Start;Home;Layanan;Perpustakaan;default.aspx;Bukan Sifibi;details.aspx;Detail
Judul Aku Diam Kepalaku Berisik
Pengarang Muara.Diksi
Tahun 2025
Penerbit Guepedia
Lokasi Buku Perpustakaan Medan
Abstraksi Buku
Novel Aku Diam, Kepalaku Berisik menceritakan sebuah kumpulan diksi yang bisa kau temukan dikala overthinking menghampirimu. Disaat hidup yang tak baik-baik saja, namun harus terlihat kuat dan mampu menghadapi segala yang terjadi. Seolah dipaksa terlihat baik, disaat pikiran terus berkecamuk di kepala. Nyatanya tak semua harus bisa terlihat baik-baik saja, ada masa seseorang lelah untuk kehidupan yang penuh dengan sandiwara. Adakalanya untuk rehat sejenak, membaca buku ini, dan menyadari bahwa setiap overthinking yang terjadi adalah pikiran yang terlalu memikirkan masa depan yang belum terjadi, menyesali kejadian/peristiwa yang sudah terjadi dalam hidup. Menikmati hidup saat ini dan fokus pada masa kini sebelum direnggut oleh waktu. Adakalanya kau juga harus menikmati perjalanan hidup yang hanya sekali ini. Pada isi novel ini terdapat 30 bagian yang terbagi menjadi 3 bagian utama. Di bagian utama pertama, membahas tentang diri sendiri, bagaimana kita harus memaafkan diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri, memaafkan kesalahan orang lain terhadapnya, mencintai diri sendiri, tentang memaafkan dan tumbuh serta menjalani takdir dari Tuhan yang sudah ditetapkan. Pada bagian utama kedua, membahas tentang keluarga, hubungan ayah terhadap anak perempuannya, hubungan ibu kepada anak perempuannya dan hubungan antara ia dan adiknya sebagai anak sulung dengan anak bungsu, serta menjalani hidup sebagai anak pertama perempuan. Juga pada bagian utama ketiga, bercerita tentang manusia favoritnya, seseorang yang ia tunggu dalam masa penantian dengan cara yang Tuhan ridhoi dan dalam sebuah doa, memperjuangkan seseorang dengan jalur langit. Di novel ini lebih mempercayai takdir terbaik yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Akhir dari kisah ini, dibalut dalam kisah berdamai dengan diri sendiri, menerima kekurangan yang ada pada dirinya sendiri, dan fokus untuk menjadi yang terbaik daripada hanya fokus mencari yang baik, serta menerima takdir Tuhan yang sudah ditetapkan. Juga dilengkapi prolog dan epilog, disertai dengan ending berdamai dalam ke-overthinking-an ini. Memiliki akhir yang dibumbui diksi-diksi menarik, membuat pembaca sadar bahwa hidup bukan hanya tentang menjalani takdir, tetapi memperjuangkannya lewat doa yang bergema menembus langit.

Baca juga