Permintaan domestik yang tetap solid mendorong perbaikan ekonomi di mayoritas wilayah pada triwulan I 2026. Konsumsi rumah tangga (RT) naik di seluruh wilayah dipengaruhi perbaikan penghasilan yang bersumber dari pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan kenaikan harga komoditas, terutama di wilayah berbasis Sumber Daya Alam (SDA), serta dukungan program insentif dan belanja sosial pemerintah. Investasi juga membaik di sebagian besar wilayah, didorong oleh kelanjutan pembangunan proyek Pemerintah dan swasta pada lapangan usaha (LU) utama. Khusus di wilayah Kalimantan dan Balinusra, perbaikan permintaan domestik tersebut tidak sepenuhnya mampu mendorong perbaikan kinerja ekonomi secara keseluruhan pada triwulan I 2026. Dari sisi LU, perbaikan permintaan domestik, khususnya konsumsi RT, mendorong perbaikan kinerja LU Perdagangan, terutama ritel domestik.Momentum perbaikan ekonomi di berbagai wilayah perlu dijaga sepanjang 2026, di tengah masih berlangsung perang di Timur Tengah. Perbaikan ekonomi terutama bersumber dari ketahanan permintaan domestik, khususnya konsumsi RT, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi 2026 lebih baik dibandingkan 2025 di mayoritas wilayah, kecuali Kalimantan akibat tekanan pada kinerja eksternal. Investasi juga lebih baik didorong proyek infrastruktur Pemerintah, proyek strategis Danantara, dan kelanjutan investasi multiyears swasta di seluruh wilayah. Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah mengakibatkan tekanan pada kinerja eksternal di berbagai wilayah. Dari sisi LU, perbaikan permintaan domestik mendorong kinerja LU Perdagangan di mayoritas wilayah dan LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (Akmamin) di wilayah barat, serta LU Industri Pengolahan berorientasi domestik di Jawa. Sementara kinerja industri berorientasi ekspor khususnya di Sulampua tumbuh terbatas akibat permintaan negara mitra yang tertahan karena dampak tidak langsung dari perang. Pertumbuhan LU Akmamin di Balinusra juga terpengaruh dampak perang karena mobilitas wisatawan mancanegara (wisman) asal Timur Tengah dan Eropa yang terganggu.
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) gabungan kota triwulan I 2026 terkendali. Inflasi inti terjaga stabil dipengaruhi tekanan permintaan yang terkendali meski tekanan harga komoditas global, khususnya emas, tetap tinggi dan berdampak merata di seluruh wilayah, terutama di kawasan timur Indonesia. Tekanan inflasi administered prices (AP), terutama karena faktor low base effect yang bersumber dari dampak kebijakan diskon tarif listrik pada tahun sebelumnya. Sementara inflasi volatile food (VF) terkendali di bawah target 5%, didukung ketersediaan pasokan komoditas pangan yang cukup baik. Namun inflasi di beberapa daerah perlu menjadi perhatian karena masih di atas 5%, terutama di wilayah Sumatera dan Sulampua.
Inflasi IHK 2026 diprakirakan tetap dalam kisaran sasaran 2,5±1%, di tengah prospek harga komoditas global yang meningkat akibat perang. Terjaganya inflasi dalam kisaran sasaran didukung oleh konsistensi kebijakan moneter Bank Indonesia dalam mengelola permintaan domestik, menjangkar ekspektasi inflasi, dan menjaga stabilitas eksternal di tengah ketidakpastian ekonomi global karena eskalasi perang di Timur Tengah. Tekanan permintaan domestik pada inflasi inti diprakirakan terbatas, dipengaruhi oleh kapasitas ekonomi yang masih di bawah potensial. Inflasi VF diprakirakan terjaga sesuai target di bawah 5%. Hal inididukung oleh eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), termasuk melalui implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional. Sementara itu, tekanan inflasi AP diprakirakan juga terjaga didukung oleh kebijakan Pemerintah untuk tidak melakukan penyesuaian harga energi.
Ke depan, risiko dampak perang perlu terus dicermati karena dapat memengaruhi ekonomi di berbagai wilayah. Intensitas dan besaran dampak disrupsi yang ditimbulkan akibat perang mengakibatkan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan, peningkatan harga komoditas, serta gangguan rantai pasok perdagangan internasional. Kondisi tersebut dapat berimplikasi pada penurunan prospek ekonomi global dan akan memengaruhi prospek ekonomi di berbagai wilayah sesuai karakteristik struktur perekonomiannya. Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dan bersinergi erat dengan kebijakan Pemerintah untuk menjaga stabilitas dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.