BI Icon
​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​Departemen Komunikasi​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​
10/27/2026 9:50 PM

Bank Indonesia dan APUVINDO Perkuat Sinergi Akselerasi Pendalaman Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing

No. 28/237/DKom 
Pasar uang dan pasar valuta asing (PUVA) yang likuid, efisien, dan berintegritas menjadi kunci untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter, menjaga stabilitas sistem keuangan, serta mendukung pembiayaan dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Untuk itu, Bank Indonesia (BI) bersama Asosiasi Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing Indonesia (APUVINDO) memperkuat sinergi dalam memperkuat sinergi dalam pengembangan produk, perluasan partisipasi pelaku pasar, dan penguatan infrastruktur pasar keuangan. Hal tersebut mengemuka dalam High Level Meeting (HLM) BI bersama APUVINDO yang turut melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pelaku industri di Jakarta (23/10). Mengusung tema “Perkuat Sinergi, Akselerasi Menuju PUVA Modern dan Maju 2030", pertemuan ini menegaskan komitmen bersama untuk mengakselerasi implementasi Blueprint Pendalaman Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing 2030 (BPPU 2030).

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan pentingnya percepatan implementasi BPPU 2030 dengan mengarahkan fokus pengembangan PUVA dari penguatan fondasi menuju peningkatan aktivitas dan pemanfaatan produk serta infrastruktur pasar. “Keberhasilan pendalaman PUVA tidak cukup berhenti pada tersedianya ketentuan dan infrastruktur, tetapi harus tercermin dari peningkatan aktivitas transaksi, perluasan partisipasi pelaku pasar yang kompeten, pembentukan harga yang semakin baik, serta penguatan tata kelola dan integritas pasar," tegas Destry. Untuk itu, industri didorong semakin aktif dalam menyediakan likuiditas, mengembangkan inovasi, dan mengatasi hambatan implementasi untuk mengakselerasi pendalaman PUVA.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menekankan pentingnya pendalaman pasar keuangan untuk memperkuat sumber pembiayaan pembangunan ekonomi nasional. Pendalaman pasar tidak hanya bertumpu pada peningkatan volume transaksi dan pengembangan instrumen, tetapi juga memerlukan tata kelola yang baik, integritas pelaku, transparansi, dan kepercayaan pasar. OJK berkomitmen memperkuat sinergi dengan BI, APUVINDO, dan pemangku kepentingan terkait untuk mewujudkan pasar keuangan yang semakin dalam, sehat, dan berdaya saing.

Akselerasi Pendalaman PUVA Menuju 2030

Implementasi BPPU 2030 terus diperkuat melalui pengembangan produk, pembentukan harga, peningkatan kapasitas pelaku, dan penguatan infrastruktur pasar keuangan. Berbagai capaian strategis telah dihasilkan antara lain pengembangan transaksi repo untuk meningkatkan likuiditas pasar uang, penguatan INDONIA sebagai referensi suku bunga, serta pengembangan instrumen lindung nilai dan transaksi valuta asing. Capaian tersebut didukung penguatan peran Dealer Utama PUVA, peningkatan kompetensi dan integritas pelaku pasar, serta pengembangan infrastruktur untuk mendukung transaksi yang lebih efisien dan aman.

Memasuki 2027, BI bersama APUVINDO akan mengakselerasi implementasi BPPU 2030 melalui empat prioritas strategis, yaitu pengembangan pasar uang, pengembangan pasar valuta asing, penguatan pelaku pasar, dan pengembangan infrastruktur pasar keuangan. Pengembangan pasar uang difokuskan pada penguatan Surat Berharga Komersial (SBK) sebagai alternatif pembiayaan sektor riil, perluasan penggunaan INDONIA sebagai referensi suku bunga berbagai produk keuangan, serta peningkatan likuiditas Overnight Index Swap (OIS) untuk mendukung pembentukan suku bunga yang lebih efisien. Upaya tersebut didukung perluasan basis investor dan peningkatan aktivitas transaksi di pasar sekunder.

Pengembangan pasar valuta asing dilakukan melalui perluasan akses lindung nilai dan penguatan konektivitas pasar domestik dengan pasar global. Optimalisasi VASTRA diarahkan untuk mempermudah akses lindung nilai bagi investor global, meningkatkan daya tarik aset Rupiah, serta mendukung aliran investasi portofolio berkelanjutan. Sementara itu, penguatan ekosistem Renminbi, termasuk pengembangan Renminbi Clearing Bank, ditujukan untuk meningkatkan likuiditas dan efisiensi transaksi Renminbi-Rupiah serta mendukung implementasi Local Currency Transaction (LCT) Indonesia–Tiongkok.

Penguatan pelaku pasar difokuskan pada peningkatan kompetensi, profesionalisme, dan integritas melalui penerapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), pengembangan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Tresuri Indonesia, serta penerapan kode etik pasar. Penguatan tersebut didukung peningkatan peran APUVINDO sebagai Self-Regulatory Organization (SRO) dalam mendorong standardisasi praktik dan tata kelola pasar.

Pengembangan infrastruktur pasar keuangan diarahkan pada optimalisasi pemanfaatan Central Counterparty dan Tri-party Agent Repo, perluasan produk dan partisipan, serta penguatan konektivitas antarinfrastruktur untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan pengelolaan risiko transaksi PUVA.

APUVINDO sebagai SRO PUVA terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis Bank Indonesia dalam menjembatani kebijakan dengan kebutuhan industri. Hingga Oktober 2026, APUVINDO memiliki 121 anggota, terdiri atas 105 institusi perbankan dan 16 lembaga nonbank serta penyelenggara infrastruktur pasar keuangan. Melalui kolaborasi dengan seluruh anggotanya, APUVINDO terus mendorong peningkatan aktivitas transaksi, optimalisasi pemanfaatan produk dan infrastruktur, serta penguatan kompetensi dan tata kelola pasar.

HLM BI–APUVINDO 2026 menjadi momentum untuk memperkuat sinergi BI, OJK, APUVINDO, dan industri dalam mewujudkan PUVA yang modern dan maju pada 2030. Bank Indonesia senantiasa mendorong percepatan implementasi berbagai inisiatif pendalaman pasar keuangan agar semakin berdampak nyata pada peningkatan aktivitas dan likuiditas pasar, penguatan efektivitas transmisi kebijakan moneter, serta dukungan terhadap stabilitas sistem keuangan dan pembiayaan perekonomian nasional secara berkelanjutan.


Jakarta, 27 Oktober 2026
Departemen Komunikasi
Ramdan Denny Prakoso
Direktur Eksekutif

 sp_2823726_2.jpeg

sp_2823726_3.jpeg

Lampiran
Kontak

​Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB

Tags :

Halaman ini terakhir diperbarui 10/27/2026 9:56 PM

Apakah halaman ini bermanfaat?

Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?