Berita Terkini (Siaran Pers)

BI Icon
​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​Departemen Komunikasi​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​ ​
10/5/2026 7:00 PM
Hits: 169

Ekosistem Ekonomi Syariah Untuk Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat

Siaran Pers
 

No.28/212/DKom  

Ekonomi syariah bukan sekadar soal label. Bukan hanya soal bank syariah, bukan hanya soal sertifikasi halal, dan bukan pula sekadar kegiatan sosial keagamaan. Ekonomi syariah adalah tentang bagaimana nilai-nilai syariah diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif, inklusif, berkeadilan, dan pada akhirnya mampu membangun kemandirian. Karena itu, Bank Indonesia terus mendorong penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah sebagai sumber pertumbuhan baru untuk membangun kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, saat membuka Seminar Nasional bertajuk “Membangun Masa Depan Ekonomi Syariah yang Inklusif dan Berkelanjutan", di Jakarta, Senin (5/10).

"Di tengah ketidakpastian geopolitik, fragmentasi perdagangan global, dan perkembangan teknologi, kemampuan Indonesia membangun kapasitas ekonomi menjadi semakin penting," ujar Solikin. Besarnya populasi Muslim, penduduk usia muda, dan aspek sosial menjadi modal besar bagi Indonesia untuk menjadikan ekonomi syariah sebagai sumber ekonomi baru. Potensi tersebut didukung oleh posisi Indonesia dalam peringkat empat dunia pada State of the Global Islamic Economy Report, dengan daya saing yang kuat pada sektor modest fashion, pariwisata, dan makanan halal. Di dalam negeri, sektor rantai nilai halal pada 2025 tumbuh 6,2% (yoy) dan berkontribusi sekitar 27% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Kinerja ekonomi syariah Indonesia ini perlu dioptimalkan agar menjadi kekuatan ekonomi yang semakin berdampak, inklusif, dan berkelanjutan. Lebih lanjut, Solikin menjelaskan bahwa optimalisasi potensi tersebut memerlukan penguatan pada tiga aspek yaitu Penguatan sektor riil, Pembiayaan serta Partisipasi masyarakat melalui literasi dan inklusi keuangan. Di sektor riil, besarnya pasar halal perlu diikuti peningkatan peran pelaku usaha Indonesia sebagai produsen yang menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat rantai pasok, dan menjangkau pasar global. Dari sisi pembiayaan, industri keuangan syariah yang terus berkembang perlu diperkuat sehingga mampu mendukung transformasi ekonomi syariah nasional. Sementara itu, peningkatan literasi perlu diikuti perluasan inklusi, sehingga pemahaman masyarakat dapat mendorong akseptasi terhadap  produk dan layanan ekonomi serta keuangan syariah.

Dalam mendukung penguatan tersebut, Bank Indonesia berperan sebagai Akselerator, Inisiator, dan Regulator (AIR). Melalui peran tersebut, BI mendorong keterhubungan dan sinergi dari berbagai pemangku kepentingan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan. “Seperti air, sebuah ekosistem hanya akan hidup kalau ia mengalir dan saling terhubung," ujar Solikin.

Seminar diikuti dengan diskusi dengan narasumber Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia Dadang Muljawan, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Cholil Nafis, ekonom syariah Adiwarman Azwar Karim, dan Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center Sapta Nirwandar. Diskusi yang berlangsung dinamis memberikan pesan bahwa kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk bersama memperkuat industri halal, didukung penguatan optimalisasi peran pembiayaan, digitalisasi UMKM dan perluasan akses pasar, akan  memperkuat peran Indonesia sebagai kekuatan industri halal dunia.

Bank Indonesia mendorong optimalisasi sektor produksi, termasuk usaha pesantren, untuk membangun rantai nilai halal yang terintegrasi dan berdaya saing. Dari sisi keuangan, BI mendukung perbankan syariah melalui instrumen moneter dan kebijakan makroprudensial untuk mendorong pembiayaan sektor-sektor ekonomi yang menjadi prioritas. Dukungan tersebut dilengkapi pengembangan instrumen likuiditas untuk meningkatkan efisiensi operasional serta memperkuat ketahanan perbankan syariah dalam menghadapi gejolak pasar. Di sisi industri syariah, penguatan keterhubungan antara penghimpunan dana syariah dan pemanfaatannya melalui layanan perbankan, penjaminan, serta asuransi syariah dapat meningkatkan perputaran dana dalam ekosistem dan mendukung pertumbuhan industri keuangan syariah. Perluasan ini juga meliputi optimalisasi zakat dan wakaf untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Bank Indonesia berkomitmen berkolaborasi bersama berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat peran ekonomi syariah sebagai sumber pertumbuhan baru yang mendorong kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara inklusif dan berkelanjutan. Salah satu langkah nyata Bank Indonesia adalah menggelar Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, yang akan diselenggarakan pada pertengahan Oktober 2026 bertempat di JICC, yang terbuka untuk penggiat syariah dan seluruh masyarakat. Informasi selengkapnya mengenai ISEF 2026 dapat diakses melalui laman ISEF - Indonesia Sharia Economic Festival dan kanal resmi Bank Indonesia.

 

Jakarta, 5 Oktober 2026
Departemen Komunikasi
Ramdan Denny Prakoso
Direktur Eksekutif

 sp_2821226_2.jpeg

​

Lampiran
Kontak

​Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB​

Halaman ini terakhir diperbarui 10/5/2026 7:14 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?
Tag :

Baca Juga