Pola Pembiayaan Usaha Kecil Budidaya Buah Manggis - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 Januari 2020

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL: USAHA BUDIDAYA MANGGIS

Manggis merupakan buah eksotis yang saat ini berperan menjadi andalan ekspor nasional. Saat ini buah manggis menempati urutan pertama sebagai komoditas ekspor nasional untuk kelompok buah segar. Dalam lima tahun terakhir (2007-2011) ekspor manggis nasional meningkat dengan laju pertumbuhan 9%. Selain dimanfaatkan sebagai buah segar, manggis dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan seperti juice, dodol, zat pewarna, dan food supplement (anti oksidan) untuk meningkatkan kesehatan.

Saat ini sebagian besar manggis yang diperdagangkan dalam negeri maupun ekspor berasal dari “hutan manggis”. Pada sistem produksi ini, pohon manggis yang ada telah berumur tua dan tidak dikelola dengan optimal sehingga menghasilkan buah dengan kualitas rendah. Pengembangan kebun manggis yang tertata baik di masyarakat baru berjalan sekitar 10-15 dengan dua pendekatan, yaitu melalui penanaman baru dan pengelolaan “hutan manggis” menjadi “kebun manggis”. Budidaya manggis merupakan suatu kegiatan usaha yang memiliki prospek yang baik dan layak untuk dikembangkan ditinjau dari aspek pasar, aspek teknis dan aspek finansial.

Prospek pangsa pasar dunia untuk manggis masih sangat terbuka. Permintaan terhadap manggis terus meningkat, baik sebagai buah segar maupun sebagai bahan baku industri. Jumlah negara produsen juga hanya sedikit. Saingan utama Indonesia di pasar manggis internasional hanya Thailand. Namun demikian, waktu panen manggis yang berbeda antara Indonesia dan Thailand merupakan salah satu keunggulan komparatif dan peluang yang sangat baik untuk meningkatkan ekspor manggis nasional.

Secara teknis, budidaya manggis sangat layak untuk dikembangkan. Tanaman manggis memiliki daya adaptasi yang luas, sehingga tidak memerlukan agroklimat yang spesifik dapat dikembangkan pada berbagai daerah. Sarana dan prasarana pendukung tersedia dan mudah diperoleh. Teknologi budidaya yang diperlukan (mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan panen) masih relatif sederhana dan aplikatif pada tingkat petani. Teknologi dan sarana pasca panen seperti packing house dan mobil box berpendingin (refrigerator container) juga tersedia pada tingkat kelompok tani atau eksportir.

Analisis kelayakan usaha memperlihatkan bahwa usaha budidaya manggis masih dinilai layak untuk dikembangkan dengan NPV Rp16.111.518,- dan IRR 16,24% dengan suku bunga pinjaman sebesar 14%. Dengan asumsi yang dibuat, maka usaha ini akan mampu mengembalikan seluruh modal usaha pada tahun ke-9 dengan net B/C Ratio sebesar 1,15 kali. Usaha ini dinilai memiliki sensitivitas lebih tinggi pada skenario penurunan pendapatan (7%), jika dibandingkan dengan skenario kenaikan biaya variabel (13%).

Beberapa tantangan yang dihadapi dalam usaha budidaya manggis adalah waktu produksi bersifat musiman, masa belum menghasilkan (masa juvenile) yang panjang, rendahnya kualitas buah yang dihasilkan akibat serangan hama dan penyakit, serta anomali iklim yang mempengaruhi produksi tanaman. Karakter tanaman manggis dengan masa juvenile yang panjang menyebabkan pengembalian modal menjadi lama yang berdampak pada rendahnya minat lembaga keuangan untuk memberikan bantuan pendanaan pada investasi usaha budidaya manggis.

Program pembiayaan yang ada saat ini lebih diarahkan untuk penguatan produksi dalam bentuk pembiayaan modal kerja yang dibutuhkan oleh pelaku usaha, seperti pemeliharaan tanaman yang akan meningkatkan produktivitas maupun kualitas serta dana talangan panen yang dapat mengurangi praktek ijon. Untuk meningkatkan investasi pada usaha budidaya manggis, diperlukan skim dan model pembiayaan khusus yang bersifat jangka panjang dalam budidaya manggis sehingga produktivitas dan kualitas manggis nasional akan meningkat dan dapat bersaing lebih baik di pasar internasional.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel