar pemerintahan. Meskipun BI
berkedudukan sebagai lembaga negara independen, dalam melaksanakan tugasnya,
BI mempunyai hubungan kerja dan koordinasi yang baik dengan DPR, BPK,
Pemerintah, dan pihak lainnya.
Dalam hubungannya dengan Presiden dan DPR, setiap awal tahun anggaran BI
menyampaikan informasi tertulis mengenai evaluasi pelaksanaan kebijakan
moneter dan rencana kebijakan moneter yang akan datang. Khusus kepada DPR,
pelaksanaan tugas dan wewenang setiap triwulan dan sewaktu-waktu bila
diminta oleh DPR. Selain itu, BI menyampaikan rencana dan realiasasi
anggaran tahunan kepada Pemerintah dan DPR. Dalam hubungannya dengan BPK, BI
wajib menyampaikan laporan keuangan tahunan kepada BPK.
Informasi lebih lanjut dapat mengunjungi informasi Pengawasan terhadap Bank
Indonesia.
Hubungan BI dengan Pemerintah
Hubungan Keuangan
Dalam hal hubungan keuangan dengan
Pemerintah, Bank Indonesia membantu menerbitkan dan menempatkan surat-surat
hutang negara guna membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
tanpa diperbolehkan membeli sendiri surat-surat hutang negara tersebut.
Bank Indonesia juga bertindak sebagai kasir Pemerintah yang menatausahakan
rekening Pemerintah di Bank Indonesia, dan atas permintaan Pemerintah, dapat
menerima pinjaman luar negeri untuk dan atas nama Pemerintah Indonesia.
Namun demikian, agar pelaksanaan tugas Bank Indonesia benar-benar terfokus
serta agar efektivitas pengendalian moneter tidak terganggu, pemberian
kredit kepada Pemerintah guna mengatasi deficit spending - yang selama ini
dilakukan oleh Bank Indonesia berdasarkan undang-undang yang lama - kini
tidak dapat lagi dilakukan oleh Bank Indonesia.
Independensi dalam Interdependensi
Meskipun Bank Indonesia merupakan lembaga
negara yang independen, tetap diperlukan koordinasi yang bersifat
konsultatif dengan Pemerintah, sebab tugas-tugas Bank Indonesia merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan-kebijakan ekonomi nasional
secara keseluruhan.
Koordinasi di antara Bank Indonesia dan Pemerintah diperlukan pada sidang
kabinet yang membahas masalah ekonomi, perbankan, dan keuangan yang
berkaitan dengan tugas-tugas Bank Indonesia. Dalam sidang kabinet tersebut
Pemerintah dapat meminta pendapat Bank Indonesia.
Selain itu, Bank Indonesia juga dapat memberikan masukan, pendapat, serta
pertimbangan kepada Pemerintah mengenai Rancangan APBN serta
kebijakan-kebijakan lain yang berkaitan dengan tugas dan wewenangnya.
Di lain pihak, Pemerintah juga dapat menghadiri Rapat Dewan Gubernur Bank
Indonesia dengan hak bicara tetapi tanpa hak suara. Oleh sebab itu,
implementasi independensi justru sangat dipengaruhi oleh kemantapan hubungan
kerja yang proporsional di antara Bank Indonesia di satu pihak dan
Pemerintah serta lembaga-lembaga terkait lainnya di lain pihak, dengan tetap
berlandaskan pembagian tugas dan wewenang masing-masing.
Kerjasama BI dengan Lembaga Lain
Menyadari pentingnya dukungan dari berbagai
pihak bagi keberhasilan tugasnya, BI senantiasa bekerja sama dan
berkoordinasi dengan berbagai lembaga negara dan unsur masyarakat lainnya.
Beberapa kerjasama ini dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU), keputusan
bersama (SKB), serta perjanjian-perjanjian, yang ditujukan untuk menciptakan
sinergi dan kejelasan pembagian tugas antar lembaga serta mendorong
penegakan hukum yang lebih efektif.
​​KAKBI
Bank Indonesia telah menerapkan KAKBI
sebagai standar akuntansi dalam penyusunan dan penyajian laporan
keuangan yang diatur melalui Peraturan Dewan Gubernur Bank Indonesia.
KAK​​BI terdiri dari Prinsip Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan (PDP2LK) dan Pernyataan Kebijakan Akuntansi Keuangan (PKAK).
Proses penyusunan standar akuntansi bagi
Bank Indonesia telah dirintis sejak tahun 2008, diawali dengan forum
diskusi bersama praktisi dan akademisi untuk membahas keunikan Bank
Indonesia dan standar akuntansi yang dapat menjadi rujukan. Dari diskusi
dan kajian yang telah dilakukan, dihasilkan kesimpulan bahwa Bank
Indonesia tidak dapat sepenuhnya menerapkan standar akuntansi umum
karena keunikan tujuan yang diemban oleh Bank Indonesia, sehingga
diperlukan standar akuntansi yang sesuai dengan karakteristik Bank
Indonesia.
Selengkapnya​