Laporan

BI Icon
​​​​​​​Departemen Manajemen Strategis dan Tata Kelola​​​​​

3/12/2026 10:00 PM
Hits: 16

Laporan Kelembagaan Bank Indonesia Triwulan IV - 2025

Triwulan
Laporan Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Bank Indonesia

LKBI-Tw.IV-2025.PNGPerekonomian dunia masih dalam tren melambat dengan ketidakpastian yang meningkat. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diprakirakan sedikit lebih rendah menjadi sebesar 3,2% dibandingkan dengan capaian 2025 sebesar 3,3%. Pertumbuhan yang lebih rendah tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan kerentanan rantai pasok global, meskipun prospek perekonomian AS membaik, didorong oleh investasi sektor teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), dan stimulus fiskal berupa pengurangan pajak. Pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India pada 2026 diprakirakan melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor di tengah meningkatnya investasi AI.

Dari pasar keuangan global, ketidakpastian juga tetap tinggi seiring semakin terbatasnya ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang disertai masih tingginya yield UST sejalan dengan defisit fiskal AS yang masih besar. Selain itu, kebijakan tarif resiprokal AS serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik turut memicu peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global. Perkembangan ini mendorong penguatan indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) dan mengakibatkan keluarnya aliran modal ke emerging market (EM), termasuk Indonesia. Berbagai lembaga internasional seperti European Central Bank dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menegaskan bahwa lingkungan strategis global pada triwulan IV 2025 semakin berat dan diliputi ketidakpastian tinggi. Ekonomi global semakin dihadapkan pada risiko perlambatan pertumbuhan akibat hambatan perdagangan dan disrupsi rantai pasok, kerentanan pasar keuangan serta implikasi fragmentasi ekonomi global. World Economic Forum juga mengingatkan potensi risiko keuangan yang dapat meningkatkan volatilitas ke depan.

Pada triwulan IV 2025, tantangan perekonomian domestik yang dihadapi masih berat. Hal ini tecermin dari tekanan terhadap nilai tukar Rupiah yang besar akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pelebaran defisit fiskal, serta kenaikan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi. Posisi cadangan devisa tetap tinggi sebesar 156,5 miliar dolar AS pada Desember 2025 di tengah kebutuhan stabilisasi nilai tukar Rupiah yang ditempuh Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat. Selain itu, tekanan pada inflasi juga meningkat terutama pada inflasi volatile food akibat gangguan produksi dan distribusi karena kendala cuaca serta dampak bencana di Sumatera, sementara dampak pelemahan nilai tukar terhadap inflasi relatif terbatas. Pemulihan intermediasi perbankan juga belum merata di tengah risiko kredit yang masih tinggi pada segmen konsumsi dan UMKM, serta masih perlunya percepatan penurunan suku bunga perbankan untuk memperkuat transmisi pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia. Kondisi tersebut, sebagaimana pandangan tokoh pemerintahan dan sektor keuangan, juga dibarengi dengan tantangan dalam memastikan keamanan sistem pembayaran, membangun kepercayaan masyarakat terhadap keuangan digital, serta meningkatkan sinergi kebijakan antarotoritas untuk lebih merespons tantangan struktural perekonomian.

Di tengah ketidakpastian global yang tinggi dan tantangan perekonomian domestik yang berat, perekonomian Indonesia pada triwulan IV 2025 tetap baik dan masih dapat terus ditingkatkan agar sesuai dengan kapasitas perekonomian. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 diprakirakan lebih tinggi ditopang oleh kenaikan permintaan domestik sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi dan peningkatan stimulus fiskal. Kinerja eksternal tetap solid, tecermin dari Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang diprakirakan tetap baik ditopang neraca perdagangan November 2025 yang kembali mencatat surplus. Posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2025 meningkat menjadi sebesar 156,5 miliar dolar AS. Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pada akhir triwulan IV 2025 tercatat mengalami depresiasi 0,06% (qtq), utamanya dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global yang berdampak terhadap aliran modal asing pada investasi portofolio. Guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia meningkatkan intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar NDF, baik di offshore maupun onshore (DNDF) dan pasar spot. Respons kebijakan ini dapat menjaga volatilitas nilai tukar Rupiah dan tetap konsisten dengan upaya pencapaian sasaran inflasi 2,5±1% pada 2026. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2025 terjaga dalam kisaran sasaran 2,5 ± 1% dengan inflasi inti yang tetap terjaga rendah. Intermediasi perbankan dan stabilitas sistem keuangan tetap kuat, tecermin dari pertumbuhan kredit perbankan sebesar 9,69% (yoy) yang berada dalam kisaran prakiraan Bank Indonesia sebesar 8-11% (yoy), didukung oleh likuiditas dan kapasitas permodalan perbankan yang memadai serta risiko kredit yang rendah.  Transaksi ekonomi dan keuangan digital pada triwulan IV 2025 juga mencatat pertumbuhan yang tetap tinggi, didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal.

Selain dinamika perekonomian global dan nasional, Bank Indonesia juga mencermati perubahan lingkungan strategis yang memerlukan penguatan kerangka kerja kebijakan dan kelembagaan. Sinergi bauran kebijakan bank sentral dengan kebijakan fiskal dan sektor riil, serta kebijakan stabilitas sistem keuangan sangat dibutuhkan di tengah meningkatnya dampak ketidakpastian global. Selain itu, diperlukan penguatan respons dan transformasi kebijakan dan kelembagaan untuk mengawal penyelesaian pengaturan lanjutan atas implementasi UU P2SK, menjaga kecermatan, kepatuhan hukum, dan kepentingan Bank Indonesia dalam berbagai rancangan peraturan perundang-undangan yang diinisiasi oleh K/L lain, serta mengelola perubahan demografi pegawai melalui digitalisasi dan otomasi dengan sejumlah manfaat dan risikonya. Tantangan lingkungan strategis global, domestik, dan kelembagaan yang berat tersebut memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik terhadap rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.

Di tengah beratnya tantangan lingkungan strategis pada triwulan IV 2025, bauran kebijakan Bank Indonesia terus diperkuat dan diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas, bersinergi erat dengan bauran kebijakan ekonomi nasional. Kebijakan moneter diarahkan pada keseimbangan pro-stability and growth, antara lain dengan mempertahankan suku bunga BI-Rate pada bulan Oktober, November dan Desember 2025, serta Januari 2026 pada level 4,75%, sejalan dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global serta memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial. Intensitas langkah untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah ditingkatkan melalui intervensi NDF di pasar luar negeri maupun intervensi di pasar dalam negeri melalui transaksi spot dan Non-Deliverable Forward (NDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Selanjutnya, strategi operasi moneter pro-market terus diperkuat untuk mendorong penurunan suku bunga dan ekspansi likuiditas melalui optimalisasi penerbitan SRBI dan pembelian SBN di pasar sekunder secara terukur. Bank Indonesia juga mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA) guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dalam mendorong penurunan suku bunga dan ekspansi likuiditas. Sementara itu, kebijakan makroprudensial akomodatif dioptimalkan untuk memperkuat fleksibilitas likuiditas perbankan serta mempercepat transmisi penurunan suku bunga perbankan guna mendukung intermediasi dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Di sisi lain, kebijakan sistem pembayaran difokuskan pada penguatan keandalan infrastruktur, struktur industri, serta perluasan akseptasi digitalisasi. Untuk mendukung ketiga kebijakan tersebut, Bank Indonesia juga mendorong pendalaman PUVA, kebijakan internasional, serta program-program UMKM dan ekonomi-keuangan syariah. Sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) turut diperkuat guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi sejalan dengan program Asta Cita Pemerintah.

Di tengah tantangan dinamika lingkungan strategis yang semakin berat, pada triwulan IV 2025, transformasi kebijakan terus diperkuat untuk mendukung pencapaian tujuan Bank Indonesia. Transformasi kebijakan terus diperkuat untuk mendukung pencapaian tujuan Bank Indonesia. Penyempurnaan kerangka kebijakan dan kelembagaan diwujudkan melalui pengaturan lanjutan implementasi UU P2SK. Pada triwulan IV 2025, Bank Indonesia telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) dan Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) mengenai kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM). Pengaturan ini mengimplementasikan skema pemberian insentif yang berbasis kinerja dan berorientasi ke depan (KLM forward-looking) guna mempercepat penurunan suku bunga perbankan dengan tetap mendorong penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan. Pada akhir tahun 2025, ketentuan internal mengenai pengaturan Protokol Manajemen Krisis Terintegrasi (PMKT) telah diterbitkan, yang menjadi pedoman dalam melaksanakan langkah pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan, termasuk proses surveilans dan asesmen, pengambilan keputusan, hingga koordinasi dengan pemerintah, komite stabilitas sistem keuangan, dan/atau institusi terkait. Dalam rangka memperkuat instrumen operasi moneter untuk mendukung pendalaman pasar uang domestik agar mendorong Overnight Index Swap (OIS) market berbasis INDONIA, Bank Indonesia telah mengembangkan BI Floating Rate Notes (BI FRN) melalui Dealer Utama PUVA. Di bidang sistem pembayaran, Bank Indonesia menerbitkan PBI dan PADG mengenai pengaturan industri sistem pembayaran dalam rangka meningkatkan daya tahan struktur industri sistem pembayaran di tengah pesatnya arus digitalisasi. Bank Indonesia juga mendorong perluasan fungsi Central Counterparty (CCP) sebagai tri-party agent untuk transaksi repo (TPA repo) sebagai upaya memperkuat infrastruktur pasar keuangan melalui transaksi repo yang lebih efisien, mengurangi risiko operasional, dan terstandardisasi. Di area kelembagaan, inisiatif transformasi diarahkan pada penyempurnaan proses bisnis dan penguatan fungsi organisasi melalui pendekatan strategy-driven, terintegrasi, serta adaptif terhadap dinamika lingkungan strategis. Pada triwulan IV 2025 dilakukan pembentukan working group integrasi transformasi guna mempercepat penyelesaian dan penyelarasan inisiatif strategis Bank Indonesia yang saling terinterkoneksi. Penguatan aspek “people" di Bank Indonesia dilakukan melalui penyempurnaan ketentuan terkait SDM, penguatan kepemimpinan, pengembangan new capabilities, serta penguatan employee value proposition (EVP). Selama triwulan IV 2025, Bank Indonesia juga terus melanjutkan pengembangan Integrated Digital Payment System and Finance, Integrated Digital Central Bank (IDCB), dan Integrated Digital Technology.

Pada triwulan IV 2025, Bank Indonesia dapat mencapai berbagai target Indikator Kinerja Utama (IKU) sesuai tahapan yang sudah direncanakan, didukung berbagai inisiatif transformasi dan respons kebijakan di tengah semakin beratnya tantangan lingkungan strategis global, nasional, dan kelembagaan. Capaian ini menunjukkan efektivitas respons kebijakan Bank Indonesia terhadap perkembangan ekonomi dan lingkungan strategis terkini, didukung oleh penajaman sejumlah agenda transformasi, baik di area kebijakan maupun kelembagaan. Selain itu, berbagai upaya penguatan kerangka dan implementasi sistem tata kelola yang baik dan profesional juga turut mendukung pencapaian kinerja Bank Indonesia. Penerapan kebijakan yang konsisten dan bertata kelola, inovasi yang berkelanjutan, serta eratnya sinergi yang dilakukan oleh Bank Indonesia sepanjang triwulan IV 2025 telah menghasilkan persepsi yang positif dari mitra kerja, termasuk sejumlah pengakuan secara nasional dan internasional.


Lampiran

​​

Kontak

​​​​Contact Center BICARA : (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB

Halaman ini terakhir diperbarui 3/16/2026 4:46 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga