Pola Pembiayaan Usaha Kecil: Pembenihan Ikan Nila​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Januari 2020
Pola Pembiayaan Usaha Kecil: Pembenihan Ikan Nila

Ikan Nila merupakan salah satu komoditi penting perikanan budidaya air tawar di Indonesia. Budidaya ikan Nila disukai karena ikan Nila mudah dipelihara, laju pertumbuhan dan perkembangbiakannya cepat, serta tahan terhadap gangguan hama dan penyakit. Selain dipelihara di kolam biasa seperti yang umum dilakukan, ikan Nila juga dapat dibudidayakan di media lain seperti kolam air deras, kantong jaring apung, karamba, dan sawah. Ikan Nila selain untuk konsumsi lokal juga merupakan komoditas ekspor terutama ke Amerika Serikat dalam bentuk fillet (daging tanpa tulang dan kulit) sehingga menjadi komoditi unggulan di beberapa daerah.

Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam bisnis budidaya ikan Nila adalah kontinuitas ketersediaan benih Nila, hal ini karena pelaku yang menggeluti segmen bisnis pembenihan Nila masih sangat sedikit. Padahal dari sisi keuangan, bisnis budidaya pembenihan tidak kalah menarik dibanding bisnis ikan Nila pada segmen pembesaran. Dengan latar belakang peluang yang masih sangat terbuka tersebut maka disusunlah buku lending model Pembenihan Ikan Nila ini.

Usaha pembenihan ikan Nila yang dijadikan acuan dalam penyusunan lending model ini adalah usaha pembenihan dengan menggunakan metode “sapih benih”, dengan mengacu pada praktik teknis pembenihan yang lazim dilakukan para pembenih di kawasan minapolitan ikan Nila Kalungharjo Kabupaten Klaten maupun yang dilakukan di PT. Aquafarm Nusantara di Klaten.

Skala usaha yang dijadikan dasar asumsi adalah usaha pembenihan menggunakan skala 3 paket induk @ 400 ekor (300 induk betina dan 100 induk jantan) yang dipijahkan secara bergantian sedemikian rupa sehingga nantinya dapat secara rutin menjual anak/benih ikan ukuran 8-12 cm setiap 2 minggu sekali. Kolam menggunakan jenis semi permanen, pengadaan lahan untuk kolam ditempuh dengan sistem bagi hasil dari laba bersih akhir setelah pajak dengan proporsi 60% pengusaha dan 40% pemilik lahan/kolam. Untuk pengusaha, sumber permodalan menggunakan gabungan antara modal sendiri dan modal bank dengan proporsi 34% modal sendiri dan 66% menggunakan modal bank dengan tingkat bunga 13% menurun per tahun (mengacu bunga KUR ritel).

Dari hasil penyusunan penelitian lending model tersebut, diperoleh informasi bahwa usaha pembenihan ikan Nila ini mampu memberikan keuntungan bagi pengusahanya (net profit margin) sebesar rata-rata 17% dari penjualan. NPV usaha (discounted factor 18%) positif Rp271.866.392,00, IRR masih di atas suku bunga kredit yaitu mencapai 38,4%, serta net BC ratio di atas 1 yaitu sebesar 1,9, dan usaha masih layak hingga batas naiknya pengeluaran atau turunnya pendapatan hingga 7%. Dengan demikian, usaha pembenihan ikan Nila dapat menjadi pasar kredit perbankan karena usaha tersebut mampu mencetak laba yang cukup baik untuk memberikan keuntungan kepada pengusaha maupun untuk membayar bunga kredit.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel