No.28/228/DKom
Perekonomian global tetap menunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut. Ketidakpastian global yang dipicu ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, ancaman siber, dan risiko gejolak pasar keuangan menuntut kerja sama internasional yang semakin erat. Di sisi lain, pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), diversifikasi rantai pasok, dan investasi energi berkelanjutan membuka peluang untuk menopang pertumbuhan dan ketahanan ekonomi global. Karena itu, koordinasi kebijakan dan penguatan kerja sama lintas negara menjadi penting untuk menjaga stabilitas serta memperkuat ketahanan ekonomi dalam menghadapi berbagai risiko global.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam rangkaian Pertemuan Tahunan International Monetary Fund dan World Bank (IMF-World Bank). Pertemuan ini mencakup pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara G20 (FMCBG), yang berlangsung pada 12-18 Oktober 2026 di Bangkok, Thailand. Delegasi RI dipimpin oleh Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dan Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara.
Pada rangkaian kegiatan tersebut, Destry menekankan pentingnya penguatan kerja sama internasional untuk memperkuat ketahanan ekonomi kawasan, antara lain melalui perluasan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam perdagangan dan investasi. Transaksi menggunakan mata uang lokal mengurangi ketergantungan pada mata uang negara ketiga dan menekan paparan terhadap gejolak nilai tukar global. Dengan demikian, perluasan transaksi mata uang lokal dapat mendukung ketahanan ekonomi kawasan dalam menghadapi gejolak eksternal.
Selain melalui kerja sama penggunaan mata uang lokal, penguatan ketahanan ekonomi juga memerlukan sistem keuangan digital yang inovatif dan tepercaya. Destry mengapresiasi capaian Presidensi G20 dalam memperjelas standar hukum dan regulasi bagi inovasi keuangan digital, sehingga inovasi dapat berkembang dengan tetap menjaga pelindungan konsumen, stabilitas keuangan, dan integritas pasar. Bank Indonesia juga mendukung peta jalan G20 untuk pembayaran lintas negara agar transaksi menjadi lebih cepat, murah, transparan, dan mudah diakses. “Kami mendukung peta jalan G20 untuk pembayaran lintas negara agar transaksi menjadi lebih cepat, murah, transparan, dan mudah diakses. Perbaikan ini akan memberi manfaat bagi dunia usaha, memfasilitasi perdagangan internasional, serta mendorong inklusi keuangan," tutur Destry. Sejalan dengan upaya tersebut, Bank Indonesia mendorong pembayaran QR lintas negara dan transaksi mata uang lokal untuk meningkatkan efisiensi pembayaran, mendukung perdagangan, dan memperluas inklusi keuangan. Di dalam negeri, Bank Indonesia juga memperluas manfaat digitalisasi keuangan melalui penggunaan QRIS oleh generasi muda dan UMKM untuk membangun rekam jejak transaksi digital dan meningkatkan akses ke pembiayaan formal.
Para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dalam pertemuan IMF–World Bank menyepakati Agenda Kebijakan Global (Global Policy Agenda) untuk memperkuat ketahanan ekonomi dunia. Agenda ini mencakup pemeliharaan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, perbaikan iklim usaha dan modernisasi pasar tenaga kerja untuk mendukung pertumbuhan sektor swasta, serta pemanfaatan AI dan digitalisasi yang didukung investasi pada infrastruktur digital dan energi berkelanjutan. Kerja sama internasional juga diperlukan untuk mengatasi ketidakseimbangan global, mengelola kerentanan utang, dan menjaga kelancaran perdagangan. Selain itu, IMF menekankan penguatan jaring pengaman keuangan global, penyediaan pembiayaan sesuai kebutuhan negara anggota, serta reformasi kuota dan tata kelola IMF.
Pembahasan berlanjut dalam pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 menyoroti penguatan kerja sama internasional untuk membangun sektor keuangan yang inovatif dan berdaya tahan. Sejalan dengan prioritas Presidensi G20 Amerika Serikat, pembahasan mencakup peningkatan efektivitas regulasi dan pengawasan, penyederhanaan regulasi, serta pemanfaatan inovasi dan teknologi dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan. Pertemuan ini juga menandai serah terima Presidensi G20 Finance Track dari Amerika Serikat kepada Inggris.
Ke depan, Bank Indonesia bersama Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan otoritas global untuk bersama menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendukung pertumbuhan berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Jakarta, 18 Oktober 2026
Departemen Komunikasi
Ramdan Denny Prakoso
Direktur Eksekutif