Kita sering berpikir bahwa nasib petani hanya ditentukan oleh cuaca. Jika hujan cukup dan matahari bersinar terang, panen akan melimpah. Sebaliknya, jika banjir atau kekeringan melanda, petani akan merugi. Tapi, pernahkah Anda berpikir bahwa kebijakan yang diputuskan di gedung-gedung tinggi perkotaan bisa sama berbahayanya dengan badai bagi para petani?
Sebuah riset terbaru di China, negara dengan sektor agrikultur raksasa, menemukan hubungan yang mengejutkan antara ketidakpastian ekonomi dengan risiko iklim yang dihadapi petani. Temuan ini membuka mata kita bahwa nasib petani jauh lebih kompleks dari sekadar urusan langit dan tanah.
Saat Ekonomi "Goyang", Pertanian Jadi Taruhan
Bayangkan situasi ini: para pelaku bisnis dan bankir di kota sedang bingung. Bank sentral seolah-olah memberi sinyal yang berubah-ubah tentang suku bunga, inflasi, dan arah kebijakan ekonomi. Kondisi "abu-abu" ini oleh para ekonom disebut sebagai Ketidakpastian Kebijakan Moneter (MPU). Saat MPU tinggi, semua orang cenderung "wait and see", menahan investasi, dan enggan mengambil risiko.
Apa hubungannya dengan petani di desa? Riset ini membuktikan bahwa saat tingkat ketidakpastian ekonomi ini tinggi, risiko iklim di sektor pertanian ikut meningkat drastis.
Logikanya sederhana. Ketika ekonomi tidak menentu, bank menjadi lebih pelit menyalurkan kredit. Akibatnya, petani kesulitan mendapatkan pinjaman untuk membeli benih unggul yang tahan kekeringan, membangun sistem irigasi yang lebih baik, atau membeli alat-alat modern. Investasi di infrastruktur pertanian pun mandek. Akhirnya, ketika cuaca ekstrem benar-benar datang, para petani menjadi kelompok yang paling rentan karena tidak punya "senjata" untuk bertahan.
Paradoks Produktivitas: Makin Produktif, Makin Berisiko?
Temuan menarik lainnya adalah adanya "Kurva Kuznets Pertanian". Ini terdengar rumit, tapi konsepnya cukup unik dan bisa kita sebut sebagai "Paradoks Produktivitas".
Awalnya, ketika petani berusaha meningkatkan produktivitas secara besar-besaran—misalnya dengan membuka lebih banyak lahan atau menggunakan pupuk secara masif—risiko iklim justru ikut meningkat. Mengapa? Karena seringkali cara-cara ini kurang berkelanjutan, bisa merusak kualitas tanah, dan membuat ekosistem lebih rapuh terhadap guncangan cuaca.
Namun, ada titik baliknya. Setelah mencapai level modernisasi tertentu, peningkatan produktivitas justru mulai menurunkan risiko iklim. Ini terjadi ketika petani beralih dari sekadar "memproduksi lebih banyak" menjadi "memproduksi lebih cerdas". Mereka mulai menggunakan teknologi presisi, benih hasil rekayasa genetika yang tangguh, dan praktik pertanian ramah lingkungan.
Pesan pentingnya: solusi untuk ketahanan pangan bukanlah dengan mengurangi produksi, melainkan dengan memodernisasi cara kita berproduksi.
Sang Pahlawan Tak Terduga: Asuransi Pertanian
Di tengah hubungan rumit antara ekonomi dan iklim ini, riset menemukan satu pahlawan yang bisa menjadi "perisai" bagi para petani: asuransi pertanian.
Studi ini menunjukkan bahwa dampak buruk dari ketidakpastian ekonomi bisa diredam secara signifikan jika petani memiliki akses ke asuransi. Dengan jaminan asuransi, petani punya jaring pengaman. Jika panen gagal karena banjir, mereka tidak akan langsung bangkrut. Keberanian mereka untuk tetap bertani dan berinvestasi pada teknologi yang lebih baik pun meningkat, bahkan di tengah ekonomi yang sedang "goyang".
Apa yang Harus Dilakukan?
Temuan ini memberikan tiga resep kebijakan yang jelas bagi pemerintah mana pun yang peduli pada nasib petaninya:
Bangun Pertanian yang Tangguh: Pemerintah harus berinvestasi pada infrastruktur tahan iklim seperti bendungan dan sistem irigasi modern, terutama di daerah-daerah yang paling rentan dengan isu pengairan.
Perluas "Perisai" Asuransi: Jadikan asuransi pertanian lebih terjangkau dan mudah diakses oleh seluruh petani, bukan hanya segelintir kelompok saja.
Buka Keran Finansial: Sediakan skema kredit dan pinjaman yang dirancang khusus untuk kebutuhan petani, agar mereka bisa berinvestasi pada teknologi pertanian cerdas iklim.
Pada akhirnya, riset ini mengingatkan kita bahwa untuk menjaga piring nasi kita tetap terisi, kita tidak bisa hanya melihat ke langit. Kita juga harus memastikan bahwa fondasi ekonomi negara kita cukup kokoh untuk melindungi mereka yang bekerja di darat. Lebih dari itu, tentu saja banyak pelajaran yang dapat di ambil oleh Indonesia, terutama soal kesejahteraan petani.
(Danny Hermawan)
Sumber
Title : Monetary Policy Uncertainty and Agricultural Climate Risk: Does the Agricultural Kuznets Curve Exist?
Volume : Vol. 27, No. 4 (2024)
DOI : https://doi.org/10.59091/2460-9196.2419
Authors:
Chien-Chiang Lee - Wuchang University of Technology
Farzan Yahya - Nanchang Institute of Technology
Md Reza Sultanuzzaman - Nanchang Institute of Technology