No.28/88/DKom
Upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan memerlukan dukungan investasi dan kapasitas pembiayaan yang memadai. Berbagai langkah perlu ditempuh untuk mengakselerasi intermediasi yang optimal, seimbang, dan inklusif. Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah, otoritas terkait, perbankan, investor, dan pelaku usaha terus mempererat langkah bersama dalam memperkuat optimisme, mempercepat penyaluran pembiayaan ke sektor riil, serta mengatasi berbagai hambatan intermediasi. Upaya sinergi kebijakan ini coba diwujudkan salah satunya melalui Kick off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI 2026) yang diselenggarakan di BI, Jakarta (27/4). Kick off dilakukan oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Turut hadir pada momen tersebut para pimpinan dari Kementerian Keuangan, Kementerian terkait lainnya, Danantara, Pelaku Usaha, investor domestik serta investor global dari berbagai negara.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa perekonomian Indonesia perlu terus didorong berbasis permintaan domestik di tengah kondisi global yang tidak kondusif. Terdapat tiga tantangan utama yang perlu direspons, yaitu membangkitkan kepercayaan pelaku usaha serta mempertemukan pembiayaan dengan proyek prioritas nasional, memperkuat mesin pertumbuhan domestik dan kapasitas pembiayaan, serta memastikan kebijakan yang telah ditempuh dapat ditransmisikan secara efektif ke aktivitas ekonomi. “Dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 sebesar 4,9–5,7% dan terus tumbuh meningkat, BI memperkuat bauran kebijakan, termasuk kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan kredit dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan," ujar Perry. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat optimisme pelaku usaha sekaligus mendorong pembiayaan mengalir lebih optimal ke sektor produktif.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menekankan pentingnya peran sektor keuangan sebagai motor pembiayaan pembangunan. “Sektor jasa keuangan memegang peran strategis sebagai motor pembiayaan pembangunan. Kredit harus tumbuh sehat, menjangkau UMKM, dan sektor yang mampu menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja." Pemerintah terus mendorong pembiayaan sektor produktif, antara lain melalui realisasi Kredit Program yang hingga 31 Maret 2026 telah mencapai Rp78,39 triliun atau sekitar 24,88% dari target 2026. Untuk itu, seluruh pemangku kepentingan perlu bersama-sama memperkuat pembiayaan sektor produktif. “Keberhasilan agenda ini tidak bisa dikerjakan sendiri oleh Pemerintah. Kekuatan PINISI justru terletak pada peran komplementer seluruh pihak," ujar Airlangga.
Dalam mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, BI terus memperkuat bauran kebijakan, termasuk kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan kredit dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Pada Maret 2026, kredit perbankan tumbuh 9,49% (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam Policy Dialogue menyampaikan bahwa masih ada ruang yang luas untuk mendorong pembiayaan terutama ke sektor produktif. Pemanfaatan pembiayaan perbankan masih dapat ditingkatkan terutama dengan mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan), yang mencapai Rp2.527,46 triliun atau 22,59% dari total plafon kredit pada Maret 2026. Untuk itu, BI terus mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong bank agar menyalurkan kredit ke sektor prioritas Pemerintah dan mempercepat penurunan suku bunga kredit. Hal ini didukung dengan kapasitas pembiayaan perbankan yang memadai yang tecermin dari rasio likuiditas perbankan (AL/DPK) yang terjaga sebesar 27,85% serta pertumbuhan DPK yang mencapai 13,55% (yoy) pada Maret 2026.
Rangkaian Kick off PINISI 2026 berlangsung 27-28 April 2026. Kegiatan selama dua hari ini melibatkan kementerian/lembaga, perbankan, investor domestik, pelaku usaha, serta investor global dari berbagai negara. Selain dialog kebijakan dan dunia usaha, pada rangkaian kegiatan dilakukan showcasing dan business matching program prioritas Pemerintah dan perbankan. Melalui langkah ini, BI bersama Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan menegaskan komitmen untuk mempercepat intermediasi dan mendorong investasi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Jakarta, 27 April 2026
Departemen Komunikasi
Ramdan Denny Prakoso
Direktur Eksekutif
