Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 mengalami
peningkatan dan berada di atas kisaran sasaran 2,5±1%. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, IHK Februari 2026 mencatatkan
inflasi sebesar 0,68% (mtm), sehingga secara tahunan IHK mengalami inflasi
sebesar 4,76% (yoy), meningkat dari Januari 2025 yang sebesar 3,55% (yoy). Perkembangan inflasi IHK Februari 2026 yang
berada di atas rentang sasaran inflasi lebih dipengaruhi oleh faktor low base effect inflasi Februari 2025
yang tercatat rendah yaitu deflasi 0,09% (yoy) atau 0,48% (mtm). Faktor low base effect terutama disumbang oleh
inflasi administered price (AP) yang
meningkat signifikan menjadi sebesar 12,66% (yoy) pada Februari 2026, dari
9,71% (yoy) pada Januari 2025. Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar
2,63% (yoy), lebih tinggi dari Januari 2025 sebesar 2,45% (yoy). Kelompok VF
mengalami inflasi sebesar 4,64% (yoy), lebih tinggi dari Januari 2025 sebesar
1,14% (yoy). Secara bulanan, inflasi IHK disumbang oleh kelompok inti dan VF. Kelompok inti mengalami inflasi 0,42% (mtm) dan
VF mengalami inflasi 2,50% (mtm), sementara kelompok AP mengalami deflasi
sebesar 0,03% (mtm). Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi 2026 secara
tahunan akan menurun sehingga tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%.
Prakiraan ini didukung oleh konsistensi kebijakan moneter dan eratnya sinergi
pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah)
dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), penguatan
implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional, dan berakhirnya pengaruh low
base effect akibat rendahnya inflasi Januari 2025 karena implementasi kebijakan
diskon tarif listrik.