Tahukah Sobat Rupiah, wisatawan dari Arab Saudi rata-rata membelanjakan sekitar USD1.774 setiap kali berkunjung ke Indonesia dan tinggal hampir 13 hari? Wisatawan dari Malaysia rata-rata USD594 dan tinggal sekitar empat hari. Data ini dipaparkan dalam Indonesia Muslim Friendly Tourism Summit (IMFTS), rangkaian ISEF 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Angka tersebut menunjukkan besarnya peluang belanja wisatawan muslim yang bisa mengalir ke penginapan, rumah makan, hingga toko oleh-oleh di daerah.
Peluang inilah yang ingin ditangkap lewat pariwisata ramah muslim, salah satu sektor unggulan dalam Blueprint Eksyar 2030 Bank Indonesia. Indonesia sendiri kini menempati peringkat kedua dunia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, indeks destinasi ramah muslim dunia, naik dari peringkat kelima. Lalu, apa sebenarnya pariwisata ramah muslim, dan apa manfaatnya bagi warga di daerah?
Apa Itu Pariwisata Ramah Muslim?
Pariwisata ramah muslim adalah layanan wisata yang memenuhi kebutuhan dasar wisatawan muslim di destinasi. Pedoman Kementerian Pariwisata menyebut tiga layanan dasarnya, yaitu makanan dan minuman halal, sarana ibadah yang bersih, serta toilet yang bersih dan memadai. Untuk kuliner, kehalalan dijaga mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga penyajian yang bersih, dengan informasi yang mudah diakses lewat papan informasi, brosur, maupun kanal digital. Jaminan layanan ini juga mencakup akomodasi ramah muslim, layanan ramah keluarga, dan tenaga kerja terlatih.
Layanan ini tidak menjadikan destinasi khusus untuk kalangan tertentu. Dalam IMFTS, Kementerian Pariwisata menegaskan bahwa pariwisata ramah muslim bukan kategori destinasi yang terpisah, tetapi lapisan kesiapan tambahan yang diterapkan pada seluruh destinasi wisata Indonesia. Wisatawan, baik muslim maupun nonmuslim, bisa menikmati destinasi yang memukau sekaligus pengalaman yang nyaman.
Kemudahan Digital Bikin Perjalanan Lebih Nyaman
Selain layanan di lokasi, kenyamanan wisatawan kini dibangun lewat teknologi digital, mulai dari merencanakan perjalanan sampai bertransaksi di lokasi. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menekankan pentingnya informasi lengkap di platform digital, termasuk fasilitas ibadah dan akomodasi halal. Kecerdasan buatan juga mulai dimanfaatkan untuk membantu wisatawan menyusun rencana perjalanan hingga memandu langsung di lokasi.
Bagaimana dengan wisatawan mancanegara? Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, memaparkan Indonesia Travel Pack, layanan terpadu bagi wisatawan mancanegara. Isinya mulai dari panduan destinasi, informasi pembayaran termasuk tempat kuliner yang menerima QRIS, hingga informasi kartu SIM dan koneksi internet. Layanan ini bisa diakses lewat kode QR di bandara, pelabuhan, destinasi wisata, sentra kuliner, pusat oleh-oleh, dan UMKM pilihan.
Pembayaran juga makin mudah lewat QRIS antarnegara, yang kini sudah terhubung dengan enam negara, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Wisatawan dari negara-negara tersebut bisa membayar langsung di Indonesia, dan pedagang lokal pun lebih mudah menerima pembayaran dari mereka.
Peluang Usaha Terbuka bagi Warga Daerah
Pariwisata ramah muslim membuka peluang usaha bagi warga daerah, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Harapannya, belanja wisatawan lebih banyak terserap oleh usaha lokal, sehingga manfaat ekonominya ikut dirasakan warga. Salah satu kuncinya adalah sertifikasi halal. Hingga akhir Mei 2026, sebanyak 31.548 sertifikat halal telah terbit di 1.116 desa wisata di 34 provinsi.
Bank Indonesia bersama pemerintah daerah juga mendorong Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS). Di kawasan Menara Limboto, ikon wisata Gorontalo, misalnya, 11 UMKM kuliner difasilitasi sertifikasi halal untuk 298 produk, dan 16 UMKM memperoleh sertifikat laik higiene sanitasi. Wisatawan pun bisa menikmati kuliner lokal dengan lebih tenang, sementara pelaku usaha punya nilai tambah untuk bersaing.
Cerita lain datang dari Desa Wisata Hijau Bilebante di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, salah satu percontohan pariwisata ramah muslim Bank Indonesia. Di desa ini, Bank Indonesia mendukung renovasi masjid dan musala, penyediaan toilet portabel, hingga sarana atraksi seperti gazebo, sepeda, dan ATV untuk menyusuri sawah. Kelompok sadar wisata setempat juga dilatih memperkuat promosi dan pemasaran paket wisatanya. Pada September 2026, Bilebante meraih juara I desa berprestasi tingkat Provinsi NTB. Pembinaan serupa kini menjangkau lebih banyak desa lewat bootcamp bagi pengelola 25 desa wisata unggulan di lima provinsi terbaik hasil Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025, kajian kesiapan yang disusun Bank Indonesia bersama Kementerian Pariwisata di 15 provinsi. Bagi Sobat Rupiah di daerah wisata, peluang ini bisa dimulai dari warung makan, penginapan, atau produk oleh-oleh.
Bersama Menyiapkan Destinasi Ramah Muslim
Pengembangan pariwisata ramah muslim membutuhkan kerja sama pemerintah pusat, daerah, industri, akademisi, dan masyarakat. Hal ini mengemuka dalam IMFTS, termasuk pentingnya standar layanan, infrastruktur destinasi yang memadai, serta akses transportasi yang mudah. Pemerintah juga menempatkan pariwisata ramah muslim sebagai program prioritas ekonomi syariah dalam RPJMN 2025–2029, dengan target pertumbuhan 13,08% pada 2029. Upaya ini tentu bukan hanya tugas pemerintah.
Jadi, Sobat Rupiah juga bisa ikut ambil bagian. Saat berlibur nanti, mampirlah ke desa wisata, cicipi kuliner halal buatan UMKM setempat, dan ceritakan pengalamanmu kepada kerabat dan teman, agar makin banyak wisatawan tertarik berkunjung dan ekonomi daerah ikut bergerak!