
Bali – Bank Indonesia Institute telah sukses menyelenggarakan konferensi internasional The 20th Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) International Conference and Call for Papers (ICFP) 2026 dengan tema “Central Banking at the Crossroads of Fragmentation, Digital Transformation, and Systemic Risks" di Bali pada 31 Juli 2026.
Konferensi secara resmi dibuka oleh Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti dan Kepala BI Institute, Clarita Ligaya Iskandar. Sesi Plenary Session menghadirkan tiga pembicara terkemuka, yaitu Juda Agung, Ph.D. dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia, M. Ayhan Kose, Ph.D. dari World Bank Group, serta Prof. Sayuri Shirai dari Keio University dan dimoderatori oleh Prof. Paresh K. Narayan dari Asia-Pacific Applied Economics Association (APAEA).
Dalam sambutannya, Destry Damayanti menegaskan bahwa risiko global yang semakin saling terhubung serta pesatnya transformasi digital menuntut kebijakan yang adaptif, kolaborasi yang lebih kuat, serta kerangka kebijakan yang terintegrasi. Kerangka tersebut perlu didukung oleh mandat yang jelas, analisis yang kuat, koordinasi yang efektif, dan implementasi yang disiplin guna menjaga stabilitas sistem keuangan.
Konferensi ini menerima 354 makalah dari berbagai negara, dengan 42 makalah terpilih untuk dipresentasikan setelah melalui proses peer review yang ketat. Melalui penyelenggaraan konferensi ini, diharapkan BMEB dapat semakin memperkuat kontribusinya dalam pengembangan riset dan kebijakan melalui kolaborasi internasional serta diskusi berbasis bukti (evidence-based discussion).
Pada pemaparannya Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, Ph.D., menekankan bahwa di tengah tingginya ketidakpastian global, koordinasi yang efektif antara kebijakan moneter, fiskal, dan makroprudensial menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi, mendukung pertumbuhan, mengendalikan inflasi, serta memperkuat ketahanan sektor keuangan.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Sayuri Shirai membahas bagaimana digitalisasi, artificial intelligence, dan berbagai inovasi keuangan tengah mengubah lanskap uang dan pasar keuangan, yang pada gilirannya membawa implikasi terhadap kebijakan moneter, stabilitas keuangan, regulasi, dan inklusi keuangan.
Sementara itu, M. Ayhan Kose, Ph.D., menyoroti dampak guncangan global dan fragmentasi geopolitik terhadap kebijakan moneter, perdagangan, dan investasi. Ia menegaskan pentingnya pengelolaan ekonomi makro yang kuat, keberlanjutan utang, serta koordinasi kebijakan dalam menghadapi ekonomi global yang semakin terhubung.
Melalui konferensi ini, BMEB diharapkan semakin memperkuat kontribusinya dalam pengembangan riset dan kebijakan berbasis bukti, serta mendorong kolaborasi internasional guna mendukung stabilitas dan ketahanan ekonomi di tengah dinamika global yang terus berkembang.