Page Content
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 mengalami peningkatan dan berada di atas kisaran sasaran 2,5±1%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, IHK Januari 2026 mencatatkan deflasi sebesar 0,15% (mtm), sehingga secara tahunan IHK mengalami inflasi sebesar 3,55% (yoy), meningkat dari Desember 2025 yang sebesar 2,92% (yoy). Perkembangan inflasi IHK Januari 2026 yang berada di atas rentang sasaran inflasi lebih dipengaruhi oleh faktor base effect inflasi Januari 2025 yang tercatat rendah yaitu, 0,76% (yoy) atau deflasi 0,76% (mtm). Faktor base effect terutama disumbang oleh inflasi administered price (AP) yang meningkat signifikan menjadi sebesar 9,71% (yoy) pada Januari 2026, dari 1,93% (yoy) pada Desember 2025. Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 2,45% (yoy), lebih tinggi dari Desember 2025 sebesar 2,38% (yoy). Kelompok VF mengalami inflasi sebesar 1,14% (yoy), lebih rendah dari Desember 2025 sebesar 6,21% (yoy). Secara bulanan, kelompok VF dan AP mengalami deflasi masing-masing sebesar 1,96% (mtm) dan 0,32% (mtm) pada Januari 2026, sementara kelompok inti mencatat inflasi 0,37% (mtm). Tekanan inflasi IHK lebih lanjut dapat dikendalikan didukung oleh konsistensi kebijakan moneter serta sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) melalui penguatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2026.