Cerita BI

BI Icon

​​​​​Departemen Komunikasi​​

10/15/2026 7:00 AM
Hits: 27

Menggerakkan Potensi Wakaf dengan Kepemimpinan yang Amanah

Gagasan besar tidak selalu kekurangan peluang. Terkadang, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu mengubah potensi menjadi manfaat nyata.

Dalam kehidupan, tak jarang kita mengukur keberhasilan dari apa yang berhasil dikumpulkan. Misalnya, aset yang bertambah, bangunan yang berdiri, atau dana yang berhasil dihimpun. Namun, sejauh mana semua itu memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk masa depan?

Wakaf adalah salah satu contohnya. Lebih dari sekadar praktik kedermawanan, wakaf menyimpan potensi sebagai modal sosial untuk mendukung pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan. Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang dengan sendirinya. Diperlukan gagasan yang tepat, tata kelola yang kuat, serta kepemimpinan yang memastikan setiap aset dikelola secara amanah dan produktif.

Pesan ini mengemuka dalam The 2nd Global Conference on Waqf Development (GLOW) 2026 di Jakarta. Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya pengembangan wakaf produktif yang inklusif dan berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan ekonomi.

Dari Aset Menuju Manfaat

Data Kementerian Agama per Oktober 2026 mencatat sekitar 468.075 lokasi tanah wakaf dengan luas mencapai 59.000 hektare. Namun, baru sekitar 9,37% yang dikategorikan sebagai tanah wakaf produktif bernilai ekonomi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa tantangannya bukan semata-mata menghimpun aset, melainkan memastikan aset terlindungi, dikelola secara profesional, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta pelayanan sosial.

Di sinilah kepemimpinan diuji. Potensi besar membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Diperlukan kemampuan membaca peluang, membangun sistem, dan memastikan setiap keputusan berorientasi pada tujuan jangka panjang.

Kepemimpinan yang Memperkuat Ekosistem

Salah satu kunci pengembangan wakaf produktif adalah kualitas nazhir, yakni pihak yang menerima amanah untuk mengelola dan mengembangkan harta wakaf. Survei CRSC UIN Jakarta terhadap 500 nazhir di 11 provinsi menunjukkan bahwa 84% menjalankan tugas secara paruh waktu. Temuan ini turut menyoroti tantangan keterbatasan modal dan kompetensi pengembangan usaha.

Karena itu, penguatan kapasitas nazhir melalui pelatihan, sertifikasi, pendampingan, dan kemitraan menjadi penting. Digitalisasi administrasi serta integrasi data juga diperlukan untuk memperkuat transparansi, perlindungan aset, dan pengambilan keputusan.

Upaya ini tentu membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, Badan Wakaf Indonesia (BWI), perguruan tinggi, lembaga keuangan syariah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya perlu bergerak bersama sesuai keahlian masing-masing.

Dalam ekosistem tersebut, Bank Indonesia berperan sebagai fasilitator dan akselerator pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk mendorong sinergi keuangan sosial dan komersial syariah, inovasi, serta digitalisasi. Melalui penguatan kolaborasi dan literasi, potensi wakaf dapat dihubungkan dengan ekosistem pembiayaan dan kegiatan ekonomi produktif, dengan tetap menjaga prinsip syariah dan akuntabilitas.

Peran ini sejalan dengan semangat GLOW 2026 yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat riset, meningkatkan kesiapan proyek, dan membangun kemitraan yang bertanggung jawab. Kepemimpinan tidak berarti mengerjakan semuanya sendiri, melainkan mampu mempertemukan potensi, keahlian, dan sumber daya untuk mencapai tujuan bersama.

Gagasan yang Menghasilkan Dampak

Sejumlah inisiatif terbukti telah membuka jalan, antara lain program Kota Wakaf yang dilaporkan mencakup 16 lokasi dengan 24 institusi mitra, serta Inkubasi Wakaf Produktif di 75 lokasi dengan alokasi Rp5,625 miliar.

Langkah berikutnya adalah memastikan setiap program menghasilkan manfaat yang terukur dan berkelanjutan. Proyek perlu memiliki kelayakan yang jelas, tata kelola transparan, serta indikator hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, nilai sebuah gagasan tidak hanya terletak pada besarnya potensi, tetapi pada kemampuannya menjawab kebutuhan nyata. Kepemimpinan yang kuat bukan sekadar melahirkan program baru, melainkan menjaga amanah, memperkuat kapasitas, dan membangun kolaborasi agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat lintas generasi.



Lampiran
Kontak

​Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131

​e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB​​
Halaman ini terakhir diperbarui 10/15/2026 7:10 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?
Tag :

Baca Juga