BI Icon

​​BI Institute​

8/15/2023 8:00 AM
Hits: 719

Central Bank Independence and Price Stability Under Alternative Political Regimes A Global Evidence

Research

Oleh Danny Hermawan

​Bank sentral yang independen memiliki peran krusial dalam mencapai stabilitas harga sebagai tujuan utama kebijakan moneter. Penelitian menunjukkan bahwa bank sentral yang terlepas dari tekanan politik memiliki kredibilitas yang lebih tinggi dalam menjalankan kebijakan moneter yang sehat, sementara bank sentral yang terikat pada pengaruh politik cenderung mengabaikan stabilitas harga.

 

Bank sentral didunia dihadapkan pada beberapa tujuan ekonomi makro termasuk keseimbangan eksternal dan pertumbuhan output, walau demikian secara  literatur disebutkan hanya stabilitas harga sebagai tujuan utama dari kebijakan moneter bank sentral. Pada sisi ini, Bank sentral yang tunduk pada pemerintah mungkin tidak memiliki komitmen yang kredibel terhadap stabilitas harga, terutama ketika pemerintah memiliki kendali atas instrumen moneter dan memutuskan untuk memprioritaskan tujuan pada kebijakan lain daripada stabilitas harga. Dalam skenario seperti ini, politisi hanya mengeksplorasi kebijakan moneter untuk menghasilkan dorongan jangka pendek dalam lapangan kerja dan output untuk tujuan elektoral sehingga merusak kredibilitas bank sentral untuk mengejar tujuan kebijakan moneter yang sehat.

Disisi lain Bank sentral yang diharapkan sepenuhnya independen, akan terisolasi dari tekanan politik, namun komitmen terhadap kebijakan moneter dapat lebih kredibel karena mampu menahan tekanan untuk membuat keputusan kebijakan jangka pendek yang berbeda dengan kebijakan jangka panjangnya. Ketika Bank Sentral terlindung dari tekanan politik, kredibilitasnya akan meningkat dan masalah ketidakkonsistenan dinamis akan berkurang dengan sendirinya. Atas dasar inilah, literatur menekankan pentingnya aturan komitmen yang dipaksakan daripada kebijaksanaan dan menekankan perlunya mendelegasikan kebijakan moneter kepada bank sentral independen.

Guna melakukan pembuktian atas fakta dan teori tersebut, peneliti mengumpulkan data tingkat inflasi tahunan dari Statistik Keuangan Internasional (IFS) dari IMF dan Indeks Independensi Bank Sentral (CBI), kriteria cypher proxy yang digunakan untuk menggambarkan atribut CEO bank, mencakup: (1) pengangkatan, pemberhentian, dan masa jabatan; (2) formulasi kebijakan bank yaitu siapa yang merumuskan dan memiliki keputusan akhir tentang kebijakan moneter; (3) peran bank sentral dalam proses anggaran, dan ; (4) tujuan dan batasan pinjaman kepada sektor publik. Skor digabungkan dalam satu indeks yang berkisar dari nol (kemandirian terendah) hingga satu (kemandirian tertinggi). Negara-negara yang dipilih diklasifikasikan menjadi 4 kelompok : otokrasi penuh, otokrasi parsial, demokrasi parsial, dan demokrasi penuh dengan dua sub sampel yaitu yaitu negara maju dan negara berkembang. Cakupan data berkisar dari tahun 1990 hingga 2012 untuk 176 negara terpilih.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa independensi bank sentral  berpengaruh negatif dan signifikan secara statistik terhadap laju inflasi di negara-negara yang menganut demokrasi penuh, tetapi tidak signifikan untuk negara-negara yang menjalankan sistem pemerintahan otokratis penuh. Bahkan setelah mengontrol peran tingkat perkembangan dan outlier, hasilnya tetap tidak berubah. Dengan kata lain, CBI berpengaruh negatif dan signifikan secara statistik terhadap tingkat inflasi negara-negara yang menjalankan sistem pemerintahan demokrasi penuh, terlepas dari apakah negara tersebut maju atau berkembang, dan terlepas dari apakah negara tersebut mencatat inflasi berjalan (merupakan outlier) atau tidak. Di sisi lain, CBI tidak berdampak signifikan terhadap tingkat inflasi negara-negara yang menjalankan sistem pemerintahan otokratis penuh terlepas dari apakah negara tersebut maju atau berkembang

Efek negatif CBI-inflasi signifikan untuk negara-negara yang menjalankan otokrasi parsial, tetapi tidak signifikan untuk negara-negara yang menjalankan demokrasi parsial. Hasil ini tampaknya menunjukkan bahwa pemerintahan yang sebagian otokratis lebih liberal dalam pengelolaan kebijakan moneter daripada pemerintahan yang sebagian demokratis. Dengan kata lain, pemerintah cenderung mempromosikan kemandirian nyata dari manajemen kebijakan moneter saat mereka bergerak dari otokrasi penuh ke otokrasi parsial dan menarik kembali kemandirian nyata manajemen kebijakan moneter saat mereka bergerak dari demokrasi penuh ke demokrasi parsial. Sehingga dapat disimpulkan bahwa CBI memiliki efek negatif dan signifikan secara statistik terhadap inflasi di negara-negara yang mengadopsi rezim otokratis parsial dan demokratis penuh; tetapi secara statistik tidak signifikan di negara-negara yang menjalankan rezim otokratis penuh dan demokrasi parsial.

 

Referensi :

Salisu, A. A. (n.d.). CENTRAL BANK INDEPENDENCE AND PRICE STABILITY UNDER ALTERNATIVE POLITICAL REGIMES: A GLOBAL EVIDENCE. Bulletin of Monetary Economics and Banking. https://bulletin.bmeb-bi.org/bmeb/vol25/iss2/2/

 


Lampiran
Kontak

Contact Center Bank Indonesia Bicara: (62 21) 131
e-mail : bicara@bi.go.id
​​​​​​Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB​​​​​​​​​​​​​​​​​​


Halaman ini terakhir diperbarui 9/7/2023 4:45 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga