BI Icon

BI Institute​

8/22/2023 12:00 AM
Hits: 455

How Do Corporate Sustainability and Pandemic Affect Cash Holdings in Muslim Countries

Research

Oleh Danny Hermawan

Secara singkat, jurnal ini menjelaskan mengenai keberlanjutan suatu perusahaan dalam sektor lingkungan, sosial, hingga pemerintahan. Terutama dalam mempengaruhi kas perusahaan non-keuangan di negara-negara Muslim pada tahun 2003 hingga 2021. Melalui model Panel, ditemukan fakta bahwa perusahaan dengan tingkat ESG (Environmental, Social, and Governance) rendah justru memiliki lebih banyak kas. Dalam penelitian bahkan ditemukan mengenai hubungan negatif ESG dengan cash holding yang tidak terpengaruh sama sekali oleh pandemi, terutama bagi negara muslim seperti Malaysia dan Turki.

 

Mayoritas perusahaan pada realitanya cenderung mengabaikan Corporate Social Responsibility (CSR) dan ESG karena dianggap sebagai beban. Meskipun begitu, pasca kemunculan 17 poin SDGs, perusahaan berlomba-lomba untuk mengembangkan ESG dan meningkatkan kesadaran tentang ESG. Layaknya, negara-negara muslim yang mulai membentuk hubungan antara ESG dengan cash holding. Meskipun setiap negara memiliki perbedaan akibat pengaruh budaya yang beraneka ragam, melalui penelitian terhadap 1.600 perusahaan dari sebelas negara Muslim pada periode 2003 hingga 2021, ditemukan bahwa perusahaan dengan ESG lebih rendah menumpuk lebih banyak kas.

Perlu diketahui bahwa faktor ESG yang mencakup lingkungan dan penggunaan air, emisi karbon,  daur ulang, hingga faktor sosial meliputi hubungan perusahaan dengan masyarakat, dan faktor keamanan perusahaan terhadap pekerja merupakan bentuk kontribusi perusahaan atas tata kelola manajemen. Faktor ESG ini harus ditegakkan perusahaan karena berpengaruh terhadap investor, pemangku kepentingan, hingga pemegang saham. Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan untuk dikaji hubungannya dengan ESG adalah kas perusahaan yang merupakan bagian dari aset perusahaan. Namun, ditemukan permasalahan terkait isu cash holdings. Di mana, dalam hal ini manajer seringkali menggunakan kepemilikan kas demi kepentingan pribadi. Biasanya seorang manajer melakukan hal ini tanpa mekanisme kontrol, sehingga sumber daya bisnis disalahgunakan. Maka dari itu, dibutuhkan tata kelola yang baik atas kepemilikan kas agar aset tersebut dapat dimanfaatkan untuk menambah nilai perusahaan.

Suatu perusahaan yang berinvestasi dalam kegiatan ESG biasanya akan mengikuti perubahan lingkungan. Namun, mayoritas perusahaan ditemukan memiliki hubungan negatif dengan ESG akibat penyalahgunaan kas. Dalam kasus negara-negara muslim, dapat dilihat perbedaan melalui pengaruh agama, politik, sosial, hingga bisnis. Hal ini karena negara muslim menunjukkan tingkat individualitas yang rendah. Negara-negara muslim juga selalu berusaha mencegah dan meminimalisir ketidakpastian akan aturan, hukum, serta kebijakan. Hal ini karena budaya bisnis di negara muslim dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam, sehingga skor ESG negara muslim akan menyesuaikan dengan perbedaan budaya tersebut.

Tingkat kas terhadap ESG biasanya dipengaruhi faktor budaya seperti individualitas, antisipasi ketidakpastian, orientasi jangka panjang, hingga maskulinitas. Pengaruh budaya ini yang kemudian berdampak pada kepemilikan kas. Maka dari itu, penelitian ini berusaha mengkaji lebih lanjut pengaruh keberlanjutan ESG pada negara-negara muslim terhadap cash holding selama masa pandemic Covid-19.

Untuk membuktikan data empiris, penelitian ini menggunakan model studi dengan mengkaji keberlanjutan perusahaan muslim dengan lingkungan, sosial, pemerintah, dan skor ESG terhadap kas perusahaan. Variabel penelitian diambil dari perusahaan berdasarkan data Thomson Reuters Datastream pada periode 2003 hingga 2021, meliputi sebelas negara yaitu Bahrain, Mesir, Indonesia, Kuwait, Malaysia, Maroko, Oman, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Arab. Variabel ini dipilih melalui studi komparasi untuk membandingkan model mana yang paling cocok untuk dianalisis.

Masuk dalam hasil penelitian, dalam hubungan keberlanjutan perusahaan dan kepemilikan kas, ditemukan bahwa setiap variabel ESG memiliki hubungan negatif dengan kepemilikan kas, dalam artian bahwa perusahaan dengan nilai ESG rendah memiliki lebih banyak kas. Hal ini sesuai dengan argumentasi bahwa perusahaan yang lebih kecil dan tidak melakukan ESG cenderung memiliki nilai kas lebih tinggi. Pada periode Covid-19, ditemukan fakta bahwa dampak negatif justru kian meningkat karena motif transaksi cash holdings perusahaan kian bervariasi. Pengeluaran research and development dalam ESG nyatanya memberikan dampak signifikan terhadap pengeluaran kas selama masa pandemic Covid-19. Penelitian menjelaskan bahwa perusahaan dengan anggaran R&D tinggi justru memiliki banyak uang kas pada periode pandemi.

Lantas bagaimana keberlanjutan perusahaan pada masa pandemi terhadap cash holdings? Ditemukan bahwa perusahaan Islam di Maroko memiliki skor ESG tertinggi, dan Bahrain terendah. Turki menjadi negara dengan tingkat kas tertinggi, sedangkan Maroko berada dalam posisi terendah. Hal ini menunjukkan bahwa Maroko memiliki tingkat ESG tertinggi dengan kas terendah merupakan hal yang normal, dan sesuai dengan temuan penelitian. Diketahui bahwa perusahaan di Bahrain dan Oman justru menggunakan kepemilikan kas sebagai pengganti laporan ESG. Sedangkan, perusahaan Malaysia dan Turki menggunakan cash holding sebagai hasil dari ESG.

Pada masa pandemi, perusahaan dengan nilai ESG lebih rendah cenderung menimbun lebih banyak uang di kas. Perusahaan kecil di Mesir, Indonesia, hingga Arab cenderung memiliki lebih banyak uang tunai atau kas yang sesuai dengan motif transaksi. Di Kuwait, perusahaan dengan kepemilikan kas tinggi merupakan perusahaan yang menerapkan sistem pencegahan. Sedangkan, perusahaan dengan arus kas yang lebih rendah, serta pengeluaran lebih tinggi seperti di Indonesia, Malaysia, Turki, hingga Arab justru memiliki tingkat kas lebih rendah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Arab Saudi dengan nilai R&D rendah, cenderung memiliki lebih banyak uang tunai atau kas. Faktanya, kebanyakan perusahaan yang memiliki hubungan negatif dengan kepemilikan kas berada dalam sektor diskresioner, konsumen, kesehatan, hingga telekomunikasi.

Berdasarkan analisis Robustness (Kekokohan), ditemukan bahwa CS (Corporate Sustainability) memiliki hubungan dengan Covid-19 secara signifikan karena kebanyakan negara muslim berusaha menggunakan kepemilikan kas dalam rangka pencegahan pandemi, alih-alih dalam kegiatan ESG. Maka dari itu, dapat dikatakan juga bahwa hubungan keberlanjutan perusahaan dengan tingkat kas bergantung pada komposisi sampel maupun variabel dalam perusahaan, termasuk variabel kontrol.

​Hasilnya, penelitian menyimpulkan bahwa kebanyakan perusahaan dengan nilai ESG rendah justru menimbun lebih banyak uang kas, sesuai dengan penelitian terdahulu. Hubungan negatif ESG dengan perusahaan pun tidak berubah pada pandemi Covid-19. Nyatanya, perusahaan dengan ESG lebih tinggi di Arab memiliki lebih banyak kas, sedangkan perusahaan ESG tinggi di Malaysia dan Turki memiliki kas lebih rendah. Skor ESG pun disimpulkan memiliki hubungan negatif dengan kepemilikan kas di seluruh industri, kecuali industri energi.

 


Lampiran
Kontak

Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id

​​​​​​Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB​​​​​​​​​​​​​​​​​​


Halaman ini terakhir diperbarui 9/7/2023 4:45 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga