BI Icon

BI Institute​

4/29/2024 12:00 AM
Hits: 76

Belanja Online: Menyingkap Rahasia di Balik Label Harga Produsen

Research

Dunia belanja online kini menjadi primadona. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana mekanisme harga barang dipatok di lapak online?  Sebuah studi yang dilakukan oleh Fiskara Indawan, Aryo Sasongko, dan Dian Rahmawati menyingkap rahasia dapur para penjual online, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), di era sebelum dan selama pandemi COVID-19.  Studi ini melibatkan survei terhadap 297 pelaku usaha online dan offline.

Temuan menarik terungkap. Penetapan harga di pasar online Indonesia ternyata tak sembarangan.  Para penjual online menerapkan beberapa strategi cerdas:


1. Aturan Penetapan Harga Bergantung Kondisi (State-Dependent Pricing)

Para penjual online tidak kaku dalam mematok harga. Strategi "state-dependent pricing" membuat harga bisa berubah berdasarkan kondisi tertentu.  Misalnya, harga bisa naik saat permintaan tinggi, seperti mendekati lebaran atau harbolnas.  Sebaliknya, harga bisa turun ketika stok barang menumpuk atau ada kompetitor baru dengan banderol lebih rendah.

2. Diskriminasi Harga (Price Discrimination)

Diskriminasi harga mungkin terdengar tidak adil, namun dalam praktiknya bisa menguntungkan pembeli.  Para penjual online mungkin menawarkan harga berbeda kepada kelompok pembeli tertentu.  Contohnya, potongan harga khusus untuk pelanggan setia atau diskon perdana bagi pembeli baru.  Strategi ini bertujuan meningkatkan daya tarik lapak online mereka.

3. Evaluasi Harga secara Berkala

Beda dengan toko offline yang mungkin jarang mengubah harga, pasar online justru dinamis.  Para penjual online terbiasa mengevaluasi harga barang dagangan mereka berkali-kali dalam setahun.  Evaluasi ini didasarkan pada informasi terkini, seperti fluktuasi harga bahan baku, tren pasar, dan harga pesaing.  Dengan penyesuaian harga yang cepat, penjual online bisa mempertahankan daya saing dan profitabilitas.

4. Reaksi Cepat Terhadap Ketidakpastian (Shock)

Pandemi COVID-19 menjadi contoh ketidakpastian (shock) yang mempengaruhi pasar.  Studi ini menemukan bahwa pasar online bereaksi cepat terhadap goncangan seperti ini.  Para penjual online sigap menyesuaikan harga berdasarkan perubahan biaya produksi atau permintaan yang fluktuatif.  Kelincahan ini membuat pasar online mampu beradaptasi di tengah ketidakpastian.

5. Perubahan Harga Dipicu Biaya Produksi

Apa yang paling mempengaruhi perubahan harga di pasar online?  Studi ini mengungkap bahwa perubahan biaya produksi menjadi faktor utama.  Jika biaya bahan baku naik, penjual online terpaksa menyesuaikan harga jual agar profit tetap terjaga.  Sebaliknya, jika biaya produksi turun, ada kemungkinan harga jual juga ikut turun untuk menarik minat pembeli.

6. Kontrak Implisit dan Kekakuan Harga

Meski pasar online terkesan dinamis, ada kalanya harga juga “mengalami kebuntuan".  Fenomena ini dipengaruhi oleh “kontrak implisit" antara penjual dan pembeli.  Kontrak implisit ini terbentuk dari kepercayaan dan hubungan yang terjalin selama proses transaksi.  Ketika kontrak implisit ini kuat, penjual mungkin segan menaikkan harga secara mendadak, meski biaya produksi meningkat.  Namun, hal ini bisa berubah jika ada ketidakpuasan pelanggan atau penjual kesulitan mempertahankan profit.

7. Pasar yang Sangat Kompetitif

Studi ini juga membantah mitos bahwa penjual online asal “nembak harga" tinggi.  Faktanya, pasar online justru  beroperasi dalam lingkungan yang sangat kompetitif.  Para penjual harus terus memantau harga pesaing dan menyesuaikan strategi mereka agar tetap dilirik pembeli.  Harga yang terlalu tinggi berisiko membuat pembeli kabur ke lapak online lain.

8. Menolak "Harga Patokan" (Rule of Thumb Pricing)

Strategi “rule of thumb pricing" atau patokan harga secara asal-asalan tidak lazim di pasar online.  Para penjual online dituntut untuk cermat menghitung biaya produksi, menganalisa tren pasar, dan memahami perilaku konsumen.  Dengan perhitungan yang matang, harga yang ditetapkan bisa kompetitif dan tetap menguntungkan.


Kesimpulan: Belanja Online yang Lebih Cerdas

 

Studi ini memberikan gambaran yang komprehensif tentang penetapan harga di pasar online Indonesia.  Para pelaku UMKM online ternyata menerapkan strategi yang cerdas dan dinamis.  Sebagai pembeli, pengetahuan ini bisa membantu kita berbelanja online dengan lebih bijak.  Jangan terlena dengan harga murah sesaat, namun bandingkan harga dengan toko lain dan perhatikan reputasi penjual.  Manfaatkan promo dan diskon yang wajar, namun jangan lupa untuk selalu mengecek kualitas barang sebelum membeli.  Dengan pemahaman yang baik tentang strategi penetapan harga online, kita bisa menjadi pembeli yang cerdas dan memaksimalkan keuntungan kita sebagai konsumen.​

Lampiran
Kontak

Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB​​
Halaman ini terakhir diperbarui 4/29/2024 1:11 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga