Pengembangan Klaster Sayur di Sei Temiang, Batam - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
11 Agustus 2020

Sayuran di Pulau Batam merupakan produk yang memiliki volatilitas harga yang tinggi dan menjadi faktor penyumbang inflasi di Batam. Sementara itu, kebutuhan konsumsi sayuran masyarakat Batam mencapai 120 -140 ton/hari, yang sebagian besar (75%) didatangkan dari luar Batam.  Atas rekomendasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam,   KBI Batam dan Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan (KP2K), berinisiatif untuk mengembangkan klaster budidaya sayur di Sei Temiang Batam pada tahun 2010.

Strategi utama pengembangan klaster sayuran dilakukan dengan pembentukan dan penguatan kelembagaan dalam bentuk koperasi. Saat ini telah terbentuk Koperasi KKMB yang berfungsi sebagai perusahaan inti yang menampung hasil panen sayuran dari petani (plasma) sekaligus  memasarkan dan mendistribusikan ke pasar-pasar modern.  Koperasi juga memberikan pembinaan dan pendampingan kepada kelompok petani tentang teknis budidaya sayuran yang sesuai dengan  prosedur operasional standar dan pola tanam  yang memungkinkan ketersediaan pasokan sayur yang dibutuhkan pasar.  
Intervensi yang dilakukan dalam rangka mengembangkan klaster sayuran di Batam antara lain :

  1. Pemilihan komoditas, pertimbangan pemilihan komoditas terkait dengan komoditas yang menjadi penyumbang inflasi di kota Batam pada kelompok bahan makanan. Disamping itu keberadaan komunitas petani sayur dan ketersediaan luas lahan juga cukup potensial.
  2. Melakukan analisis Rantai Nilai (Value Chain) untuk memperoleh gambaran secara rinci mengenai aspek permintaan dan penawaran komoditas sayuran di Batam.
  3. Penggalangan komitmen dari stakeholders terkait antara lain melalui rapat koordinasi atau Focus Group Discussion (FGD)
  4. Implementasi kegiatan klaster; meliputi tahap persiapan  dengan menyusun nota kesepakatan penggunaan lahan dan pembentukan badan usaha koperasi. Kemudian dilanjutkan pada tahap pelaksanaan dengan menjalin kerjasama dengan sejumlah buyer dari pasar tradisional dan modern di Batam untuk meningkatkan akses pemasaran, melakukan pembinaan kepada petani dalam hal pola tanam dan manajemen keuangan, serta meningkatkan produktivitasnya.

Langkah awal yang telah dilakukan adalah dengan membangun modal sosial  petani melalui koperasi. Pola hubungan hubungan terbangun dengan baik antara koperasi dengan petani, dimana petani fokus kepada bagaimana melakukan budidaya sesuai dengan SOP  di bawah  bimbingan tenaga penyuluh, dan koperasi menyediakan lahan dan sarana produksi (bibit, pupuk dan pestisida) sesuai dengan siklus budidaya, serta berkewajiban membeli berbagai jenis sayuran dari petani berdasarkan harga pasar. Dalam hal ini, Koperasi akan memperoleh fee/keuntungan yang besarnya ditetapkan dengan perjanjian antara Koperasi dengan petani.
  
Disamping itu, terdapat pula dukungan dari Pemerintah Kota Batam untuk penyediaan lahan yang dapat dikelola secara permanen seluas 11 ha.  Sampai dengan akhir tahun 2011, lahan yang sudah digarap mencapai 6 ha dengan jumlah petani plasma yang terlibat sebanyak 17 orang. Selain itu  Pemprov Kepulauan Riau juga mendukung pengembangan klaster dengan penyediaan dana untuk pembuatan cold storage sehingga kualitas sayuran bisa terjaga dalam waktu yang relatif lama. Disamping itu adanya dukungan sumber dana dari perbankan untuk pembelian sarana produksi pertanian  yang diterima dan dikelola oleh Koperasi merupakan potensi yang harus dikelola dengan optimal. Koperasi  bekerjasama dengan bank-bank untuk menyalurkan kredit program seperti Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

Saat ini  Koperasi memiliki lahan garapan untuk klaster sayuran seluas 11 ha,  sebagai hasil MOU antara Pemerintah Kota Batam dengan Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan.  Pada awal pembentukan klaster jumlah petani yang terlibat  sebanyak 7 orang yang menggarap lahan seluas 3 Ha, sampai dengan akhir tahun 2011, lahan yang sudah digarap sebanyak 6 Ha yang dikelola oleh 17 petani. Kelompok petani anggota koperasi memperoleh bagi hasil dari penjualan hasil panen sebesar Rp128 ribu/hari/petani atau sebesar Rp3,84 juta/bulan/petani, ini merupakan pendapatan yang cukup menjanjikan bagi petani yang selama ini pendapatannya relatif kecil. Disamping itu, koperasi juga sudah menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai pasar modern seperti Carrefour Harbour Bay, Carrefour Kepri Mall, JC Super Market BCS Mal dan Hypermart. Jenis sayuran yang dipasok ke pasar modern antara lain kangkung, bayam hijau, bayam merah, daun bawang, caysim, pakchoy, sawi, selada keriting, kailan dan daun sop, sedangkan untuk pasar tradisional sayuran yang dipasok sekitar 27 jenis sayuran. Ke depan koperasi akan mengembangkan  wilayah lain di Kepulauan Riau yang memiliki potensi  besar dan mengalami kelebihan produksi seperti Bintan dan Karimun.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel