Pola Pembiayaan Produksi Jambu Mete - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
28 Januari 2020

Sektor pertanian cukup strategis dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Selama sepuluh tahun terakhir, peranan sektor ini terhadap PDB menujukkan pertumbuhan yang cukup baik, yaitu rata-rata 4% per tahun. Selain dituntut mampu menciptakan swasembada pangan, sektor ini diharapkan mampu menyediakan lapangan dan kesempatan kerja serta pengadaan bahan baku bagi industri hasil pertanian. Sektor ini juga dituntut untuk meningkatkan perolehan devisa negara dengan jalan meningkatkan volume dan nilai ekspor hasil pertanian.

Salah satu sub sektor di sektor pertanian adalah sub sektor perkebunan. Sub sektor ini semakin penting dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian nasional, mengingat makin terbatasnya peranan minyak bumi yang selama ini merupakan sumber utama devisa negara. Dalam tahun 1994/1995 sub sektor perkebunan menyumbang sekitar 12,7% dari perolehan devisa yang dihasilkan dari sektor non-migas.

Keunggulan komparatif sub sektor perkebunan dibandingkan dengan sub sektor lain dalam sektor non migas lainnya antara lain disebabkan tersedianya lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal dan berada di kawasan dengan iklim menunjang, serta ketersediaan tenaga kerja, sehingga bisa secara kompetitif dimanfaatkan. Kondisi tersebut merupakan hal yang dapat memperkuat daya saing harga produk perkebunan Indonesia di pasaran dunia.

Salah satu komoditas perkebunan yang cukup penting dalam menyumbang perolehan devisa negara adalah biji jambu mente (cashew nut). Pada tahun 1997, ekspor biji jambu mente dari Indonesia telah mencapai 29.666 ton dengan nilai US$ 19.152.000. Adapun luas areal tanaman jambu mente di Indonesia sekitar 499.279 ha dengan produksi 76.656 ton pertahun.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel