Pola Pembiayaan Perkebunan Karet Rakyat - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
05 Juli 2020

Karet merupakan komoditas ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 788.292 ton pada tahun 1975 meningkat menjadi 987.771 ton pada tahun 1985 dan menjadi 1.324.295 ton pada tahun 1995. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 1995 mencapai US$ 1.962,8 juta yang merupakan 5,6% dari pendapatan devisa non-migas.

Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Jawa. Luas area perkebunan karet tahun 1995 tercatat mencapai lebih dari 3.945.901 ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 84,5% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7,1% perkebunan besar negara serta 8,4% perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun 1977 mencapai angka sekitar 1.548.609 ton. Jumlah ini terlihat masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani yang sesuai untuk perkebunan karet dan belum dimanfaatkan secara intensif, untuk keperluan meningkatkan pendapatannya.

Dengan memperhatikan masih akan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel