Apa jadinya jika penutupan sebuah perhelatan justru menjadi awal dari kolaborasi yang lebih besar? ISEF 2026 punya jawabannya.
Bagi pelaku usaha, pertemuan dengan calon mitra bisa membuka jalan menuju pasar baru. Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kesempatan untuk memperkenalkan produk dapat menjadi langkah awal untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Sementara bagi masyarakat, ekosistem ekonomi yang semakin kuat berpotensi menghadirkan pilihan produk, kesempatan usaha, hingga lapangan kerja.
Semangat itulah yang menghidupkan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 pada 14–18 Oktober 2026. Lebih dari sekadar festival, ISEF menjadi ruang pertemuan berbagai pihak untuk mendorong ekonomi dan keuangan syariah tumbuh melalui kolaborasi, inovasi, dan transformasi digital.
Namun, seberapa jauh peluang tersebut berhasil dikonversi menjadi aktivitas ekonomi?
Transaksi Nyata, Peluang Terbuka
Saat menutup ISEF 2026, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, menyampaikan bahwa hingga malam sebelumnya, ISEF telah dikunjungi sekitar 93 ribu orang, dengan jangkauan melalui media massa dan media sosial mencapai 26,5 juta orang.
Di balik jangkauan itu, ada transaksi yang nyata. Penjualan produk makanan dan fesyen mencapai Rp13,85 miliar. Pertemuan bisnis (business matching) mencatat nilai Rp3,16 triliun, terdiri atas pembiayaan syariah Rp2,6 triliun dan perdagangan syariah Rp558,4 miliar. Di luar itu, ada juga komitmen kerja sama pasar uang dan pasar valas syariah senilai Rp6,05 triliun.
Angka-angka ini menunjukkan beragam jalur yang dapat menggerakkan ekonomi syariah. Penjualan memberikan ruang transaksi bagi pelaku usaha, sedangkan pertemuan bisnis membuka peluang untuk mempertemukan kebutuhan pembiayaan dengan rencana pengembangan usaha sekaligus memperluas hubungan dagang. Adapun komitmen kerja sama pasar keuangan menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendukungnya.
Lima Hari, Satu Rantai Usaha
Lima hari ISEF terasa seperti perjalanan sebuah usaha yang sedang naik kelas. Semuanya berawal dari produk, ketika makanan halal, fesyen muslim, dan usaha rintisan syariah saling bertemu dan bertukar gagasan. Dari situ, usaha butuh teman seperjalanan, mulai dari forum bisnis pesantren dan diskusi pendanaan haji, hingga Business Deals Ceremony yang mempertemukan pelaku usaha dengan mitra pembiayaan, sementara pariwisata ramah muslim ikut membuka pasar baru.
Di balik semuanya, ada orang-orang yang menjaga agar kebaikan ini terus berputar, yaitu para perempuan, anak muda, dan pegiat zakat. Maka wajar jika ISEF ditutup dengan perayaan, Celebrating the Movement. Sebab dalam rantai seperti ini, tak ada yang berjalan sendirian. Produk butuh pasar, usaha butuh pembiayaan, dan peluang butuh tangan-tangan yang terampil.
Merawat Sinergi, Menjaga Keberlanjutan
Berbagai potensi yang ada masih terbuka untuk dikembangkan lebih jauh. Bank Indonesia melihat ada sejumlah hal yang perlu diperkuat, seperti integrasi rantai nilai halal dari hulu ke hilir, perluasan akses pembiayaan syariah, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi syariah melalui pendidikan, komunitas, media sosial, dan digitalisasi layanan.
Di sisi pembiayaan, inovasi terus didorong, termasuk model yang memadukan dana komersial dan dana sosial syariah seperti wakaf. ISEF 2026 juga menghadirkan sejumlah langkah kolaboratif, antara lain program beasiswa internasional yang didukung dana sosial syariah, peluncuran Islamic Financial Market Code of Conduct, dan Indeks Implementasi Zakat Core Principles 2.0. Semuanya berpijak pada visi menjadikan Indonesia pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.
Dari Angka Menjadi Manfaat
Angka-angka yang diumumkan di panggung ISEF mungkin terdengar jauh dari keseharian kita. Tapi dari sinilah manfaat bagi masyarakat bisa bermula. Saat usaha mendapat akses pasar yang lebih luas, pesanan bisa bertambah dan produksi pun perlu ditingkatkan. Untuk itu, pelaku usaha bisa membutuhkan modal, tenaga kerja, pasokan bahan baku, dan kemampuan menjaga kualitas produk.
Dari situ, dampaknya mengalir lebih jauh. Ada tenaga kerja baru yang terserap, pemasok lokal yang ikut tumbuh, dan pilihan produk yang semakin beragam. Jadi, meski tidak terlibat langsung dalam ekonomi syariah, kita tetap bisa merasakan manfaatnya, baik sebagai pekerja, pemasok, maupun pembeli. Apalagi, saat literasi membaik, masyarakat pun dapat lebih bijak mengambil keputusan keuangan.
Di sinilah kolaborasi perlu terus bergerak, bahkan setelah helatan ISEF berakhir. Bank Indonesia bersama pemerintah, industri, lembaga keuangan, komunitas, dan pelaku usaha memiliki ruang untuk melanjutkan apa yang telah dirintis, agar peluang yang lahir dari helatan ISEF semakin dekat dengan keseharian masyarakat.