BI Icon

​ ​​BI Institute

10/7/2022 12:00 AM
Hits: 8549

Inklusi Keuangan Digital Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Research

Oleh Muhammad Adisurya Pratama 

Pandemi corona virus disease (COVID-19) mengubah pola transaksi keuangan yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Antara lain: penggunaan sistem pembayaran berbasis digital dan akses layanan perbankan berbasis handphone (mobile banking). Ini lantaran penggunaan sistem pembayaran berbasis digital dianggap memiliki potensi untuk mengurangi potensi penyebaran virus COVID-19 (Allam, 2020).

Perubahan pola transaksi masyarakat juga tidak lepas dari kemajuan teknologi, seperti hadirnya telepon pintar (smartphone). Dengan teknologi terkini serta dukungan internet yang kuat semakin memudahkan pengguna untuk mengeksplorasi dunia maya.

Data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa sekitar 210 juta dari 272 juta penduduk Indonesia sudah memperoleh akses internet pada tahun 2021. Survei yang dilakukan oleh APJII menyimpulkan bahwa sebanyak 79% responden survei menggunakan internet untuk transaksi online, sedang 72% responden mengakses layanan keuangan.

Laporan  Google bersama Temasek dan Bain & Co bertajuk e-Conomy SEA 2022 terbaru tentang ekonomi digital di Asia Tenggara menunjukkan, pertumbuhan ekonomi digital terjadi di berbagai sektor. Salah satunya layanan keuangan digital.

Pergerakan layanan keuangan digital di Indonesia  menunjukkan peningkatan signifikan dan akan berlangsung dalam jangka waktu panjang termasuk pembayaran non-tunai, investasi, asuransi digital, buy now pay Later, dan transfer dana.

Pembayaran non-tunai diperkirakan akan mencapai US$ 266 miliar pada 2022, naik 13% dari tahun lalu dalam nilai transaksi bruto (gross transaction value). Bahkan, pembayaran non tunai pada tahun 2025 diprediksi tumbuh menjadi 17% menjadi US$ 421 miliar. Pembayaran non-tunai ini termasuk pemakaian kartu kredit, kartu debit, kartu prabayar, dompet elektronik, dan transfer antarrekening.

Di sektor asuransi, asuransi  digital menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat pada layanan keuangan digital dengan tumbuh tumbuh 64% secara tahunan atau year on year (YoY). Proyeksi Google, Temasek, Bain & Co , asuransi digital bisa mencapai US$ 400 juta di tahun 2022 ini. Pada 2025 mendatang  akan tumbuh US$ 1 miliar.

Layanan keuangan Buy Now, Pay Later juga  mengalami pertumbuhan yang tangguh dengan tumbuh sebesar 66% secara tahunan dengan proyeksi mencapai US$ 5 miliar pada 2022. Pada 2025, Buy Now, Play Later diperkirakan mencapai US$ 16 miliar dengan CAGR sebesar 51%.

Adapun transfer dana, selama 2022 meningkat 34% menjadi US$ 2 miliar dan diproyeksikan akan bertumbuh hingga 26% menjadi US$ 3 miliar pada tahun 2025. Data-data tersebut menunjukkan, inklusi keuangan digital tersebut memberikan ruang untuk inovasi banyak sektor, termasuk bidang keuangan dari digital banking, asuransi hingga teknologi finansial (financial technology).  Peningkatan akses masyarakat kepada berbagai produk keuangan tumbuh luar biasa.  

Pandemi COVID-19 dan perkembangan teknologi menjadi ruang  dalam peningkatan potensi inklusi keuangan digital di Indonesia.

Menurut Lyman dan Lauer (2015), inklusi keuangan digital menyediakan akses layanan formal kepada masyarakat yang belum memperoleh akses terhadap sektor keuangan dengan memanfaatkan teknologi digital, seperti smartphone.

​Laporan Bank Indonesia (2019) juga menyebutkan,  sistem pembayaran Indonesia pada tahun 2025 mendukung integrasi antara sirkulasi uang, kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan dan inklusi keuangan berbasis digital.

Lalu bagaimana pengaruh inklusi keuangan digital terhadap pertumbuhan ekonomi sebuah negara? Beberapa penulis telah mengeksplorasi bahwa inklusi keuangan digital dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi negara. Dimulai dari penelitian Khera et al. (2021) terhadap 52 negara berkembang yang menemukan bahwa inklusi keuangan digital didukung oleh akses infrastruktur, literasi keuangan dan digital, serta kualitas institusi dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi negara.  Lalu, penelitian oleh Liu (2021) menyimpulkan bahwa inklusi keuangan digital berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Cina dan akan lebih meningkat jika didukung dengan pengembangan infrastruktur internet yang lebih mumpuni.

Efek positif yang ditimbulkan oleh inklusi keuangan digital juga didukung oleh hasil penelitian Ozturk dan Ullah (2022) dengan sampel 42 negara anggota one belt road initiation (OBRI, termasuk Indonesia). Sebagai tambahan, Tay, Tai dan Tan (2022) juga menemukan bahwa negara berkembang, khususnya negara-negara Asia mendukung dan mendorong inklusi keuangan digital dalam rangka mengurangi kemiskinan.

Berdasarkan pemaparan di atas, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inklusi keuangan digital berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Kemudian, bagaimana strategi yang dapat dilakukan agar inklusi keuangan digital berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia?

Pertama, peningkatan akses masyarakat terhadap produk dan transaksi keuangan berbasis digital dengan pemanfaatan teknologi yang ada. Meningkatnya akses masyarakat terhadap produk keuangan akan membantu sektor keuangan untuk memperoleh dana. Kemudian, dana yang diperoleh dapat diputar kembali untuk membiayai sektor-sektor produktif, seperti sektor pertanian dan agraria.

Kedua, pengembangan dan pemanfaatan kemajuan teknologi untuk menciptakan inovasi dan berbagai produk keuangan. Perkembangan teknologi yang ada saat ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sebuah inovasi yang membantu masyarakat dalam mengakses sektor keuangan, seperti pengembangan digital banking dan financial technology yang terfokus pada kebutuhan konsumen, seperti pembiayaan, pembukaan rekening, dan investasi. Strategi ketiga yang dapat dilakukan adalah peningkatan edukasi dan literasi keuangan digital di masyarakat. Topik edukasi keuangan digital yang disampaikan dapat mencakup produk keuangan, metode pembayaran digital, dan tips-tips dalam mengelola keuangan rumah tangga.

Referensi

Allam, Z. (2020). The forceful reevaluation of cash-based transactions by COVID-19 and its opportunities to transition to cashless systems in digital urban networks. In Allam Z (Eds.), Surveying the Covid-19 pandemic and its implication (pp. 107-117). Amsterdam: Elsevier.

Bank Indonesia (2019). Indonesia payment system blueprint 2025 – Bank Indonesia: Navigating the national payment systems in digital era. Jakarta: Bank Indonesia.

Khera, P., Ng., S., Ogawa, S., & Sahay, R. (2021). Is digital financial inclusion unlocking growth? IMF Working Paper WP/21/167.

Liu, Y., Luan, L., Wu, W., Zhang, Z., & Hsu, Y. (2021). Can digital financial inclusion promote China's economic growth? International Review of Financial Analysis, 78, 101889. https://doi.org/10.1016/j.irfa.2021.101889

Ozturk, I., & Ullah, S. (2022). Does digital financial inclusion matter for economic growth and environmental sustainability in OBRI economies? An empirical analysis. Resources, Conservation & Recycling, 185, 106489. https://doi.org/10.1016/j.resconrec.2022.106489

Tay, L.Y., Tai, H.T., & Tan, G.S. (2022). Digital financial inclusion: A gateway to sustainable development. Heliyon, 8, e09766. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2022.e09766


Lampiran
Kontak

Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB​​​​​​


Halaman ini terakhir diperbarui 11/24/2022 5:56 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga