Dinamika geopolitik dunia yang cepat berubah telah memengaruhi perkembangan ekonomi global sepanjang tahun 2025. Ketidakpastian global tetap tinggi dipengaruhi oleh meningkatnya intensitas perang dagang dan berlanjutnya ketegangan geopolitik. Pengumuman dan implementasi tarif sepihak oleh Amerika Serikat (AS) yang direspons dengan tindakan balasan dari sejumlah negara besar mendorong eskalasi perang dagang antarnegara. Selain itu, ketegangan geopolitik juga terus berlanjut, antara lain akibat belum meredanya perang Rusia-Ukraina serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah seiring peningkatan serangan Israel ke Palestina. Kebijakan tarif AS dan berlanjutnya ketegangan geopolitik berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global dengan divergensi antarnegara yang semakin melebar. Kebijakan tarif menurunkan volume dan nilai perdagangan global serta menimbulkan gangguan pada rantai pasok dunia. Selanjutnya, dampak terhadap aktivitas ekonomi juga terlihat pada memburuknya sentimen konsumen dan produsen akibat ketidakpastian pendapatan dan keberlangsungan usaha. Meski demikian, peningkatan investasi sektor teknologi termasuk artificial intelligence (AI) di AS dan beberapa negara maju maupun berkembang lainnya menahan perlambatan perekonomian dunia tahun 2025 yang lebih dalam. Dengan perkembangan tersebut, ekonomi global tahun 2025 tumbuh sebesar 3,4% dan diprakirakan melambat pada 2026 dan 2027 yang disertai dengan divergensi pertumbuhan antarnegara.
Pengenaan tarif yang lebih tinggi juga berdampak pada penurunan inflasi dunia yang berjalan lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Perkembangan tersebut mendorong bank-bank sentral cenderung lebih berhati-hati dalam menentukan kecepatan dan waktu penurunan suku bunga kebijakannya meskipun secara umum arah kebijakan moneter global sepanjang 2025 tetap bersifat akomodatif. Bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang mulai menurunkan Fed Fund Rate (FFR) menjadi 4,50% pada September 2024, menunda penurunan berikutnya hingga September 2025 menjadi 4,25%, lalu pada Oktober 2025 menjadi 4,00% dan terakhir pada Desember 2025 menjadi 3,75%. Prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang disertai dengan tetap tingginya tekanan inflasi global berdampak negatif pada keyakinan para pelaku ekonomi dan investor di berbagai negara. Perkembangan tersebut menyebabkan ketidakpastian di pasar keuangan global tetap tinggi sehingga meningkatkan persepsi risiko dan mendorong investor melakukan realokasi portofolio ke aset-aset investasi yang dianggap aman (safe haven assets), khususnya obligasi AS dan komoditas emas. Sejalan dengan itu, indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara utama dunia (DXY) cenderung tinggi meskipun disertai dengan volatilitas yang tinggi. Sementara itu, aliran modal ke Emerging Market Economies (EMEs) terbatas sehingga memberikan tekanan terhadap pelemahan mata uangnya. Tingginya ketidakpastian perekonomian global sepanjang 2025 memerlukan peningkatan kewaspadaan serta penguatan respons bauran kebijakan guna memperkuat ketahanan ekonomi domestik dari rambatan eksternal, sekaligus tetap mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Beratnya tantangan perekonomian global sepanjang 2025 juga dikonfirmasi oleh pernyataan sejumlah lembaga internasional. Pernyataan European Central Bank, International Monetary Fund, OECD, World Economic Forum, serta UN Trade and Development menunjukkan bahwa perekonomian global masih dibayangi tingginya ketidakpastian akibat fragmentasi ekonomi, meningkatnya risiko pasar keuangan, tekanan utang global, serta potensi gangguan perdagangan dan rantai pasok. Di sisi lain, prospek pertumbuhan jangka panjang juga tertahan oleh disrupsi struktural, termasuk realokasi sumber daya yang tidak optimal dan perkembangan teknologi yang belum merata.
Tantangan perekonomian domestik yang dihadapi sepanjang 2025 juga masih berat. Di tengah tantangan dinamika global yang berat, ekonomi Indonesia pada tahun 2025 tetap berdaya tahan dan perlu terus didorong agar dapat tumbuh lebih tinggi sesuai dengan kapasitas perekonomian. Ketidakpastian perekonomian global yang tinggi juga memengaruhi kinerja eksternal ekonomi Indonesia. Transaksi berjalan tahun 2025 mencatat defisit yang terkendali sebesar 1,5 miliar dolar AS (0,1% dari PDB). Sementara itu, transaksi modal dan finansial tahun 2025 mencatat defisit sebesar 4,2 miliar dolar AS didorong oleh keluarnya aliran modal asing pada investasi portofolio dan investasi lainnya seiring dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi. Perkembangan tersebut mendorong besarnya tekanan terhadap nilai tukar Rupiah meskipun pergerakannya relatif tetap stabil dibandingkan dengan kelompok mata uang negara berkembang dan bahkan lebih kuat dibandingkan negara maju selain dolar AS didukung komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas Rupiah. Sejalan dengan hal tersebut, sejumlah lembaga dan pelaku pasar juga memandang bahwa tekanan terhadap stabilitas eksternal mengalami peningkatan di tahun 2025. Sementara itu, inflasi tahun 2025 terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1% dengan inflasi IHK tercatat sebesar 2,92% (yoy), meski tekanan inflasi kelompok volatile food (VF) cukup tinggi sebesar 6,21% (yoy). Selain itu, penyaluran kredit perbankan perlu terus didorong untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, didukung dengan pendalaman pasar keuangan untuk memperluas sumber-sumber pembiayaan ekonomi, serta transformasi sektor riil untuk memperkuat struktur ekonomi. Dalam kaitan ini, diperlukan penguatan kredibilitas kebijakan dan percepatan reformasi struktural untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Di tengah tantangan lingkungan strategis yang berat, perekonomian Indonesia pada tahun 2025 tetap berdaya tahan dan perlu terus didorong agar dapat tumbuh lebih tinggi sesuai dengan kapasitas perekonomian. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II dan III 2025 masing-masing tercatat sebesar 5,12% (yoy) dan 5,04% (yoy), ditopang oleh permintaan domestik maupun kinerja ekspor. Dari permintaan domestik, tingginya pertumbuhan ekonomi pada triwulan II dan III 2025 ditopang terutama oleh investasi swasta dan realisasi sejumlah program prioritas Pemerintah, termasuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di berbagai daerah. Selain itu, konsumsi rumah tangga juga tumbuh baik seiring dengan tingginya mobilitas masyarakat. Dari sektor eksternal, kinerja ekspor nonmigas meningkat dipengaruhi front-loading ekspor ke AS sebagai respons antisipasi eksportir terhadap kebijakan tarif AS, di samping kenaikan ekspor produk pertanian dan manufaktur. Momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi berlanjut pada triwulan IV 2025 dengan realisasi pertumbuhan mencapai 5,39% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan pada triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi yang meningkat tersebut ditopang oleh permintaan domestik dari konsumsi rumah tangga dan investasi sejalan dengan dampak positif berbagai stimulus kebijakan Pemerintah dan bauran kebijakan Bank Indonesia. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tahun 2025 sebesar 5,11% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada 2024 sebesar 5,03% (yoy) dan diikuti dengan perbaikan kualitas ketenagakerjaan. Ke depan, capaian pertumbuhan ekonomi 2025 dapat terus ditingkatkan agar sesuai dengan kapasitas perekonomian.
Ketidakpastian perekonomian global yang tinggi juga memengaruhi kinerja eksternal ekonomi Indonesia. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap terjaga sehat dengan transaksi berjalan tahun 2025 mencatat defisit yang terkendali sebesar 1,5 miliar dolar AS (0,1% dari PDB), lebih rendah dibandingkan dengan defisit tahun 2024 sebesar 8,6 miliar dolar AS (0,6% dari PDB). Sementara itu, nilai tukar Rupiah tetap terkendali di tengah besarnya tekanan dari ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi. Tekanan besar terhadap nilai tukar Rupiah sempat terjadi pascapengumuman kebijakan tarif sepihak oleh AS pada awal April 2025. Langkah penguatan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah yang ditempuh Bank Indonesia berhasil menahan pelemahan lebih dalam. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah kembali tinggi sejak akhir Agustus 2025 akibat faktor global seperti penurunan FFR yang dinilai kurang akomodatif (less dovish), serta faktor domestik antara lain kekhawatiran pasar terhadap melebarnya defisit fiskal. Nilai tukar Rupiah hingga akhir Desember 2025 tercatat Rp16.675 per dolar AS, atau melemah 3,48% dari posisi akhir Desember 2024. Secara keseluruhan, pergerakan Rupiah relatif stabil dibandingkan dengan kelompok mata uang negara berkembang dan lebih kuat dibandingkan dengan mata uang negara maju selain dolar AS. Stabilisasi nilai tukar Rupiah tidak hanya ditopang oleh konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia maupun intensitas langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar NDF baik di off-shore maupun on-shore (DNDF) dan pasar spot, tetapi juga oleh peningkatan konversi valuta asing ke Rupiah oleh eksportir seiring dengan penguatan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Posisi cadangan devisa Indonesia tetap tinggi di tengah kebutuhan intervensi valas yang dilakukan Bank Indonesia untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar 156,5 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan posisi akhir Desember 2024 sebesar 55,7 miliar dolar AS, atau setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Sepanjang 2025, inflasi tetap terkendali dalam kisaran sasaran, stabilitas sistem keuangan terjaga, serta digitalisasi sistem pembayaran meningkat pesat. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2025 terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%, dengan inflasi IHK Desember 2025 tercatat sebesar 2,92% (yoy). Inflasi inti tetap terjaga rendah sebesar 2,38% (yoy), seiring konsistensi kebijakan suku bunga dalam menjangkar ekspektasi inflasi dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah Bank Indonesia, serta dampak positif dari digitalisasi. Inflasi kelompok volatile food (VF) tercatat relatif tinggi sebesar 6,21% (yoy), terutama disebabkan karena gangguan produksi dan distribusi akibat kendala cuaca, peningkatan biaya bahan baku produksi, serta dampak bencana di Sumatra. Sementara itu, inflasi kelompok administered prices (AP) tercatat sebesar 1,93% (yoy), sejalan dengan terbatasnya kebijakan penyesuaian harga yang diatur oleh Pemerintah.
Lebih lanjut, stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga dengan kondisi permodalan perbankan yang kuat dan risiko kredit bermasalah yang rendah di tengah pertumbuhan kredit yang perlu terus didorong. Kredit perbankan pada 2025 tumbuh sebesar 9,69% (yoy), berada dalam kisaran prakiraan Bank Indonesia sebesar 8-11% (yoy). Capaian tersebut sejalan dengan upaya untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) serta realisasi program prioritas Pemerintah di tengah kondisi makro dan keuangan yang terjaga. Meski demikian, percepatan penurunan suku bunga perbankan perlu terus dilakukan untuk memperkuat transmisi pelonggaran kebijakan moneter. Kapasitas pembiayaan bank tetap memadai ditopang oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57% dan DPK yang tumbuh tinggi sebesar 13,83% (yoy) pada Desember 2025. Ketahanan sistem keuangan terjaga baik didukung likuiditas perbankan yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang rendah.
Digitalisasi sistem pembayaran meningkat pesat sehingga menopang ekosistem ekonomi-keuangan digital nasional dan secara keseluruhan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi tahun 2025. Pertumbuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital sepanjang tahun 2025 tetap tinggi didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal. Volume transaksi pembayaran digital didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital. Volume transaksi melalui aplikasi mobile dan internet, termasuk transaksi QRIS juga terus meningkat. Stabilitas sistem pembayaran tetap terjaga ditopang oleh infrastruktur yang stabil dan struktur industri yang sehat. Infrastruktur yang stabil tecermin pada penyelenggaraan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) dan sistem pembayaran industri yang lancar dan andal serta kecukupan pasokan uang dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Struktur industri yang sehat tergambar pada interkoneksi antarpelaku dalam sistem pembayaran yang terus menguat dan diikuti oleh ekosistem Ekonomi Keuangan Digital (EKD) yang meluas.
Selain dinamika perekonomian global dan nasional, Bank Indonesia juga mencermati perubahan lingkungan strategis yang memerlukan penguatan kerangka kerja kebijakan dan kelembagaan. Sinergi bauran kebijakan bank sentral dengan kebijakan fiskal dan sektor riil, serta kebijakan stabilitas sistem keuangan perlu semakin diperkuat di tengah meningkatnya dampak ketidakpastian global. Selain itu, diperlukan penguatan respons dan transformasi kebijakan dan kelembagaan untuk mengawal penyelesaian pengaturan lanjutan atas implementasi UU P2SK, menjaga kecermatan, kepatuhan hukum, dan kepentingan Bank Indonesia dalam berbagai rancangan peraturan perundang-undangan yang diinisiasi oleh K/L lain, termasuk mengelola perubahan demografi pegawai melalui digitalisasi dan otomasi dengan sejumlah manfaat dan risikonya. Tantangan lingkungan strategis global, domestik, dan kelembagaan yang berat tersebut memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik terhadap rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.