BI Icon

Departemen Komunikasi​​

10/17/2026 1:00 PM

Dari Ide Jadi Aksi, Dari Usaha Jadi Inspirasi

Apa yang membedakan usaha yang sekadar ramai pembeli dengan bisnis yang mampu bertahan dan terus bertumbuh?

Jawabannya bukan hanya produk yang laku atau modal yang besar. Ada kemampuan membaca kebutuhan pasar, keberanian berinovasi, kemauan belajar, dan prinsip yang membuat usaha tetap memberi manfaat bagi orang lain.

Perjalanan Agung Hartadi, pendiri kanal YouTube Pecah Telur, memberi gambaran menarik tentang bagaimana anak muda dapat membangun usaha dari langkah sederhana. Sebelum dikenal melalui konten digital yang mengangkat kisah inspiratif, Agung lebih dahulu merintis bisnis fesyen. Ia memulai dari menjadi dropshipper dan affiliate produk pakaian, sebelum akhirnya membangun merek sendiri, Swarga Hijab.

Perjalanannya tidak berhenti pada keberanian memulai. Agung mengambil keputusan untuk melibatkan mentor sekaligus investor dalam bisnisnya. Dukungan investasi sebesar Rp150 juta, disertai bimbingan dan arahan bisnis, membantu usahanya berkembang pesat. Dalam dua tahun, bisnis tersebut pernah meraih omzet Rp2 miliar dalam 1 bulan dan mempekerjakan lebih dari 300 karyawan.

Kisah ini memperlihatkan bahwa membangun usaha bukan semata-mata soal menemukan ide yang menarik. Peluang perlu diikuti dengan strategi, keterbukaan terhadap masukan, serta kemampuan mengelola sumber daya agar bisnis dapat berkembang. Memulai dari skala kecil bukan penghalang untuk memiliki cita-cita besar.

Membaca Peluang, Menjawab Kebutuhan

Di era digital, kesempatan untuk merintis usaha semakin terbuka. Platform digital memungkinkan pelaku usaha memasarkan produk, menjangkau konsumen, dan membangun komunikasi dengan pasar tanpa harus memiliki jaringan bisnis yang luas sejak awal. Namun, teknologi hanyalah alat. Keberhasilan tetap bergantung pada kemampuan memahami kebutuhan konsumen dan menawarkan solusi yang relevan.

Pengalaman Agung juga berlanjut melalui Pecah Telur, kanal yang menghadirkan cerita perjalanan para pelaku usaha dan kisah inspiratif lainnya. Pemanfaatan media digital tidak hanya menjadi sarana menyebarkan informasi, tetapi juga membuka ruang untuk berbagi pembelajaran dan mendorong orang lain untuk berani memulai.

Agung turut menekankan pentingnya pemanfaatan konten digital untuk menyampaikan pesan yang menarik dan mudah diterima masyarakat. Pesan ini mengingatkan bahwa keterampilan digital dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk mengembangkan bisnis, melainkan juga untuk menyebarkan nilai kebaikan.

Di sinilah prinsip tanggung jawab menjadi penting. Usaha yang baik tidak berhenti pada pencapaian penjualan, tetapi juga mempertimbangkan manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. Dalam ekonomi syariah, orientasi tersebut sejalan dengan semangat menjalankan kegiatan ekonomi secara bertanggung jawab dan menghadirkan kemaslahatan.

Ekonomi Syariah, Ladang Peluang Generasi Muda

Potensi tersebut semakin relevan ketika melihat perkembangan ekonomi syariah Indonesia. Dalam sambutannya pada Youth Sharia Entrepreneurship Forum (YSEF) 2026, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menyampaikan bahwa ekonomi syariah Indonesia diperkirakan berkontribusi sekitar 30% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Indonesia juga bertahan di peringkat keempat dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, dengan posisi kuat pada sektor modest fashion, makanan halal, serta media dan rekreasi.

Lebih jauh, rantai nilai halal tumbuh 6,21% pada 2025, melampaui pertumbuhan PDB nasional. Angka ini menunjukkan bahwa peluang usaha syariah terbentang luas, mulai dari fesyen, makanan dan minuman, hingga produk kreatif serta layanan digital. Tantangannya adalah mengubah potensi tersebut menjadi bisnis yang kompetitif, inovatif, dan berkelanjutan.

Aida menekankan pentingnya pengembangan model bisnis, inovasi digital, dan pelatihan kepemimpinan untuk melahirkan wirausahawan muda yang berdaya saing sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat. Bank Indonesia turut mendorong pengembangan usaha melalui pendekatan Kelembagaan, Kapasitas, dan Pembiayaan (KKP), pelatihan kewirausahaan, serta fasilitasi inovasi digital melalui PIDI–DIGDAYA x Hackathon.

Upaya ini menegaskan bahwa keberhasilan wirausaha muda tidak hanya ditentukan oleh semangat individu. Akses terhadap pengetahuan, pendampingan, pembiayaan, teknologi, dan jejaring juga berperan penting agar gagasan dapat berkembang menjadi usaha yang nyata.

Bertumbuh Bersama, Memberi Makna

Pada akhirnya, membangun usaha syariah bukan sekadar memilih sektor yang sedang berkembang. Generasi muda perlu berani membaca peluang, memahami persoalan konsumen, memanfaatkan teknologi secara tepat, dan menjaga tanggung jawab dalam setiap keputusan bisnis. Kolaborasi dengan mentor, mitra, maupun komunitas juga dapat membantu usaha melewati berbagai tantangan.

Perjalanan Agung menunjukkan bahwa langkah sederhana dapat membuka jalan menuju bisnis berskala lebih besar. Sementara itu, pesan Aida mengingatkan bahwa potensi ekonomi syariah membutuhkan generasi muda yang mampu mengubah peluang menjadi nilai tambah bagi perekonomian.

Bisnis yang bertumbuh membuka peluang, tapi bisnis yang membawa manfaat meninggalkan dampak yang lebih luas. Saat anak muda mampu mengembangkan ide dengan kreativitas, memanfaatkan teknologi, dan tetap berpegang pada prinsip tanggung jawab, usaha yang dibangun dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus membawa kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Inilah peluang generasi muda untuk ikut menggerakkan ekonomi syariah Indonesia.



Lampiran
Kontak
​Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131
​e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB​

Tags :

Halaman ini terakhir diperbarui 10/17/2026 10:08 PM

Apakah halaman ini bermanfaat?

Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?