No.28/23/DKom
Berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah, sebagai berikut:
Perkembangan Nilai Tukar 26 - 30 Januari 2026
Pada akhir hari
Kamis, 29 Januari 2026
- Rupiah ditutup pada level (bid) Rp16.745 per dolar AS.
-
Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun naik ke 6,35%.
- DXY[1] melemah ke level 96,28.
-
Yield UST (US Treasury) Note[2] 10 tahun turun ke 4,231%.
Pada pagi hari
Jumat, 30 Januari 2026
- Rupiah dibuka pada level (bid) Rp16.770 per dolar AS.
Yield SBN 10 tahun naik ke 6,36%.
Aliran Modal Asing (Minggu
IV Januari
2026)
- Premi CDS Indonesia 5 tahun per 29 Januari 2026 sebesar 75,31 bps, naik dibanding dengan 23 Januari 2026 sebesar 73,05 bps.
- Berdasarkan data transaksi 26 – 29 Januari 2026, nonresiden tercatat jual neto sebesar Rp12,55 triliun, terdiri dari jual neto sebesar Rp12,40 triliun di pasar saham dan Rp2,77 triliun di pasar SBN, serta beli neto Rp2,61 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selama tahun 2026, berdasarkan data setelmen s.d. 29 Januari 2026, nonresiden tercatat beli neto sebesar Rp4,84 triliun di pasar saham dan Rp6,18 triliun di SRBI, serta jual neto Rp0,10 triliun di pasar SBN.
Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
Jakarta, 30 Januari 2026
Departemen Komunikasi
Ramdan Denny Prakoso
Direktur Eksekutif
[1] DXY atau Indeks Dolar adalah indeks yang menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang negara utama lainnya (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF).
[2] UST atau US Treasury Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.